Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
KEHADIRAN ROMI



"Kamu ini... selalu saja tidak perduli orang lain menjelek-jelekkan di belakangmu." Grace berkata dengan mulut memberengut.


"Biarkan saja. Kalau mulut mereka lelah, mereka akan berhenti dengan sendirinya." Chiara dengan santainya menjawab perkataan Grace.


Daripada marah atau tersinggung karena ada yang membicarakannya di belakang, Chiara yang saat ini hatinya sedang bahagia, lebih memilih untuk mengingat-ingat kembali pesan dari Aaron yang sudah membuatnya susah berkonsentrai sepanjang hari ini.


Setiap apapun yang dilakukan Chiara hari ini, bayangan sosok Aaron selalu muncul di benaknya.


Entah kenapa dan bagaimana, rasanya hati Chiara selalu bergetar hebat saat membayangkan sosok tampan dan gagah Aaron, dan kadang membuatnya senyum-senyum sendiri tanpa sebab.


"Hah... sepertinya percuma bicara dengan Chiara yang masuk ke telinga kiri, keluar dari telinga kanan. Apa memang benar sebegitu anehnya tingkah orang kalau sedang jatuh cinta ya?" Grace bergumam pelan sambil melirik ke arah Chiara yang dia yakin mendengar gumaman yang baru diucapkannya, tapi tetap bersikap tidak perduli.


Tindakan aneh Chiara sepanjang pagi ini, hanya bisa membuat Grace menggeleng-gelengkan kepalanya, dan dia memutuskan untuk diam sampai mereka memasuki aula sekolah, dimana di sana ternyata terlihat ratusan kursi berjajar, di tata dengan rapi, bahkan susunan kursi tersebut, di bagi dua, kanan dan kiri, dimana di bagian tengan tampak karpet berwarna merah yang digelar rapi, dari pintu masuk aula, sampai ke bagian depan aula.


Hal itu cukup membuat Grace mengernyitkan alisnya, karena tatanan ruang aula hari ini terlihat cukup rapi dan mewah, seperti sedang menyambut tamu penting, atau ketika sekolah ada acara penting seperti acara penerimaan siswa baru, atau acara pelepasan anak-anak yang sudah lulus SMA.


Di bagian depan aula sendiri, terdapat meja panjang yang diberi taplak berwarna merah dipadukan dengan warna emas, dan di baliknya berjajar rapi kursi-kursi di mana disana tampak duduk beberapa orang guru senior dengan pangkat cukup tinggi, yaitu kepala sekolah, wakil kepala sekolah, dan juga sekretaris sekolah.


Selain itu tampak beberapa orang muda, baik laki-laki dan perempuan, yang sebagian duduk di sana, dengna mengenakan jas yang menunjukkan identitas dari kampus X tempat merek dulu kuliah.


Salah seorang dari alumni kampus itu terlihat duduk dengan sikap tidak tenang, dengan matanya berkeliling menyapu semua sudut aula, seolah sedang mencari keberadaan seseorang.


Dan begitu sosok Chiara yang sedang memasuki area aula sekolah, bersama dengan Grace, laki-laki tampan itu terlihat menyunggingkan senyum lega sekaligus senang.


Chiara sendiri terus melangkah dengan santai, sampai dia menatap lurus ke depan, dan cukup tersentak kaget melihat keberadaan Romi yang sedang duduk di samping kepala sekolah, dengan mengenakan jas yang menandakan dia merupakan salah satu alumni dari Kampus X tersebut.


Chiara mengomel dalam hati, sambil mengalihkan pandangan matanya dari sosok Romi yang masih memandang ke arahnya.


Hah... akhirnya aku menemukanmu Chiara. Jangan pernah berharap kamu bisa lepas dari tanganku kalau aku sudah menentukan kamu sebagai mangsaku. Kemanapun kamu berada, mataku akan mengawasimu dengan baik, agar kamu tidak lepas dari pengamatanku, sampai aku mendapatkanmu, dan semua harta yang kamu miliki.


Romi berkata dalam hati sambil menyunggingkan senyum melihat kehadiran Chiara di aula sekolahnya saat ini.


Kehadiran Romi hari ini di aula sekolah SMA tempat Chiara bersekolah, bukanlah merupakan suatu kebetulan.


Begitu Romi mendengar bahwa alumnus dari Universitas tempat dimana dukunya dia kuliah akan mengadakan kunjungan dan pengarah tentang Universitas X di sekolah Chiara, Romi langsung mengajukan diri untuk ikut bergabung.


Sebelum Romi menerima penawaran Mona untuk menikah dengan Chiara, Romi sudah melakukan penyelidikan terhadap siapa Chiara, bagaimana kehidupannya, dimana dia bersekolah, siapa saja teman-teman dekatnya.


Termasuk info tentang seberapa besar kekayaan orangtua Chiara yang ditinggalkan untuk gadis cantik itu, yang akan diserahkan padanya, saat dia sudah cukup umur dan siap untuk menggantikan posisi papanya yang sementara ini dipegang oleh jajaran direksi yang sudah dipilih, sesuai dengan surat wasiat dari papa Chiara.


Sejak Chiara menolaknya siang itu, bagi Romi, mendapatkan Chiara sudah merupakan sebuah keharusan yang mutlak dan tidak bisa dinego lagi baginya.


Egonya sebagai seorang lelaki yang merasa ditolak mentah-mentah oleh Chiara, membuatnya merasa begitu tidak terima, apalagi dia tidak pernah ditolak gadis manapun sebelumnya.


Romi yang selama ini begitu mudah mendapatkan wanita yang dia inginkan, karena keahliannya dalam merayu dan bertindak manis pada wanita, juga kekayaan yang dia miliki, membuatnya merasa penasaran dengan sosok Chiara, yang tanpa sadar sudah membuatnya terpikat.


Bukan sekedar karena tidak terima, di sisi lain, Romi juga melihat bagaimana sosok cantik dari Chiara cukup membuatnya ingin dekat dan mendapatkan gadis cantik itu dan menjadikannya sebagai miliknya karena rasa penasarannya yagn begitu besar pada sosok Chiara.


"Eh, Chiara... bukannya salah satu alumni yang duduk di depan itu... laki-laki berpakaian krem itu mirip Romi?" Jaka yang sejak awal mendengar Mona berencana menikahkan Chiara dengan Romi, langsung mencari banyak info tentang Romi, sehingga banyak membaca dan mengamati berita apaun tentang Romi, langsung berbisik pelan ke arah Chiara yang berjalan melewati Jaka yang sudah mengambil posisi duduk lebih dahulu, sehingga Chiara duduk tepat di sebelah kiri Jaka, sedang Grace duduk di sebelah kanan Jaka.