
"Perbedaan usia kalian yang terlalu jauh, semoga tidak menjadi penghalang dalam hubungan pernikahan kalian. Chiara anak yang baik dan selalu membawa aura positif dan ceria bagi orang-orang di sekitarnya. Akan tetapi... mau tidak mau, dengan sikap ceroboh Chiara dan sikap ceria juga kekanak-kanakannya, yang begitu bertolak belakang dengan sifatmu, mungkin itu bisa menjadi masalah dalam pernikahan kalian." Sarah berkata sambil memandang ke arah Aaron yang wajahnya terlihat datar, tanpa ekspresi.
"Aku tidak pernah keberatan dengan apapun yang dilakukan dan juga sifat Chiara. Aku akan menjadi orang pertama yang akan selalu mendukungnya, karena dia istriku. Dan sejak aku memilihnya menjadi istriku, sudah menjadi kewajibanku untuk menjaga dan melindunginya, termasuk menerima semua kelebihan dan kekurangannya." Kata-kata Aaron membuat Sarah tersenyum.
Bagi Sarah, Aaron adalah orang yang selalu memegang teguh janjinya, sehingga jika dia sudah mengucapkan hal seperti itu dengan bibirnya, Sarah yakin, dia akan berusaha keras untuk mewujudkannya.
"Iya Aaron, aku hanya merasa khawatir, perbedaan usia dan sifat kalian membuat kehidupan pernikahan kalian tidak bahagia." Sarah berkata sambil menghela nafasnya.
Sejujurnya Sarah tidak ingin mengeluarkan isi hatinya yang seperti itu kepada Aaron, tapi dia ingin memastikan semua baik-baik saja, baik untuk Aaron dan Chiara, karena untuk saat ini, baik Aaron maupun Chiara, Sarah sama-sama menyayangi keduanya.
Belum lagi, sejak kehadiran Chiara di tengah-tengah keluarga Malverich, baik Grayson, maupun Johnson terlihat juga menyayangi Chiara yang mampu membawa suasana hangat diantara mereka.
Dan itu membuat Sarah tidak ingin ada masalah antara Aaron dan Chiara yang pada akhirnya berujung pada perpisahan.
"Mama tidak perlu khawatir, kondisi pernikahanku dengan Chiara baik-baik saja." Aaron berkata sambil melirik ke arah kamar mandi, dimana baru saja dia mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka, dan itu artinya Chiara pasti sudah selesai dengan prosesi mandinya.
Begitu melihat ke arah Chiara yang keluar dari kamar mandi, mata Aaron sedikit mengernyit, dengan dada yang berdegup kencang seketika, membuatnya menahan nafas karena Chiara yang dengan percaya dirinya keluar dari kamar mandi, berlari-lari kecil ke arah walk in closet yang ada di kamar itu, hanya dengan selembar handuk yang menutupi tubuhnya.
Jarak antara pintu kamar mandi dan tempat Aaron dan Sarah sekarang sedang berdiri, memang cukup jauh. Tapi karena kemampuan super yang dimiliki mata Aaron, otomatis dia bisa melihat dengan detail sosok Chiara dengan kulit putih mulusnya yang sedikit terekspos.
Karena handuk yang melilit di tubuh Chiara, hanya mampu menutupi tubuh bagian atas Chiara sebatas ketiak, dan bagian bawah hanya tertutup 10 cm di atas lutut, benar-benar pemandangan sempurna yang menunjukkan bagaimana indahnya lekukan tubuh Chiara sebagai seorang gadis yang sedang beranjak desasa.
Aaron bisa melihat dengan detail, termasuk tetesan air yang masih sedikit tersisa, yang jatuh membasahi kening, leher dan tengkuk Chiara yang terlihat jelas karena Chiara sengaja menggelung rambut panjangnya membentuk cepol sederhana setiap dia mandi, membuat tampilan Chiara saat ini begitu menggoda bagi laki-laki normal seperti Aaron.
Selain itu, ada juga air yang terlihat mengalir, masuk ke celah-celah handuk yang hanya sebatas dada itu, terlihat begitu jelas bagi mata tajam Aaron, membuat Aaron hampir menelan ludahnya dengan kasar di depan Sarah.
Kalau setiap harinya aku harus mendapatkan pemandangan seperti itu dari Chiara? Kira-kira sampai kapan aku kuat menahan diriku? Sepertinya aku harus pelan-pelan memberitahukan pada Chiara kalau tindakannya itu sungguh berbahaya bagi kami berdua.
Aaron berkata dalam hati sambil buru-buru mengalihkan pandangan matanya dari sosok Chiara, meskipun jika boleh jujur, matanya masih begitu ingin menikmati keindahan yang tersaji di depannya, yang membuat jiwa laki-lakinya meronta di dalam sana.
