
"Percuma mengharapkan mereka mau membuka kembali pintu kamar itu Chiara. Mereka bertiga sudah pergi ke bangunan villa sebelah. Mereka memang sengaja mengunci kita berdua di kamar ini." Aaron berkata kepada Chiara sambil berjalan mendekat ke arah Chiara yang kedua telapak tangannya masih menempel pada pintu kamar itu, seolah berharap ada yang akan membantunya untuk membuka pintu itu untuknya.
Jika sebelumnya berada dalam satu kamar dengan Aaron membuatnya kikuk tapi tetap santai, tidak dengan sekarang.
Karena sekarang Chiara sudah tahu tentang perasaan cinta Aaron padanya, ditambah dengan dia sudah pernah mendapatkan ciuman pertamanya dari Aaron, disempurnakan dengan bayangan kata-kata Grace yang menjelaskan tentnag bagaimana melakukan ML antara pria dan wanita.
Semua itu membuat Chiara sedikit banyak jadi merasa canggung, khawatir, bahagia, takut, tapi juga perasaan berharap, bercampur aduk menjadi satu saat ini.
"Aduh Om... kenapa mereka melakukan hal seperti ini pada kita? Sudah seperti anak kecil saja mereka memperlakukan kita." Chiara berkata pelan dengan nada terdengar bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukannya dengan kondisi seperti ini.
"Mereka hanya menuruti perintah dari mama Sarah, dan pastinya didukung penuh oleh papa, sehingga mereka tidak berani menolak perintah itu." Aaron menanggapi perkataan Chiara yang langsung menarik nafas panjang.
"Mama Sarah pasti sangat marah karena masalah kita berdua yang seolah membuat pernikahan kita seperti sebuah candaan. Lalu... kita harus bagaimana dong Om Aaron?" Chiara mengucapkan pertanyaannya sambil memandang lurus ke Aaron yang sudah berdiri tepat di sampingnya, dengan jarak yang cukup dekat, membuat dada Chiara mulai bereaksi.
Berada berdua di dalam kamar yang terkunci, dengan semua suasana romantis yang sudah diciptakan oleh Anna, membuat pikiran Chiara mau tidak mau melayang ke arah sesuatu hal yang intim dengan Aaron.
"Kamu ingin aku melakukan apa? Mendobrak pintu itu?" Aaron bertanya dengan wajah terlihat tetap tenang, tidak seperti Chiara yang terlihat sedikit panik.
"Eh, jangan Om! Nanti mama Sarah tambah marah dong. Kalau Om Aaron tidak keberatan, untuk sementara kita tinggal di kamar ini sesuai dengan keinginan mama." Chiara berakata sambil berjalan menjauhi pintu kamar yang terkunci
Keberatan? Yang benar saja my little girl. Kenapa aku harus keberatan tinggal sekamar denganmu. Meskipun kita mungkin belum bisa melakukan yang diinginkan mama... tapi tidur satu kamar denganmu? Kalau kamu tidak meminta waktu untuk itu, aku pasti akan memintamu untuk kita mulai membiasakan diri tidur dalam satu kamar seperti pasangan suami istri normal pada umumnya.
Aaron berkata dalam hati sambil tersenyum tipis.
"Kalau begitu kita tetap disini saja Om Aaron. Biar kemarahan mama Sarah mereda dulu, baru kita jelaskan nanti kondisi kita." Chiara berkata sambil mendekati rangkaian bunga segar yang ada di salah satu sudut ruangan, lalu menarik nafas dalam-dalam menikmati bau harum bunga-bunga itu.
"Kita tidak mungkin mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. Karena tidak ada satupun dari keluargaku yang mengetahui kondisiku yang berbeda dari manusia normal." Begitu mendengar perkataan Aaron, Chiara langsung menoleh ke arah Aaron yang memang tidak sadar bahwa selama bertahun-tahun ini Sarah sudah tahu tentang kondisinya, meskipun tidak semua kemampuan Aaron.
"Ah... selama bertahun-tahun ini pasti Om Aaron merasa sendirian. Dan Om Aaron pasti merasa sangat kesepian, karena harus membatasi pergaulan dan sosialiasi Om Aaron agar tidak ada yang menyadari kekuatan super Om Aaron, demi orang-orang yang Om Aaron sayangi." Chiara berkata sambil menatap lembut ke arah Aaron, membuat Aaron yang mendengarkan kata yang sarat dengan rasa simpati dan tatapan mata sayang dari Chiara untuknya, langsung berdehem pelan untuk menyembunyikan kenyataan bahwa baru saja Aaron menelan ludahnya karena terharu dengan kata-kata yang diucapkan oleh Chiara barusan.
Kata-kata berisi perhatian dan hiburan yang diucapkan oleh gadis yang begitu dicintainya, membuat dada Aaron bergetar karenanya.
Padahal kondisi Chiara sendiri setelah kepergian kedua orangtuanya juga pasti kesepian, karena Mona dan Revina yang selalu memperlakukannya dengan buruk, tanpa kasih sayang, sedangkan Chiara sudah tidak lagi memiliki saudara dekat yang lain yang masih hidup.
Aaron memandang kagum kepada istri kecilnya itu. Merasa sedikit malu dengan Chiara yang dengan kondisi apapun bisa selalu tersenyum dengan wajah ceria dan sikap polosnya, sedangkan dia yang memiliki banyak kelebihan dan kemampuan, bahkan kekayaan yang tidak terhitung jumlahnya, kadang masih merasa kesal dan tidak terima dengan keadaannya sendiri.
Apalagi saat menyadari bagaimana dirinya yang berada di dekat Chiara mendapatkan efek buruk, membuat Aaron kadang menyesal dengan kehidupan yang dia jalani sekarang.
Sedang Chiara, bahkan saat mendengar kenyataan tentang penghalang yang ada diantara mereka berdua, bisa dengan optimis mengatakan pasti ada jalan keluar untuk mereka berdua, asal mereka tetap bersama dan saling mendukung.
Sebuah pemikiran dari gadis yang usianya 12 tahun lebih muda darinya, tapi bagi Aaron bahkan sosok Chiara kadang terlihat jauh bijaksana dari orang-orang seusianya, meskipun di satu sisi, kepolosan dan kecerobohan Chiara menunjukkan bahwa dia memang masih begitu muda.
"Tapi mulai sekarang aku tidak akan pernah sendiri lagi. Ada kamu yang selalu menemaniku sekarang. Dan aku bahagia kamu tetap ada di sisiku meskipun sudah mengetahui siapa diriku sebenarnya. Aku berharap sampai maut memisahkan, di usia tua kita, kita bisa terus hidup bahagia bersama anak-anak kita kelak." Kata-kata jawaban dari Aaron, membuat wajah Chiara memerah, dan menggerakkan tubuhnya ke samping, berjalan menjauhi Aaron untuk mengalihkan fokus pembicaraan mereka yang sudah membuat Chiara kembali memikirkan hal-hal romantis bersama dengan Aaron.