
“Kalau kamu memang tidak bisa memasak, kenapa harus dipaksakan? Bukannya sebelum menerima lamaranku, kamu bilang kau tidak pernah ke dapur, dan waktu itu aku bilang aku punya banyak asisten rumah tangga untuk sekedar memasak. Aku tidak pernah mewajibkan istriku untuk bisa masak. Aku mencari istri, bukan asisten rumah tangga.” Aaron berkata pelan sambil mengelus lembut rambut di kepala Chiara yang wajahnya terlihat merasa bersalah.
“Tapi Om… aku juga ingin belajar jadi istri yang baik… sekali-sekali ingin memasak buat Om Aaron. Seperti mamaku dulu ketika masih hidup, meskipun tidak setiap hari, kadang-kadang mama memasak makanan buat papa, meskipun masakan mama mungkin tidak seenak masakan restoran.” Chiara menanggapi perkataan Aaron degan suara pelan, masih merasa bersalah karena kegagalannya hari ini.
Aku lebih suka kamu duduk manis daripada aku terkena serangan jantung karena kamu hampir saja membuat apartemen kita terbakar. Bukan karena apartemennya, aku tidak perduli dengan itu.... Tapi keselamatanmu, bagiku adalah hal yang paling utama.
Aaron berakta dalam hati sambil menghela nafasnya.
“Kamu boleh mencoba melakukan hal yang bagimu baru seperti itu. Tapi cobalah melakukannya saat ada mama Sarah, atau asisten rumah tangga, supaya kamu tidak melakukan kesalahan seperti tadi.” Akhirnya Aaron berusaha memberikan solusi agar Chiara tetap bersemangat untuk belajar memasak, meskipun Aaron tidak mengharuskan Chiara bisa apalagi ahli dalam hal memasak.
Akan tetapi jika Chiara merasa senang dan ingin belajar, tentu saja Aaron harus mendukung niat baik istrinya itu, tidak boleh memadamkan semangat Chiara.
“Lalu bagaimana ini? Semua bahan-bahan itu mau diapakan? Apa Om Aaron bisa memasak?” Pertanyaan Chiara membuat Aaron tersenyum geli.
“Aku mungkin ahli dalam membereskan rumah, tapi tidak untuk memasak. Bahkan aku tidak bisa membedakan mana merica dan ketumbar. Bagiku mereka sama-sama berbentuk bulatan kecil. Aku hanya mengerti makanan itu enak atau tidak. Tapi jangan ditanya tentang bumbu dan bahan apa yang dipakai untuk memasak suatu makanan.” Aaron berkata sambil tersenyum ke arah Chiara yang menatapnya dengan wajah serius.
“Padahal selama ini aku selalu berpikir, Om Aaron bisa melakukan segalanya.” Aaron sedikit tergelak mendengar pernyataan dari Chiara yang polos.
“Kamu pikir suamimu ini Tuhan? Selamanya tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu, kita tidak boleh memandang rendah orang lain, meskipun dalam banyak hal mungkin kita lebih unggul darinya.” Chiara langsung tersenyum cerah mendengar nasehat dari Aaron.
“Siap Om Aaron!” Chiara berkata sambil membusungkan dadanya di depan Aaron, sambil menggerakkan tangannya di dahi, memberi tanda hormat, membuat Aaron sedikit mengalihkan pandangan matanya agar matanya tidak fokus ke arah dada Chiara yang sedang membusung.
“Iya, sudah, sekarang waktunya membereskan rumah.” Aaron berkata sambil memegang pergelangan tangan Chiara yang masih melalukan gerakan memberi hormat.
Setelah itu Aaron buru-buru menurunkan tangan Chiara, agar dia tidak lagi membusungkan dadanya.
Sebuah tindakan polos Chiara yang dilakukannya tanpa menyadari kalau Aaron hampoir menelan ludahnya begitu melihat tingkahnya yang bagi Aaron begitu menggoda dirinya sebagai laki-laki.
“Aku akan membereskannya Om Aar….”
“Tunggu! Kamu cukup berdiri di tempatmu sekarang.” Aaron langsung memotong perkataan Chiara.
“Lebih baik kamu menjadi pengawas saja, aku yang akan membereskan semuanya.” Aaron langsung melanjutkan kata-katanya, tidak ingin Chiara kembali membuat kekacauan, dan membuat rencana mereka untuk segera menemui George jadi gagal.
