
Zachary yang semalam memang menghabiskan banyak waktu bersama Anna untuk menikmati indahnya surga dunia, mau tidak mau hanya bisa meringis mendengar pertanyaan polos dari Lila itu.
“Eh, proses terbentuknya adik buat Lila tidan bisa secepat itu sayang….” Zachary berusaha menjelaskan pada Lila dengan bahasa yang bisa dimengerti oleh Lila yang masih begitu kecil.
“Kenapa Pa? Apa tidak bisa dipercepat prosesnya?” Pertanyaan Lila membuat Anna tidak bisa menahan tawanya.
“Membuat adik buat Lila tidak seperti membuat roti bolu kesukaan Lila, yang sekali dibuat oleh mama langsung jadi karena mama sudah punya resep yang terbaik.” Anna berkata sambil menoel hidung mancung Lila yang diturunkan dari Zachary dengan gemas.
“Oooo, jadi harus dibuat secara berulang-ulang ya Ma. Kalau begitu sekarang Papa dan Mama buat adik lagi buat Lila , biar cepat jadi adiknya.” Tanggapan polos dari Lila membuat Zachary dan Anna langsung saling berpandangan untuk kemudian tertawa tergelak karena pikiran polos Lila, yang menganggap membuat adik untuknya seperti membuat roti bolu.
“Ayo Ma, bilang pada Papa untuk membuatnya sekarang, Lila tidak akan mengganggu Papa dan Mama.” Lila berkata sambil memerosotkan tubuhnya, turun dari gendongan Zachary.
“Lalu… Lila akan kemana sekarang?” Anna yang membantu Lila turun dari gendongan Zachary.
“Lila mau menemui kak Chiara. Lila mau bermain dengan kak Chiara….” Kali ini mata Zachary dan Anna sama-sama terbeliak mendengar apa yang sedang direncanakan oleh Lila.
“Eh, Lila…. Jangan kesana. Papa dan mama akan menemani Lila bermain.” Zachary buru-buru berkata kepada Lila.
“Tapi Pa, Lila dan kak Chiara sudah….”
“Jangan sekarang Lila, kan masih banyak waktu untuk bermain bersama kak
Chiara. Kita main bertiga duu ya.” Anna buru-buru menambahkan perkataan Zachary.
“Ma, Lila mau….”
“Mama akan ambilkan es krim milik Lila yang kita bawa kemarin, bagaimana?” Anna langsung memotong perkataan Lila, berusaha sebisa mungkin untuk mencegah Lila untuk mencari Chiara.
“Ek krim? Mau…. Lila mau….” Lila langsung berkata sambil menggandeng tangan Anna, mengajaknya untuk mengambil es krim.
Dan Zachary yakin, kalau sampai ada yang berani mengganggu mereka, bisa dipastikan kalau Aaron akan benar-benar tidak terima dan marah, dan mungkin bukan hanya Aaron, tapi Sarahpun akan ikut marah.
# # # # # # #
“Ma… ayolah… kita beli semua barang-barang ini. Setelah Richard kembali dari Jerman, dia akan langsung menggantinya. Lagipula, hanya uang muka 20%. Pihak toko tidak meminta pembayaran penuh.” Rengekan dari Revina membuat Mona menarik nafas panjang.
Memang Richard berjanji akan mengganti semua biaya yang keluar untuk keperluannya dan Revina, termasuk uang muka pembelian apartemen mewah beberapa waktu lalu, meskipun sampai saat ini Richard belum menggantinya dengan alasan menunggu dia pulang baru dia akan mengurusnya.
Dan Richard beralasan bahwa dia sekalian menunggu info semua biaya pernikahan dan semua kebutuhan Revina yang lain yang harus dia tanggung.
Setelah Revina berhasil merayu Mona untuk meminjamkan uang untuk untuk membayar uang muka apartemen yang akan ditempati oleh Revina dan Richard setelah menikah, untuk membuat orang lain terkesan, Revina sengaja melakukan hunting perabot-perabot mewah untuk mengisi semua ruangan yang ada di apartemen itu, setelah Richard mengatakan kepada Revina kalau dia bebas untuk membeli apapun sesuai dengan yang diinginkannya.
Dan yang pasti, seorang Revina tidak akan mungkin mau memilih barang-barang sederhana, apalagi murahan, untuk menjaga imagenya di depan para kenalan dan saudaranya, terutama dari Chiara, yang setelah menikah dengan Aaron, terus saja membuatnya cemburu.
Meskipun tidak sulit untuk mendapatkan barang-barang dan perabotan mewah seperti yang ada di apartemen Chiara, paling tidak Revina berharap dia ingin membeli barang-barang yang tetap masuk dalam kategori mewah dan tidak sanggup dibeli oleh orang awam.
“Kenapa kamu tidak menunggu Richard kembali? Agar dia bisa membayar semuanya? Uang pinjaman untuk membayar 30% dari harga beli apartemen saja belum dikembalikan oleh Richard.” Mona berkata sambil berusaha mengalihkan pandangan matanya dari sofa mewah yang sedang diincar oleh Revina untuk dibeli.
Mona yang tadi sempat mencoba untuk duduk di sana tadi, tahu kalau sofa itu memang benar-benar nyaman, dan membuat orang yang menikmatinya langsung tahu kalau itu bukanlah barang murahan.
“Ma…. Beberapa hari lagi teman-temanku yang sekarang tinggal di luar negeri ada yang akan berkunjung untuk menemuiku, sebelum pesta perbikahan berlangsng. Aku ingin menerima mereka di apartemen ku yang baru. Jadi tidak mungkin kan, aku membiarkan apartemenku yang mewah terlihat kosong tanpa pebat” Revina berkata sambil menghela nafas panjangnya, dan mengelus-elus perutnya, sengaja untuk menarik simpati mamanya.
Mencoba mengingatkan dengan cara halus kepada Mona, kalau saat ini dia sedang hamil, dan Mona harus sedikit banyak perduli pada keinginannya yang mungkin saja itu adalah keinginan si jabang bayi.
“Dan tidak mungkin kalau aku hanya membeli perabot murahan dan biasa-biasa saja untuk apartemenku. Apa kata orang kalau aku melakukan hal memalukan seperti itu. Padahal aku sudah mengumumkan kepada mereka kalau aku akan menikah dengan juragan pertambangan.” Revina berkata sambil mengelus-elus dan menepuk-nepuk sofa mewah yang sedang diincarnya itu.