Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
SEMAKIN JATUH CINTA



Meskipun sebenarnya, dengan kemampuannya sebagai manusia super, Aaron tidak memerlukan pengawalan, tapi dia sengaja membiarkan orang berpikir dia adalah manusia biasa, yang juga memerlukan bantuan pengawal pribadi, agar orang lain tidak curiga padanya.


Begitu melihat sosok Aaron yang berencana pergi melalui pintu yang ada di samping panggung, berbeda dari pintu besar yang merupakan pintu masuk aula, beberapa pengusaha, yang ikut hadir sebagai alumnus dari Universitas X, segera mengikuti Aaron.


Secara terus terang, mereka mengajak Aaron berkenalan dan memberikan kartu nama mereka kepada Aaron, yang langsung diterima oleh Zachary untuk mewakili Aaron.


Bahkan mereka dengan jujur mengatakan, agar diberikan kesempatan untuk dapat bekerja sama dengan Aaron di masa depan.


Melihat bagaimana antusiasnya mereka untuk bisa berkenalan dan sedikit berbincang dengan Aaron, yang merupakan pengusaha hebat yang selama ini hanya dikenal mereka melalui namanya saja, membuat Aaron mau tidak mau menunda waktu kepergiannya meskipun hanya beberapa menit untuk menyapa mereka dan sedikit berbincang dengan mereka.


"Chiara, ternyata seperti ceritamu... om Aaronmu benar-benar keren...." Grace berbisik pelan ke telinga Chiara yang matanya memandang ke arah sosok Aaron yang baru saja menghilang di balik pintu keluar yang ada di sisi kanan panggung, dengan beberapa orang yang tampak membuntutinya.


Mendengar bisikan pelan dari Grace, Chiara langsung tersenyum dengan wajah malu-malunya.


Rasa bangga, senang, bahagia, bercampur aduk dalam dada Chiara saat ini, yang sebenarnya membuatnya ingin berlari menyusul Aaron, dan mengucapkan terimakasihnya pada Aaron.


Tapi mengingat bagaimana dia dan Aaron baru saja saling mengenal kemarin, dan juga Chiara juga tidak ingin Romi mengetahui hubungannya dengan Aaron, Chiara memilih untuk tetap diam di tempatnya, dengan wajah berharap Aaron menoleh ke arahnya.


Sayangnya, hingga bayangan sosok Aaron menghilang dari ruang aula sekolah tersebut, tidak sekalipun Aaron tampak melirik ke arah Chiara.


"Chiara, sepertinya ommu benar-benar orang yang tidak perduli dan dingin. Masak dia tidak mengarahkan pandangan matanya ke arahmu sedikitpun? Tidak  melihat ke arahmu barang sebentar saja." Grace berkata pelan sambil memanyunkan bibirnya.


"Meski pernikahan kalian hanya pura-pura, masa dia tidak perduli sama sekali denganmu? Apa mungkin dia tidak tahu kamu murid di sekolah ini?" Grace berbisik pelan, sedang Chiara memilih untuk diam.


Bagi Chiara, dia sangat maklum bahwa Aaron bersikap dingin padanya, karena mereka memang tidak saling mengenal sebelumnya, selain itu, sejak awal mereka memang sudah berencana menyembunyikan pernikahan mereka di depan ornag banyak.


Dan untuk Chiara, itu bukan alasan bagi Chiara untuk berhenti menyukai dan mengagumi sosok Aaron, yang baginya adalah laki-laki terbaik yang pernah ditemuinya, yang sudah membuatnya jatuh cinta begitu dalam.


"Menurutmu mana yang lebih baik? Bersikap dingin, tapi hati dan tindakannya terasa membuat hangat hati orang lain, daripada wajahnya penuh senyum seperti Romi, tapi menyimpan banyak kebusukan dan niat buruk?" Mendengar pertanyaan dari Chiara, akhirnya Grace hanya bisa tersenyum.


“Bagiku, apapun yang terjadi, om Aaron adalah yang terbaik. Dan dia adalah orang yang selalu saja datang tepat di saat aku membutuhkan pertolongan, dimana ornag lain tidak ada yang sanggup menolongku selain dia.” Chiara berkata dengan wajah tampak ceria dan begitu bahagia.


