
“Gugurkan sekarang juga!” Mona berkata sambil mengarahkan tangannya ke perut Revina, namun dengan cepat Chiara menggerakkan tubuhnya, sehingga tubuhnya meringkuk di atas tubuh Revina, dengan punggung menghadap ke arah Mona yang semakin telihat emosi begitu melihat Chiara yang berniat menghalangi tindakannya, sehingga dianggap sebagai tindakan yang kurang ajar kepada Mona.
“Chiara! Menyingkir! Atau aku juga akan menghajarmu!” Mona yang sudah gelap mata berteriak histeris sambil mengambil apapun yang bisa dia raih dari meja di samping Mona, sebuah termos berisi air panas yang hendak dipakainya untuk memukul punggung Chiara.
“Dasar anak tidak tahu diri!” Mona yang sudah mengangkat termos itu dan bersiap emmukul punggung Chiara langsung tersentak kaget dan menoleh dengan mata melotot, saat menyadari sebuah tangan dengan tenaga yang cukup kuat, menahan tangannya sehingga tidak dapat bergerak lagi.
Mona sudah hampir memaki siapapun yang sudah berani menahannya untuk memukul punggung Chiara, tapi lidah Mona tiba-tiba terasa kelu dan pelototan mata dari Mona langsung menghilang, begitu melihat sosok Aaron yang berdiri tepat di sampingnya dan salah satu tangannya sedang menahan gerakan tangan Mona yang memegang termos itu.
Mata Mona yang tadi terbeliak karena begitu emosi kepada Chiara maupun bayi dalam kandungan Revina, sekarang terbeliak kaget karena yang sudah menahan tangannya adalah Aaron.
Meski Aaron tidak memperlihatkan wajah marah, tetap berwajah datar tanpa emosi, sikap yang begitu tenang… tapi bagi Mona sudah cukup membuatnya kaget dan takut, sekingga tubunya melamah, sehingga mundur ke belakang dua langkah, dengan Aaron yang langsung melepaskan pegangan tangannya ke tangan Mona begitu melihat Mona menjauh dari sisi ranjang rumah sakit tempat Revina masih terbaring.
Mona benar-benar tidak menyangka dengan kehadiran Aaron, karena sejak tadi, yang masuk ke dalam kamar hanya Chiara, sehingga membuat Mona sempat berpikir kalau Aaron sudah pergi dengan urusannya sendiri, meninggalkan Cbiara sendirian di rumah sakit untuk menemui Revina.
Orang sepenting Aaron, bagi Mona tidak mungkin akan mau emnghabiskan banyak waktu sia-sia untuk orang yang tidak ada hubungannya dengannya, namun Mona tidak berpikir bahwa sekarang, ornag terpenting bagi Aaron sedang berada di sana, dan tidak mungkin Aaron membiarkannya seorang diri.
“Jangan berani melakukan itu Tante, atau Tante akan menyesalinya di penjara.” Aron berkata dengan nada yang terdengar cukup santai, tapi benar-benar membuat Mona tidak berkutik.
Tanpa adanya alasan tepat, seorang Aaron bisa saja menjebloskan orang ke penjara dengan berbagai cara, 1001 alasan yang bisa diciptakannya jika saja dia mau, sedang kan sekarang, hampir saja Mona benar-benar membuat alasan kuat agar Aaron mengirimnya ke penjara.
Begitu sadar tentang hal itu, membuat Mona menahan nafasnya sebentar, sedikit ada rasa lega dia tidak jadi melakukan hal yang bisa mengirimnya ke penjara itu.
“Jangan bertindak gegabah….” Raksa langsung mendekati Mona dan berkata pelan.
“Terimakasih Chiara, Aaron….” Dengan suara pelan, Revina berkata dengan airmata yang masih tampak meleleh di sudut-sudut matanya.
Chiara sendiri, setelah melihat Mona menjauh dari ranjang rumah sakit, langsung menegakkan kembali tubuhnya.
“Kamu tidak apa-apa Revina?” Chiara bertanya sambil menatap ke arah Revina dengan tatapan mata menyelidik untuk memastikan kalau Revina benar-benar baik-baik saja, juga perutnya yang sekarang ada seorang calon bayi tinggal di sana.
“Ma, aku ingin mempertahankan bayiku. Dia tidak bersalah. Entah apa kata orang nanti, aku tidak mau jadi seorang pembunuh dan menyesal seumur hidupku. Aku mohon…. Biarkan aku merawatnya dengan baik.” Revina berkata lirih dengan tatapan memohon ke arah Mona yang tampak mengepalkan kedua tangan yang ada di samping kanan kiri tubuhnya.
“Dengan apa kamu mempertahankannya? Sedangkan sebentar lagi kita akan menjadi gelandangan? Apalagi dia akan lahir tanpa ayah, Kenapa kita tidak membiarkan dia terhindar dari rasa malu pada dunia. Lebih baik membiarkan dia tidak pernah dilahirkan.” Meski suara perkataan Mona tidak sekeras tadi, tapi masih ada nada marah dan kecewa yang begitu besar, terdengar jelas.
“Kamu tahu sendiri kamu sudah menghabiskan seluruh uang tabungan keluarga kita untuk membayar setiap perabotan mahal yang kamu beli dan hilang itu. Tidak perlu lama, rumah yang kita tempati pasti akan diambil alih oleh pihak bank karena ketidakmampuan kita dalam membayar cicilan. Sebentar lagi rumah itu pasti akan dilelang oleh pihak bank.” Perkataan Mona selanjutnya membuat Chiara terlihat kaget.
Bagaimanapun rumah yang sekarang ditempati oleh Mona dan Revina adalah rumah peninggalan orangtuanya, dimana Chiara tidak pernah merasa keberatan jika itu ditempati dan dirawat dengan baik oleh keluarga omnya.
Tapi bukan berarti Chiara akan rela jika rumah itu akan digadaikan oleh pihak bank karena sudah dijadikan anggunan untuk emngambil pinjaman yang tidak sanggup dibayarkan.
“Tante… itu kan rumah milik papa dan mama Chiara? Tante tidak boleh melakukan itu.” Chiara berkata sambil menggigit bagian bawah bibirnya dengan wajah terlihat khawatir, memandang ke arah Mona.
“Memang itu yang akan terjadi. Lalu kenapa? Kalau kamu tidak rela hal itu terjadi, bayar saja semua tagihan pinjaman di bank yang sekarang memegang sertifikat rumah itu.” Tanpa merasa bersalah Mona berkata sambil menatap lurus ke arah Chiara yang masih tampak kaget.