
"Tapi meskipun dia terlihat dingin dan tidak perduli dengan orang lain, tapi aku yakin Aaron tidak pernah bersikap kasar pada orang lain." Sarah melanjutkan kata-katanya masih dengan tawa gelinya.
"Chiara sebenarnya pemalu Ma. Apalagi dia kan masih sangat muda, karena itu kami tidak merasa nyaman kalau harus memamerkan hubungan kami di depan banyak orang. Apalagi seperti janjiku waktu itu. Aku ingin melindungi masa muda Chiara, dengan menahan diri untuk tidak membiarkan orang lain tahu tentang hubungan kami berdua untuk saat ini." Aaron berkata pelan sambil berusaha sekeras mungkin menahan pikirannya yang sudah kemana-mana, apalagi Aaron justru melihat Chiara tetap duduk dalam posisinya tanpa terlihat ada tanda-tanda kalau gadis kecilnya itu berniat untuk bangkit dari duduknya.
Bahkan justru bagi Aaron, Chiara terlihat nyaman dengan posisi duduknya yang sekarang ini.
Sedangkan bagi Chiara, posisinya saat ini membaut dirinya sangat canggung, tapi tidak berani sembarangan bertindak, karena memikirkan tentang apa yang dipikirkan Aaron dan juga Sarah.
"Tapi aku bukan orang lain Aaron. Kenapa harus malu pada mama. Mama juga pernah muda lho. Sudah biasalah lah, pasangan muda seperti kalian terlihat begitu bersemangat. Meliaht kemesraan dan semangat kalian justru membuat mama teringat masa-masa muda mama yang indah bersama papamu." Sarah berkata sambil bangkit dari duduknya.
"Ah... sepertinya mama sebagai orang tua harus sadar diri untuk memberi waktu untuk kalian berdua. Hari ini Aaron baru datang dari Amerika, kalian berdua pasti ingin segera melepas rasa kangen kalian dengan berduaan di kamar. Kalau begitu, lebih baik mama kembali ke kamar. Apalagi papa kalian pasti sudah menunggu mama juga." Perkataan Sarah membuat wajah Aaron maupun Chiara merah padam.
Baik Aaron maupun Chiara, mereka langsung saling berpandangan sambil menelan ludah mereka karena godaan Sarah barusan.
"Eh, iya Ma." Dengan sedikit melompat Chiara bangun dari pangkuan Aaron yang langsung ikut bangkit berdiri dari duduknya, untuk mengantar Sarah keluar dari kamarnya.
"Mama pergi dulu. Ini sudah larut malam. Untuk besok, tidak perlu buru-buru bangun pagi, nikmati saja kegiatan kalian malam ini." Godaan Sarah sebelum keluar dari pintu kamar Aaron benar-benar membuat wajah Aaron dan Chiara benar-benar memerah dengan sikap canggung.
Kenapa perasaanku merasa sedikit tidak enak melihat mereka berdua? Aku merasa ada yang janggal dengan mereka berdua. Apa hubungan mereka berdua baik-baik saja? Kenapa melihat mereka seperti melihat dua orang yang sangat canggung, padahal mereka sudah hampir dua tahun ini menikah. Sikap mereka berdua bahkan terlihat seperti orang yang masih akan memulai pendekatan satu dengan yang lain. Mereka benar-benar membuatku khawatir.
Sarah berkata dalam hati sambil melangkah menjauh dari kamar Aaron, tapi setelah beberapa langkah kemudian, dia menoleh ke belakang, ke arah pintu kamar Aaron sambil menghela nafas panjang.
Apa perlu aku memaksa mereka untuk bisa segera memiliki anak, agar hubungan mereka semakin kuat?
Sarah kembali berkata dalam hati.
Entah kenapa, hatinya merasa tidak tenang, dan khawatir jika ada sesuatu yang membuat hubungan Aaron dan Chiara berada dalam masalah.
Mau tidak mau, Sarah yang menyayangi Aaron maupun Chiara, yang sejak pernikahannya dengan Aaron memang dekat dengan Sarah seperti anak kandungnya sendiri, membuat Sarah merasa ada sesuatu yang tidak beres diantara anak dan menantunya itu, saat melihat apa yang terjadi di kamar Aaron tadi.
Akh… mungkin aku terlalu banyak berpikir. Tapia da baiknya aku lebih memperhatikan mereka berdua, supaya aku tidak sampai terlena dan terlambat bertindak kalau memang ada sesuatu yang buruk diantara mereka berdua.
Sarah mengakhiri kata-katanya dalam hati tepat bersamaan dengan dia membuka pintu kamar tamu, dan langsung tersenyum melihat bagaimana Johnson yang sedang menikmati siaran televisi sambil duduk berselonjor di atas tempat tidur.
