
“Apa sekolahmu baik-baik saja Chiara?” Aaron bertanya sambil membersihkan bibirnya dengan lap, menunjukkan dia sudah menyelesaikan makannya.
Chiara yang juga baru menyelesaikan makannya dan meminum jus apelnya langsung tersenyum mendengar pertanyaan Aaron.
“Apa Om Aaron meragukan kemampuan akademisku?” Chiara bertanya balik kepada Aaron sambil mengerlingkan matanya, membuat Aaron ikut tersenyum.
“Tidak. Tapi aku perlu mengecek hasil belajarmu juga. Kadang kita terlalu menyepelekan yang justru membuat kita akhirnya gagal.” Aaron berkata sambil memberikan tanda kepada bu Ida dan Tia untuk mulai membereskan meja makan kembali.
“Aduh Om… tidak sebegitunya lah aku. Kalau aku meremehkan berarti aku tidak akan berusaha sebesar ini. Bayangkan saja, setelah sekolah, aku masih harus les, mengerjakan PR, kadang tugas kelompok. Sore atau malam, aku harus belajar dari pak Zac.” Chiara berkata sambil menggerakkan kepalanya ke atas, seolah mencoba mengingat semua hal yang selama ini dia lakukan untuk menunjukkan bagaimana keras usahanya untuk menjadi sukses dalam belajarnya.
“Bagus kalau begitu. Semoga kamu tetap pertahankan kerajinanmu dalam belajar, agar sukses di masa depan. Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Adapun, itu hanya keberuntungan dan tidak akan bertahan lama.” Chiara langsung menganggukkan kepalanya mendengar nasehat dari Aaron.
“Permisi Pak.”
“Permisi Nona.”
Baik Bu Ida dan Tia sama-sama meminta ijin untuk membereskan bekas makan pagi kedua majikan mereka itu.
“Silahkan Bu Ida.” Chiara langsung menanggapi perkataan mereka sambil memundurkan kursinya, menjauhi meja makan, agar bu Ida dan Tia bisa lebih leluasa untuk membereskan meja makan.
“Kamu sudah selesai Chiara?” Aaron bertanya sambil bangkit dari duduknya.
“Sudah Om, tapi masih ada banyak waktu. Eh… tapi tidak masalah kalau Om Aaron mau berangkat sekarang supaya tidak terburu-buru di jalan.” Chiara akhirnya ikut bangkit berdiri dari duduknya, berjalan ke arah ruang keluarga dimana tadi dia menggeletakkan tasnya sebelum pergi ke ruang makan.
“Om, aku sudah siap….” Chiara berteriak pelan sambil kepalanya menoleh ke samping, mencari sosok Aaron yang tadi masih berada di ruang makan ketika dia pergi ke ruang keluarga.
Begitu Chiara melihat sosok Aaron berjalan ke arahnya, Chiara langsung tersenyum senang.
“Ayo Om Aaron….” Tanpa ragu, Chiara langsung menggandeng lengan Aaron yang hanya bisa menahan nafasnya melihat bagaimana Chiara yang dengan santainya memperlakukannya seperti seorang teman baginya, padahal untuk Aaron sendiri, setiap sentuhan Chiara, itu artinya badai dalam hatinya.
“Eh, tunggu sebentar Chiara.” Aaron berkata sambil menahan lengannya yang dipegang oleh Chiara, membuat Chiara menghentikan langkah kakinya, dan langsung menoleh ke belakang.
“Kenapa Om? Ada sesuatu yang penting? Atau sesuatu yang tertinggal?” Aaron hanya diam mendengar pertanyaan Chiara.
Laki-laki tampan itu justru tampak mengambil sesuatu dari kantong celananya, untuk kemudian meletakkan di atas telapan tangannya sesuatu yang diambilnya tadi, dan ditunjukannya kepada Chiara.
“Kamu meninggalkannya di kamarku semalam. Apa kamu tidak menyukainya?” Mata Chiara sedikit terbeliak melihat di telapak tangan Aaron tergeletak geleang hadiah ulang tahunnya dari Aaron kemarin.
Celaka! Aku benar-benar lupa tentang kado dari om Aaron itu. Apa om Aaron akan marah ya karena aku dianggap menyepelekan hadiahnya? Bisa-bisanya aku meninggalkan barang sepenting itu tanpa menyimpannya dengan baik.
Chiara berkata dalam hati sambil menggigit bagian bawah bibirnya.
“Maaf Om Aaron… Aku tidak bermaksud untuk….” Chiara langsung menghentikan bicaranya karena Aaron yang tiba-tiba meraih pergelangan tangannya tanpa mengatakan apapun padanya.
