
Peringatan....!!! Episode ini adalah area 21+. Mohon bijak dalam memilih bacaan. Untuk pembaca yang masih di bawah umur, harap skip episode ini, agar tidak merusak pikiran kalian. Happy reading guys.
Mau tidak mau, Aaron yang melihat kondisi Chiara dengan lingerie di tubuhnya, langsung terdiam dengan mata menatap lurus ke arah Chiara tanpa berkedip sedikitpun, seolah matanya tidak mau mendengarkan perintah otaknya, tetap pada keinginannya memandang lurus ke arah depan, dengan wajah tidak ada niatan sama sekali untuk berpaling.
Bahkan handuk yang awalnya dibuat oleh Aaron untuk mengeringkan rambutnya, terlepas begitu saja dari tangan Aaron dan jatuh ke lantai.
Meskipun Aaron sengaja memilih lingerie berwarna putih untuk Chiara agar tidak mencolok, akan tetapi, kulit putih mulus Chiara, dipadukan dengan pakaian dalamnya yang berwarna krem, membuat lekuk tubuh dan keindahan tubuh Chiara justru terlihat menonjol dan terlihat begitu sempurna bagi Aaron.
Meski hidup lama di Amerika, boleh dibilang Aaron tidak pernah tertarik dengan kehidupan malam, dan juga blue film yang sejak dia masih remaja, teman-teman seusianya bahkan banyak yang sudah menjadi pecandu blue film itu.
(Sebenarnya istilah blue film diambil dari istilah blue law, yaitu hukum yang diterapkan oleh kaum puritan (kaum agama beraliran keras) di beberapa negara bagian Amerika. Blue law diberlakukan bagi orang-orang yang melakukan hal-hal yang bertentangan dengan agama, seperti mengkonsumsi monuman beralkohol, mengkonsumsi narkoba dan hubungan suami istri tanpa ikatan pernikahan.
Hukum ini sendiri diberlakukan sejak abad 17 oleh Reverend Samuel Peters (1735-1826). Dasar bhukumnya dituangkan dalam buku berjudul General History of Connecticut. Reverend Peters menggunakan istilah blue karena sebuah versi mengatakan saat buku dirilis, sampul bukunya menggunakan warna biru).
Bagi Aaron, bukannya munafik, dia mengerti betul tentang apa yang dilakukan antara pria dan wanita di atas ranjang dengan membaca atau mendapatkan info dari berbagai sumber, bahkan gambar-gambar atau foto, tapi dia sendiri belum pernah melakukan hal seperti sama sekali bersama seorang perempuan.
Apalagi bagi Aaron, satu-satunya gadis yang bisa membuat hasratnya terbangun hanyalah Chiara Indarto seorang.
Tanpa disadari oleh Aaron, karena rasa kaget dan tidak percaya yang sedang menguasainya saat ini karena apa yang dilihatnya sekarang, beberapa kali Aaron tampak menelan ludahnya dengan susah payah.
Aliran darah di tubuhnya tiba-tiba mengalir dengan begitu capet, membuat detakan jantungnya menjadi sangat kencang, dan nafasnya berubah sedikit memburu.
Otot-otot di tubuh Aaron langsung menegang begitu melihat apa yang tersaji di depannya saat ini, meskipun Chiara dengan cepat berusaha menutupi kedua bukit kembarnya yang terlihat menonjol di balik bra yang dikenakannya, yang tidak bisa menyembunyikan keindahan yang tersimpan di baliknya.
Bahkan wajah Aaron saat ini tampak jauh lebih memerah dibandingkan dengan wajah Chiara yang juga memerah karena menahan malunya.
“Eh… ma…maaf Om Aaron….” Dengan suara terdengar begitu gugup, Chiara menunduk, berniat mengambil celana boxer milik Aaron yang melorot dan jatuh di lantai tadi.
Chiara melakukan hal itu tanpa menyadari kalau posisi tubuhnya yang membungkuk di depan Aaron justru menunjukkan kedua bukit kembarnya yang menggantung semakin terlihat jelas mengintip dari balik bra yang dikenakannya.
Apalagi lingerie berwarna putih yang dikenakannya benar-benar menerawang dan ikut terbuka di bagian dadanya akibat Chiara yang membungkukkan tubuhnya.
“Chiara….” Chiara langsung tersentak kaget begitu menyadari kalau Aaron tiba-tiba sudah berada tepat di depannya, sedang menundukkan kepalanya, memandang ke arah tubuh Chiara dengan pandangan mata yang terlihat penuh dengan kabut gairah yang sudah begitu lama dia tahan dengan baik.
Melihat keberadaan Aaron tepat di depannya, Chiara dengan ragu, kembali menegakkan tubuhnya, tanpa sempat mengambil boxer yang rencananya akan dikenakannya kembali.
“Eh.... Ya… Om… Aaron….” Dengan suara terbata-bata, Chiara berkata sambil menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi kedua asset berharganya berupa gunung kembar yang ada di dadanya, yang selama ini begitu dia jaga dengan baik dan tidak pernah dilihat oleh orang lain, apalagi seorang pria.
Tapi siapa sangka, dengan gerakan lembut, kedua tangan Aaron justru meraih kedua tangan Chiara itu, dan menyingkirkannya dari dadanya.
Dan entah sihir apa yang sedang menguasainya, bau harum tubuh Aaron setelah mandi, tatapan mata ambernya yang sedang memandangnya dengan begitu lembut tapi juga penuh dengan gairah, juga gerakan tangan Aaron yang tiba-tiba saja sudah memeluk tubuhnya, dan membiarkan kedua gunung kembarnya menempel di dada Aaron, membuat Chiara diam seribu bahasa.
Tubuh Chiara tidak bergeming sama sekali, seperti seekor kerbau yang sedang dicucuk hidungnya, tanpa adanya penolakan sedikitpun Chiara membiarkan Aaron melihat bagian tubuhnya yang selama ini selalu dia tutup rapat-rapat di depan orang lain.
Meskipun Chiara tahu, kalau tindakan Aaron membuat asset pribadinya jadi terlihat oleh Aaron dengan lebih jelas, walaupun masih tertutup oleh bra.
Bahkan beberapa kali, Chiara justru menarik nafas dalam-dalam untuk menikmati keberadaan Aaron yang saat ini begitu dekat dengannya, bahkan tanpa disadari oleh Chiara, hidung mancung Aaron sudah berada di lehernya, dan mulai menciumi leher jenjang itu dengan penuh kelembutan, dan kedua tangan Aaron yang berada di punggung Chiara, sibuk mengelus-elus tubuh yang menggunakan lingerie yang bagi Aaron meskipun berwarna putih, membuat tubuh Chiara justru terlihat sangat sekkk…ksi di mata Aaron.