"Eh, Ma, sebaiknya kita tunggu Chiara selesai berdandan di meja makan." Aaron segera mengajak Sarah untuk kelua dari kamarnya, sebelum Sarah melihat Aaron yang hampir saja mengibas-kibaskan tangannya untuk mengusir rasa gerah yang tiba-tiba datang menyerangnya.
"Oke, supaya kamu juga bisa mengobrol dengan papamu. Kalian lama sekali tidak saling berkomunikasi." Sarah yang tidak melihat gejolak yang sedang terjadi di dalam diri Aaron, justru merasa senang dengan penawaran Aaron yang mengajaknya untuk segera ke ruang makan, dan menemui Johnson yang sudah berada di sana terlebih dahulu tadi.
Sedangkan Chiara, pelaku utama dari kegundahan hati Aaron, tampak santai sambil bernyanyi-nyanyi, sembari tangan dan matanya memilih pakaian yang akan dia kenakan hari ini.
Bahkan ketika melihat bagaimana cd dan bra miliknya yang sudah tersusun rapi di dalam lemari, Chiara justru tersenyum bahagia tanpa membayangkan bagaimana semalam perjuangan Aaron membawa benda-benda wasiat yang betul-betul membuat Aaron mati kutu.
Wah... om Aaron benar-benar memindahkan banyak barang milikku ke kamar ini. Meski belum semuanya, barang-barang yang dipindahkan oleh om Aaron cukup banyak. Kira-kira sampai jam berapa om Aaron mengerjakan semua ini? Kasihan sekali om Aaron, pasti semalam om Aaron kurang tidur karena membantuku memindahkan barang.
Chiara berkata dalam hati sambil melihat-lihat banyaknya pakaian miliknya yang sudah berpindah ke lemari di walk in closet di kamar Aaron.
# # # # # # # #
“Selamat pagi Pa. Wah… keren juga Papa dengan pakaian barunya. Jadi kelihatan lebih muda 10 tahun lho.” Johnson yang menerima sapaan sekaligus pujian dari Chiara yang baru saja datang ke ruang makan, langsung tersenyum sambil mengacungkan jempol tangan kanannya ke arah Chiara.
Tindakan Johnson membuat Sarah tersenyum lebar, sedang Aaron hanya terdiam sambil sedikit mengerutkan keningnya.
Selama ini, yang Aaron tahu, Johnson merupakan seorang papa yang seringkali bersikap dingin pada anak-anaknya, dan juga jarang tersenyum, apalagi bersikap akrab seperti yang ditunjukkan Johnson kepada Chiara.
Mengacungkan jempol kepada orang lain? Seumur hidup Aaron, dari dia masih masa kanak-kanak hingga usianya yang sudah 30 tahun sekarang, belum pernah sekalipun Aaron melihat papanya melakukan hal seperti itu.
“Papamu suka sekali dengan t shirt yang dibelikan Chiara ketika dia mengikuti study tour di Jawa Tengah sebelum perpisahan SMAnya waktu itu. Hampir setiap selesai dicuci, pasti akan dipakainya lagi t shirt itu. Kalau orang lain tahu, bisa-bisa mereka berpikir seorang Johnson Malverich tidak punya t shirt lain.” Sarah ayng melihat wajah Aaron yang terlihat bertanya-tanya, langsung menjelaskan tentang pakaian Johnson yang dipuji oleh Chiara barusan.
(Study tour merupakan program pembelajaran siswa dengan cara turun langsung ke lapangan, dengan tujuan melihat dan mengamati lingkup yang dikaji sehingga otomatis akan timbul perasaan ingin tahu siswa dan keinginan siswa untuk lebih banyak bertanya sebab suatu hal yang belum mampu mereka ketahui sebelumnya.
Selain libur panjang, study tour adalah hal menyenangkan yang ditunggu banyak murid sekolah. Lewat study tour, para murid dan guru dapat merasakan liburan sambil belajar dan menggali ilmu tambahan yang tidak didapat lewat pelajaran di dalam kelas).
“Kalau aku tahu papa akan begitu menyukai t shirt itu, aku akan membelikan selusin untuk papa.” Perkataan Chiara membuat Johnson tertawa, dan lagi-lagi hal itu membuat Aaron merasa heran, melihat bagaimana sikap Johnson yang terlihat hangat saat ada Chiara di dekatnya.
Pantas saja mama begitu menyukai dan menyayangimu, ternyata, kamu bahkan bisa membuat seorang Johnson Malverich tertawa lepas seperti itu. Seorang Johnson Malverich yang dikenal dingin dan tidak mudah bersikap hangat pada orang lain.
Aaron berkata dalam hati, dan tanpa sadar, ikut menyungingkan senyum tipis di bibirnya, melihat keakraban antara Johnson dan Chiara, padahal setahu Aaron, Johnson adalah orang yang cukup sulit untuk didekati.