Dengan gerakan pelan dan lembut, Aaron memasangkan gelang hadiah ulang tahunnya itu kepada Chiara yang tampak menahan nafasnya karena tindakan Aaron yang tidak diduganya itu.
“Te… terimakah Om Aaron.” Akhirnya dengan gugup, Chiara berkata pelan kepada Aaron yang sudah melepaskan kembali tangannya.
“Lain kali, jangan meletakkannya degan sembarangan ya. Letakkan di tempat yang sudah semestinya.”
“Pasti Om, aku akan selalu menjaganya dengan baik. Terimakasih untuk kadonya yang indah ini.” Chiara berkata sambil mengelus-elus gelang yang sekarang melingkar di tangannya itu.
“Oke, kalau begitu, kita berangkat ke sekolah sekarang ya.” Aaron langsung mengajak Chiara untuk berangkat ke sekolah, setelah diriknya jam dinding yang ada di salah satu dinding ruangan itu.
“Iya Om. Ayo…” Dengan cepat Chiara yang wajahnya terlihat begitu ceria pagi ini langsung menjawab ajakan Aaron sambil tersenyum bahagia.
# # # # # # # #
“Kita sudah sampai, belajarlah yang rajin.” Aaron berkata sambil membuka central lock mobilnya, agar Chiara bisa membuka pintu dan turun dari mobil.
(Central lock merupakan salah satu fitur keamanan yang terpasang pada mobil. Dengan hanya menekan satu tombol saja, empat pintu mobil dapat terkunci secara otomatis secara bersamaan.
Cara kerja dari sistem ini keseluruhan secara mekanik yaitu jika dioperasikan dari bagian dalam mobil, pengemudi atau penumpang tinggal menarik tuas pengunci yang berada pada pintu mobil bagian dalam maka tuas tersebut akan menarik pengunci pintu pada posisi terbuka.
Secara garis besar, Central lock door disusun atas actuator, mainboard, module, sirine, LED, dan remot. mainboard adalah otak yang mengirim sinyal ke komponen-komponen lainnya).
“Terimakasih ya Om sudah diantar ke sekolah pagi ini.” Aaron langsung membalas ucapan terimakasih dari Chiara dengan sebuah anggukan kepala.
“Maaf, aku tidak bisa mengantarmu turun, khawatirnya….”
“Tenang saja Om, aku juga tidak mau terjadi kehebohan kalau sampai orang tahu kalau Om Aaron mengantarku ke sekolah. Para guru dan juga murid-murid pasti ingat tentang siapa Om Aaron. Kalau sampai mereka melihat Om Aaron sebagai pemilik sekolah tiba-tiba mengantarku sekolah, bisa-bisa sepanjang hari ini bukannya belajar, aku akan menjadi selebriti dadakan yang akan menerima banyak pertanyaan. Maaf, tapi aku juga tidak mau menjadi penyabab kehebohan di sekolah.” Chiara berkata sambil meringis, membuat Aaron tersenyum lega, karena bisa melihat kalau Chiara tidak tersinggung dan tidak keberatan kalau dia hanya mengantarnya tanpa turun dari mobil.
“Dan satu lagi Om, aku tidak mau mereka yang tidak mengenal Om Aaron berpikir untuk mencari info dariku agar bisa mendapat kesempatan mendekati Om Aaron.” Aaron sedikit tersentak kaget mendengar perkataan Chiara yang terdengar seperti orang yang sedang cemburu.
Akan tetapi melihat Chiara tertawa kecil setelah mengatakan hal seperti itu, membuat Aaron kembali tersenyum.
“Kamu ini ada-ada saja….”
Aku serius om. Aku tidak akan rela kalau ada perempuan lain berniat mendekati om Aaron.
Chiara berkata dalam hati sambil memandang ke arah Aaron yang dia yakin bisa membuat banyak wanita tergila-gila karena suaminya itu sungguh mempesona sebagai laki-laki... terlihat begitu sempurna.
“Eh, betulan Om. Dengan pesona yang Om miliki, pasti banyak murid perempuan dan guru-guru perempuan tertarik dengan info apapun tentang Om Aaron. Oke Om, Aku berangkat dulu ya. Sampai nanti sore.” Chiara mengakhiri kata-katanya dengan membuka pintu mobil Aaron, dan melangkah keluar.
Tidak lama berselang dengan Chiara keluar dari mobil Aaron, Grace yang kebetulan juga baru datang langsung mengernyitkan dahinya melihat Chiara keluar dari mobil ferarri berwarna merah yang dikenal Grace sebagai mobil milik Aaron.
NB: Untuk para pembaca setia, maaf untuk hari masih up 1 episode saja karena author masih ada acara bersama keluarga. Terimakasih untuk para pembaca yang terus setia menunggu hadirnya novel ini. Selamat membaca, semoga suka.