Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
INGIN LEBIH DARI ITU



Dan hal itu, membuat tanpa sadar, Chiara yang berjalan tepat di samping Aaron memegang erat jas Aaron di bagian dadanya, agar benar-benar tertutup rapat, dan tidak terlihat lagi oleh orang lain, karena dari akta-kata Aaron, jelas menunjukkan kalau laki-laki itu terlihat emosi, hanya saja, di depan Chiara, dia tidak menunjukkan rasa tidak sukanya itu.


“Dan satu lagi Zachary, datangkan MUA terbaik di kota ini ke kantorku, agar dia mengganti riasan Chiara sebelum kami bertemu dengan para pimpinan perusahaan papa Chiara.” Perintah selanjutnya dari Aaron langsung membuat Zachary menganggukkan kepalanya tanda setuju, meskipun dia tahu Aaron tidak bisa melihat tindakannya itu.


"Baik Pak...." Untuk semua perintah dari Aaron, hanya jawaban itu yang diberikan oleh Zachary.


Begitu mereka berdua berjalan keluar dari ruang meeting, beberapa karyawan yanga bertemu mereka langsung menganggukkan kepalanya untuk menyapa dan menunjukkan rasa hormat.


Namun begitu Aaron dan Chiara sudah melewati mereka, dengan cepat mereka akan menoleh, atau bahkan membalikkan tubuh mereka untuk dapat mengamati sosok Chiara yang beberapa waktu sebelumnya sudah diketahui sebagai istri Aaron, dengan wajah dan tatapan mata yang terlihat jelas begitu penasaran dengan sosok cantik gadis yang sudah berhasil meluluhkan hati CEO dingin mereka.


Dan dari bagaimana mereka melihat Aaron yang saat ini hanya mengenakan celana panjang dan kemeja tanpa jas karena jasnya sedang digunakannya untuk menutup bagian atas tubuh Chiara, membuat mereka yang melihat bisa menebak, bagaimana sayangnya Aaron kepada istrinya itu.


"Om Aaron...." Chiara langsung berbisik pelan begitu Aaron sudah menyelesaikan panggilan teleponnya dengan Zachary.


"Hmmm?" Aaron menjawab panggilan Chiara dengan sebuah gumaman pelan, sambil memasukkan kembali handphonenya ke dalam saku celananya, karena jasnya sedang dipakai oleh Chiara, sehingga dia tidak bisa menyimpannya di kantong bagian dalam jasnya.


"Aku minta maaf ya Om...." Chiara berkata lirih sambil berjalan masuk ke dalam kantor Aaron yang baru saja membukakan pintu untuknya.


"Minta maaf untuk apa?" Aaron berkata sambil terus berjalan ke arah salah satu sisi kantornya, dimana ada ruang istirahat berupa sebuah kamar mewah, lengkap dengan kamar mandi dan semua perabotannya.


"Wah...." Begitu Chiara melihat bagaimana bagus dan nyamannya kamar itu, tanpa sadar, Chiara tidak menjawab pertanyaan Aaron, tapi justru langsung berjalan, dan duduk di pinggiran tempat tidur sambil melepas jas milik Aaron yang menutupi tubuhnya, membuat Aaron yang sudah hafal betul dengan sikap sembrono Chiara, hanya bisa tersenyum, karena paling tidak Chiara tidak melakukan hal seperti itu di depan laki-laki lain.


"Wah, dengan tempat tidur seperti ini, kalau aku yang kerja di sini bisa-bisa seringnya justru tidur daripada kerja." Dengan santainya Chaira berkata sambil melakukan gerakan seperti melompat-lompat kecil di atas tempat tidur menggunakan pantatnya, membuat Aaron harus sedikit mengalihkan pandangan matanya kembali karena gerakan Chiara membuat bagian atas tubuhnya ikut bergerak, dan itu terlihat jelas karena Chiara sudah melepaskan jas Aaron dari tubuhnya.


"O, iya, Aku mau mencuci muka dulu. Apa Om Aaron ada sabun pembersih muka di sini?" Chiara berkata sambil bangkit dari duduknya, dan kembali mendekat ke arah Aaron yang masih menahan nafasnya setelah melihat pemandangan sebelumnya.