Dengan gerakan yang sangat cepat, akhirnya Aaron membereskan kekacauan yang disebabkan oleh Chiara.
Dengan gerakannya yang super kilat, belum sampai Chaira menarik nafas panjang untuk kedua kalinya, Aaron sudah selesai membereskan semuanya, dan kembali berdiri di samping Chiara yang hanya bisa melongo.
“Selesai….” Aaron berkata setelah kembali berdiri, kali ini tepat di hadapan Chiara yang terlihat kaget, sekaligus terkagum-kagum.
Kalau kemarin Aaron hanya sekedar menceritakan tentang apa saja kekuatan super yang dia miliki, pagi ini dengan mata kepalanya sendiri, dan dalam keadaan sadar, Chiara dibuat terheran-heran dengan Aaron yang mampu bergerak secepat kilat, hingga mata normal Chiara tidak bisa menangkap pergerakan Aaron dengan jelas.
Tiba-tiba saja, dalam hitungan detik, semua sudah kembali ke tempatya semula, dan bahan-bahan masakan yang tadinya sudah disiapkan oleh Chiara, diletakkan secara berjajar rapi oleh Aaron di atas meja dapur, dipisah-pisahkan dengan masing-masing jenisnya.
“Wah…. Om Aaron… keren sekali….” Chiara berkata sambil bertepuk tangan pelan, dengan mata berkeliling, memandang ke arah barang-barang yang baru saja dirapikan Aaron dengan tatapan mata terkagum-kagium.
“Aku jadi seperti melihat film yang durasinya diputar dengan kecepatan yang dipercepat beberapa kali dari kecepatan normal.” Chiara kembali menyambung kata-katanya dengan mata menatap ke arah Aaron tanpa berkedip.
“Aduh, jangan terus-menerus memujiku Chiara….” Aaron berkata pelan sambil memegang tengkuknya dengan sikap malu-malu, satu sikap yang hanya pernah dia tunjukkan di depan Chiara, tidak di depan orang lain.
Entah kenapa, bagi seorang Aaron yang biasanya tidak opernah perduli dengan pendapat orang tentang dia karena sikap pendiam dan dinginnya, jika pujian itu berasal dari Chiara, bisa membuatnya bersikap malu-malu seperti seorang anak laki-laki remaja yang sedang bertemu dengan teman perempuan yang disukainya.
“Om. Terus… kita apakan dong bahan-bahan itu?” Chiara berkata sambil jari telunjuknya menunjuk ke arah bahan-bahan masakan yang sudah dirapikan oleh Aaron barusan.a
“Biar nanti diurus oleh asistern rumah tangga dari rumah Malverich. Sekarang lebih baik kamu segera bersiap-siap. Mandi dan berpakaian rapi.” Aaron langsung menajwab pertanyaan dari Chiara.
“Kita mau pergi kemana Om? Terus bagaimana dengan sarapan kita?” Chiara kembali bertanya begitu mendengar permintaan Aaron untuk dia bersiap diri, seolah berniat mengajaknya pergi keluar pagi ini, padahal seingat Chiara, hari ini Aaron dan dia hanya ada janji bertemu dengan George, itupun tidak sepagi ini.
“Kita sarapan di luar hari ini. Aku sudah memajukan jadwal janji kita untuk bertemu dengan George. Kita sarapan di hotel tempat George menginap, sambil menuinggu George bersiap menemui kita.” Aaron segera menjelaskan alasannya.
“Ooo, oke Om. Kalau begitu Chiara kembali ke kamar dulu untuk mandi dan segera bersiap. Tunggu Chiara ya Om! Chiara jangan ditinggal ya Om.” Dengan sikap bersemangat, Chiara berkata sambil bergegas kembali ke kamarnya.
Ist! Bagaimana mungkin aku meninggalkanmu, sedangkan pertemuan hari ini bersama George, intinya adalah membicarakan tentang hubungan kita berdua.
Aaron berkata dalam hati sambil tersenyum simpul melihat Chiara yang berlalu pergi darinya secepat yang dia bisa, tanpa menunggu Aaron menanggapi perkataannya.
Untuk Aaron sendiri, begitu Chiara dilihatnya sudah masuk ke dalam kamarnya, dengan gerakan cepatnya, dia sendiri segera kembali ke kamarnya, mandi dan bersiap diri.