"Apa kamu sudah jatuh cinta pada ommu itu?" Grace bertanya dengan suara dan wajah menggodanya, membuat Chiara langsung tersipu malu.


Sepertinya, Chiara betul-betul menyukai om Aaron. Dan mungkin, ketika waktunya tiba, dia tidak akan mau diceraikan oleh om Aaron. Satu-satunya yang bisa aku lakukan, berdoa agar om Aaron juga merasakan hal yang sama seperti Chiara, sehingga tidak ada yang tersakiti. Tapi… melihat sikap dingin om Aaron… semoga Chiara bisa meluluhkan hatinya.


Grace berkata dalam hati sambil mencubit pelan lengan Chiara, karena dilihatnya gadis cantik itu terus memandang ke arah pintu yang dilewati Aaron, yang sudah tidak terlihat sosoknya lagi, sambil terus menyungingkan senyumnya.


“Auw….” Chiara sedikit terpekik karena cubitan Grace di lengannya, dan dengan cepat Chiara menatap ke arah Gface dengan wajah meminta penjelasan.


“Jangan teruskan sikapmu yang sudah seperti orang gila itu, senyum-senyum sendiri, kalau kamu memang tidak ingin dianggap aneh oleh teman yang lain.” Grace langsung berbisik pelan sambil tersenyum kea rah beberapa murid yang menatap ke arah mereka karena mendengar suara pekikan dari Chiara barusan.


Tidak berapa lama kemudian, akhirnya kepala sekolah menutup acara pengarahan yang diadakan oleh Universitas X.


Setelah itu, Romi langsung mengadakan pembicaraan pribadi dengan kepala sekolah di kantor milik kepala sekolah.


Meskipun Romi merasa sangat kesal dengan tindakan Aaron yang sudah membuatnya mati kutu di depan banyak orang, akan tetapi, pada akhirnya, Romi tidak bisa berbuat banyak.


Demi menjaga nama baiknya, Romi memutuskan untuk tetap memberikan donasi dan juga beasiswa kepada para murid berprestasi, tanpa adanya syarat apapun untuk itu.


Dan karena acara sudah diakhiri, akhirnya beasiswa diberikan tidak secara langsung, tapi diwakili oleh pihak sekolah, diberikan oleh masing-masing wali kelas murid yang mendapatkan beasiswa itu.


# # # # # # #


"Kenapa kamu melihat amplop itu tanpa berkedip? Apa kamu mau mencoba jadi peramal yang mencoba menerawang isi dalam amplop itu?" Jaka yang berjalan keluar dari kelas bersama Grace dan Chiara yang sedang memegang amplop coklat, pemberian dari wali kelas yang merupakan beasiswa dari perusahaan milik Romi, bertanya sambil memandang ke arah Chiara yang bibirnya baru saja mengeluarkan suara sebuah desisan, sambil matanya memandangi amplop yang sedang dipeganginya itu.


"Ist.... kira-kira buat apa ya isinya? Apa aku buat traktir kalian makan enak saja ya?" Chiara berkata pelan, seolah pada dirinya sendiri, disambut sebuah anggukan cepat dari Jaka, namun langsung berhenti begitu mendapat jitakan dari Grace.


"Tapi sayang sekali kalau digunakan untuk berfoya-foya." Chiara kembali berkata pelan.


Jika saja boleh jujur, Chiara bukannya tidak ingin menerima beasiswa itu, meskipun dia tidak kekurangan uang.


Bagaimanapun, Chiara masih seorang anak SMA berusia 16 tahun, yang secara keuangan dia juga dibatasi oleh Mona sebagai tantenya yang sementara merupakan walinya sampai dia berusia 17 tahun dan memiliki KTP nya sendiri, sehingga baru bisa mengurus segala sesuatu secara legal.


Chiara tahu dia bisa menggunakan uang itu untuk membeli peralatan sekolah, buku-buku atau apapun yang berkaitan dengan keperluan sekolahnya, hal-hal yang memang benar-benar berguna untuk keperluan sekolahnya, tapi karena uang itu berasal dari perusahaan Romi, dia benar-benar malas dan tidak ingin menggunakannya untuk dirinya sendiri, meskipun hanya untuk sekedar bersenang-senang dengan uang itu.