"Ada, tapi untuk pria, aku akan minta Zachary menyiapkan untukmu." Aaron berkata tanpa memandang ke arah Chiara yang saat ini tepat berada di hadapannya, dengan pakaiannya yang bagi Aaron sungguh sudah berhasil memancing hasratnya.


"Ah... tidak perlu Om. Apa yang ada saja, kan cuma sekali-sekali saja." Chiara berkata sambil tersenyum ceria, menunjukkan bagaimana bahagianya dia hari ini, setelah mendengar langsung dari bibir Aaron tentang perasaan cinta laki-laki tampan itu padanya.


"Kalau begitu terserah kamu saja. Setelah kamu membersihkan muka, kita makan siang bersama. Aku sudah meminta Zachary menyiapkan makan siang kita di kantor." Aaron berkata pelan, sambil berpura-pura berkonsentrasi pada layar handphonenya, mencoba mengecek email yang masuk, agar pandangan matanya tidak perlu fokus menatap ke arah Chiara.


"Makan siang berdua Om?" Dengan bersemangat, Chiara langsung bertanya.


Tanpa Angelina?


"Ya." Aaron menjawab singkat, membuat Chiara tersenyum semakin lebar, dan menggigit bagian bawah bibirnya, merasa bahagia dengan jawaban singkat Aaron barusan.


"Kalau begitu aku akan membersihkan mukaku dulu." Chiara bersiap membuka pintu kamar mandi, tapi seperti teringat sesuatu, tiba-tiba saja Chiara menghentikan tindakannya.


"Eh... Om Aaron...." Chiara berkata dengan suara ragu.


"Om Aaron, apa aku boleh meminjam pakaian om Aaron?" Pertanyaan Chiara membuat Aaron mau tidak mau menoleh ke arah Chiara dengan wajah terlihat kaget.


"Eh, bagaimana?"


"Itu...." Chiara berkata sambil menunjuk ke arah lemari yang ada di kamar itu.


"Aku tadi mau minta maaf kepada Om Aaron karena sudah bertingkah aneh dengan berdandan dan berpakaian seperti ini. Kalau boleh, aku mau mengganti pakaianku sekalian dengan meminjam kemeja Om Aaron." Chiara berkata dengan nada ragu.


"Ooo...." Aaron bergumam pelan sambil menatap ke arah lemari pakaian yang ada di kamar itu, yang memang berisi beberapa pakaian cadangan untuk Aaron, jika mendadak dia haus berganti pakaian dan tidak sempat pulang ke rumah atau apartemennya.


"Ambil saja kalau memang ada yang menurutmu bisa kamu pakai." Aaron berkata sambil sedikit mengernyitkan dahinya, karena sedang mencoba menebak apakah ada pakaian yang cocok untuk Chiara, sedangkan postur tubuh mereka jelas begitu jauh berbeda, apalagi kalau dilihat dari tinggi badan.


Aaron yang 190an cm, dan Chiara yang hanya setinggi dada Aaron.


"Terimakasih Om Aaron." Dengan senyum dan wajah cerianya, Chiara segera berjalan ke arah lemari pakaian milik Aaron dan membukanya.


"Aku keluar dulu, ada banyak hal yang harus aku kerjakan. Setelah kamu selesai, kita makan siang bersama." Aaron berkata sambil membalikkan tubuhnya, bersiap keluar dari kamar itu, sebelum pikirannya semakin mengelana kemana-mana, apalagi tadi dia sudah tahu bagaimana rasanya mencium bibir mungil istrinya yang selama ini hanya bisa dia pandangi tanpa berani menyentuhnya.


"Oke Om Aaron." Chiara langsung menjawab perkataan Aaron sambil tangannya sibuk mencari-cari pakaian milik Aaron di gantungan lemari.


"Huft...." Begitu keluar dari kamar yang ada di kantornya, Aaron menarik nafas lega dengan senyum tersungging di wajahnya.


Merasa lega dia sudah berhasil menyatakan isi hatinya kepada Chiara, dan sekaligus merasa bahagia, karena Chiara yang juga menyambut perasaan cintanya, meskipun Aaron sudah bisa menebak tentang hal itu.


Dan yang pasti, kebahagiaan Aaron makin disempurnakan dengan bayangan tentang kejadian mesra saat dia mencium bibir Chiara, yang ternyata terasa begitu manis, dan juga menggairahkan, apalagi bukan hanya Chiara, bagi Aaron, itu juga merupakan ciuman pertama untuknya.