Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
GEJOLAK DALAM HATI AARON



“Om… maaf… tapi bisakah Om Aaron membantuku membuka kancing-kancing gaunku agar aku bisa segera ke kamar mandi?” Akhirnya, permintaan dari Chiara terucap juga, dan mau tidak mau membuat Aaron menelan air ludahnya dengan susah payah akibat permintaan Chiara itu.


“Eh, tapi….”


“Tolong dong Om… aku sudah tidak tahan….” Tanpa perduli dengan rasa malu karena kondisinya yang benar-benar seperti telur diujung tanduk, akhirnya Chiara berkata kembali dengan suara memohon, membuat Aaron langsung terdiam.


“Begini saja Om, supaya kita sama-sama tidak malu, bagaimana kalau Om melakukannya dengan mata tertutup? Tolong ya Om… tolong bantu Chiara kali ini.” Permintaan dari Chiara akhirnya membuat Aaron menganggukkan kepalanya tanda setuju.


Melhat bagaimana Aaron menganggukkan kepalanya, Chaira langsung tersenyum senang, dan berusaha secepat mungkin membalikkan tubuhnya.


Aaron sendiri langsung meletakkan botol minuman dingin yang sudah habis ke atas meja yang ada di dekatnya, lalu sambil menahan nafasnya mendekat ke arah Chiara yang sudah membalikkan tubuhnya.


"Om, awas ya! Jangan mengintip!" Mendengar peringatan dari Chiara, Aaron hanya bisa tersenyum, karena bagaimanapun sekilas, Aaron sudah terlanjur melihat ke arah punggung mulus Chiara yang sedikit terbuka, saat mengarahkan tangannya ke bagian kancing yagn masih tertutup.


"Om... jangan lupa tutup matanya...." Chiara kembali mengingatkan Aaron begitu dirasakannya jari-jari tangan Aaron mulai menyentuh kancing di punggungnya, meskipun sebenarnya, Aaron benar-benar sudah menutup matanya.


Meski berusaha dengan hati-hati saat membuka kancing-kancing itu, karena matanya juga dalam kondisi tertutup, tetap saja tangan Aaron beberapa kali menyentuh kulit punggung Chiara, membuat Chiara menggigit bibir bawahnya karena sentuhan itu, selalu saja berhasil membuat tubuhnya seperti terkena sengatan listrik, dan juga dadanya berdebar dengan hebat.


Kondisi Aaron sendiri tidak jauh berbeda dengan yang dirasakan oleh Chiara.


Untuk pertama kalinya, Aaron menyentuh kulit punggung seorang gadis, yang meskipun tidak dalam kondisi mata terbuka, dari yang dilihatnya tadi sekilas, Aaron yakin, Chiara memiliki kulit punggung yang putih mulus.


Membayangkan itu, membuat beberapa kali Aaron menghentikan gerakan tangannya untuk membuka kancing-kancing itu, dan menelan ludahnya dengan susah payah.


Minuman dingin yang sebelumnya membuatnya merasa begitu segar, bahkan saat ini tidak terasa lagi efeknya bagi Aaron, yang merasakan bagaimana udara di sekitarnya yang tiba-tiba terasa panas dan membuatnya gerah.


Hah! Siapa desainer gaun ini? Kenapa iseng sekali membuat gaun dengan kancing yang begitu banyak dan berukuran kecil-kecil seperti ini?


Kalau tidak ingat bagaimana cantiknya Chiara saat mengenakan gaun ini, rasanya Aaron ingin mengajukan komplain ke pihak butik dan juga desainer gaun pengantin itu.


Sebuah tarikan nafas lega langsung terdengar dari Aaron, begitu kancing terakhir berhasil dibukanya.


"Om! Jangan buka mata dulu! Aku mau ke kamar mandi dulu. Baru Om baru boleh buka mata." Chiara berkata sambil melompat keluar dari gaunnya yang sudah melorot sempurna dari tubuhnya, dan hanya dengan mengenakan pakaian dalam saja, Chiara langsung berlari ke arah kamar mandi, meninggalkan Aaron yang masih berdiri di tempatnya sambil menutup matanya, dengan onggokan gaun pengantin Chiara tepat berada di bawah kakinya.


"Om Aaron! Aku sudah di kamar mandi! Om Aaron bisa keluar dari kamarku sekarang! Jangan lupa menutup pintu kamarku setelah Om keluar ya! Terimakasih ya Om untuk bantuannya!" Chiara yang sudah berada di balik pintu kamar mandi, melongokkan kepalanya sambil berteriak ke arah Aaron yang hanya bisa mendesah pelan dengan sikap pasrah karena tindakan Chiara yang membuatnya mati-matian menahan gejolak dalam dirinya.


Setelah berteriak, dengan buru-buru Chiara menutup pintu kamar mandi, bergerak cepat ke arah closet, untuk segera menuntaskan hasratnya yang hampir tidak bisa ditahannya lagi.


"Ah leganya.... " Chiara berkata pelan sambil menghela nafas lega, tanpa perduli bahwa tindakannya tadi sudah sukses membuat Aaron panas dingin.


Aaron sendiri begitu mendengar pintu kamar mandi ditutup, dan membuka matanya, langsung memegang dadanya yang bergetar hebat, apalagi melihat onggokan gaun pengantin di bawah kakinya, sehingga dia bisa membayangkan kalau tadi Chiara berlarian ke arah kamar mandi tanpa mengenakan pakaian.


Gila! Aku harus segera keluar dari kamar ini. Chiara kamu ini benar-benar....


Aaron berkata dalam hati sambil dengan buru-buru membalikkan tubuhnya, berjalan dengan cepat ke arah pintu kamar Chiara untuk keluar sebelum udara di sekitarnya semakin terasa gerah.


My little girl... kamu selalu saja berhasil membuat aku seperti orang terkena serangan jantung. Dan aku harap kamu tidak melakukan hal gila seperti ini di depan laki-laki lain. Karena sebentar lagi, aku tidak lagi bisa selalu berada di sisimu seperti biasanya.


Aaron yang sudah berada di luar kamar Chiara berkata dalam hati sambil termenung, memikirkan bagaimana nasib Chiara setelah dia pergi ke Amerika nantinya.


NOTE: Special episode buat para pembaca yang khawatir kalau Chiara ngompol. Maaf ya episode kali ini cuma sedikit jumlah katanya. Tapi semoga para pembaca tetap menikmati. Terimakasih untuk dukungan para pembaca. Maaf kalau ada yang merasa alur novel ini terlalu lambat atau ceritanya terlalu detail sehingga membosankan. 🙏🙏🙏