# # # # # # #
Untuk beberapa saat bahkan mereka saling berdiam di dekat pintu masuk kamar.
“Eh… Om Aaron… apa sebaiknya aku mengambil barang-barangku sekarang?” Chiara akhirnya berusaha untuk mencairkan suasana dengan meminta ijin Aaron untuk mengambil barang-barangnya di kamar yang biasa dia tempati selama dia tinggal di apartemen ini.
“Sudah malam, tapi takutnya mama Sarah keluar dan melihat. Lebih baik kita tunggu sebentar lagi.” Aaron berkata sambil berjalan ke arah meja yang terletak di salah satu sudut kamar, lalu meraih remote televisi.
“Mau menonton sambil menunggu?” Chiara langsung mengangguk-anggukkan kepalanya begitu mendengar penawaran dari Aaron.
Akan tetapi, belum sampai lima menit waktu berlalu, Chiara sudah berkali-kali menguap.
“Oahem….” Chiara yang terus menerus mengupa meskipun gadis cantik itu berusaha keras untuk menahannya, membuat Aaron tiba-tiba mematikan televisi yang sedang mereka tonton.
“Lho… Om… kenapa dimatikan… oahem….” Chiara berusaha memprotes tindakan Aaron.
“Sepertinya kamu butuh istirahat. Lebih baik kamu tidur sekarang. Katamu tadi, besok kamu bertemu Grace di kampus untuk mengecek jadwal mata kuliah yang belum lengkap?”
“Iya Om, tapi besok siangan kok aku dan Grace bertemu. Oahem….” Lagi-lagi, Chiara mengakhiri kata-katanya dengan menguap, membuat Aaron tersenyum melihat bagaimana Chiara yang berusaha keras untuk menahan kantuknya.
“Kamu sudah mengantuk parah begitu. Tidurlah, nanti barang-barangmu, biar aku yang mengurusnya. Atau nanti kalau keadaan sudah aman, aku akan bangunkan kamu.” Aaron berusaha menjanjikan hal seperti itu pada Chiara agar gadis itu tidak bersikeras lagi.
Dan rencana Aaron cukup berhasil dengan baik, membuat Chiara patuh pada perintahnya untuk tidurb terlebih dahulu.
“Oke Om kalau begitu. Nanti bangunkan Chiara ya, biar Chiara bisa mengambil barang-barang Chiara.” Chiara berkata sambil melangkah ke atas tempat tidur Aaron tanpa ragu, karena sebenarnya selama Aaron tidak ada, dia memang sudah cukup sering tidur di kamar Aaron, apalagi saat dia sedang begitu merindukan Aaron.
“Eh, Om… kenapa Om juga tidak tidur dulu sebentar? Bukannya Om Aaron baru datang dari Amerika hari ini? Terus sudah bermain denganku di timezone. Om Aaron pasti lelah. Lebih baik Om Aaron beristirahat sebentar.” Chiara yang meliaht Aaron masih duduk di sofa tempat mereka duduk sambil menonton televisi tadi, langsung mengingatkan pada Aaron untuk tidur juga sebentar sambil menunggu waktu yang tepat agar mereka bisa memindahkan barang-barang milik Chiara tanpa diketahui oleh Sarah.
“Iya, aku akan tidur di sini supaya tidak mengganggu tidurmu nanti.” Aaron berusaha mencari alasan yang tidak membuat Chiara curiga kalau dia memang sengaja memilih tidur di sofa, daripada harus tidur satu kasur dengan Chiara, yang pasti akan membuat kondisinya semakin sulit untuk mengendalikan diri.
“Lho kenapa Om? Ayolah kita tidur sama-sama di sini. Ini kan kamar Om Aaron, tidak mungkin justru Om Aaron yang harus tidur di sofa. Kasur ini kan ukurannya sangat besar. Masing-masing kitab isa tidur di sisi yang berlawanan, jadi tidak masalah kan? Atau…. Jangan-jangan… Om Aaron takut ya nanti aku apa-apakan? Aku bukan hewan buas Om.” Chiara mengucapkan kata-katanya dengan begitu santai sambil terkikik, tanpa sadar kata-katanya sudah membuat Aaron tersentak kaget.
Oh my God Chiara! Harusnya aku yang mengucapkan kata-kata seperti itu. Bukannya kamu. Kamu ini benar-benar ceroboh dan polos sekali. Tidak sadar kalau itu bisa membuatmu dalam bahaya.
Aaron berkata dalam hati dengan mata melotot, tidak percaya kalau Chiara biasa-bisanya dengan santai mengucapkan kata-kata yang seharusnya ditujukan untuk dia yang merupakan seorang gadis.