
“Tenang saja deh Chiara, aku juga orang yang mengerti tentang sopan santun. Justru karena kamu yang mentraktir, aku berani minta untuk ikut. Kalau Aaron yang mentraktir, tidak mungkin aku ikut dengan kalian. Lagian harusnya kamu bersyukur bisa menambah nilai plus dirimu di depan Aaron dengan mengajakku pergi. Kamu akan terlihat sebagai seorang sepupu yang perhatian dan sayang dengan keluarga dengan mengajakku.” Lagi-lagi Revina berkata dengan sikap percaya diri pada Chiara yang tetap dalam posisi diam.
“Aku akan segera berganti baju dan bersiap-sikap sekarang untuk ikut denganmu. Sebaiknya kamu temui mama dulu di bawah sambil menungguku selesai berganti pakaian. Awas ya kalau kamu berani kabur dan meninggalkan aku!” Revina berkata dengan nada mengancam kepada Chiara yang memilih untuk diam karena dia merasa percuma berdebat dengan Revina yang pasti akan semakin menjadi jika dia berani melakukan itu.
Tanpa menunggu jawaban dari Chiara, Revina segera membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar kembali dari kamar Chiara, membiarkan Chiara yang hanya bisa melenguh pelan karena tindakan Revina yang seenaknya sendiri itu.
Hah! Si Revina ini benar-benar membuatku dalam posisi canggung dan tidak enak. Bisa-bisanya ikut denganku makan malam bersama om Aaron. Padahal aku belum terlalu mengenal bagaimana sifat om Aaron. Apakah dia akan keberatan atau tidak jika Revina ikut bersama kami. Terus, bagaimana ini? Akh…. Benar-benar membuat frustasi.
Chiara berkata dalam hati sambil mendengus kesal karena tindakan Revina.
"Lebih baik nanti aku segera minta maaf pada om Aaron untuk masalah Revina ini. Sebaiknya sekarang aku menemui tante Mona dulu dan meminta ijin keluar rumah untuk makan malam bersama om Aaron. Semoga tante Mona tidak marah dan melarangku pergi." Chiara bergumam pelan sambil meraih tas ransel kecilnya, yang talinya segera dia gantungkan pada bahunya.
Dengan gerakan santai Chiara berjalan keluar dari kamarnya, berniat menemui Mona yang tadi mencarinya.
"Non Chiara...." Suara bi Umi membuat Chiara yang berjalan di ruang keluarga untuk menemui Mona, menghentikan langkah kakinya.
"Eh, Bi Umi? Bi Umi melihat tante Mona tidak? Kata Revina tadi tante Mona sedang mencariku?" Chiara berkata sambil berjalan mendekat ke arah bi Umi yang dilhatnya sedang membawa nampan yang di atasnya terdapat cangkir berisi teh hangat dan juga air mineral.
Selain itu, terdapat 2 buah toples kaca berukuran kecil berisi kue kering yang biasanya disuguhkan jika ada tamu di rumah ini.
"Sedang ada tamu ya Bi Umi?" Chiara yang melihat apa yang ada di atas nampan itu langsung bertanya, bahkan sebelum bi Umi sempat menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.
"Iya Non, dan sepertinya... itu tamu untuk Nona Chiara...." Bi Umi yang sedikit banyak sudah tahu tentang rencana pernikahan Chiara dan Aaron, langsung berkata dengan nada berbisik ke arah Chiara yagn langsung membeliakkan matanya.
"Om Aaron? Maksud Bi Umi tamunya adalah om Aaron?" Sambil tersenyum, dengan cepat bi Umi langsung menganggukkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Chiara.
"Lho... cepat sekali om Aaron datang? Untung sekali aku sudah selesai. Kalau begitu, aku ke ruang tamu dulu Bi Umi." Dengan wajah cerianya, Chiara membalikkan tubuhnya, berniat berlari keluar ke arah ruang tamu untuk segera menemui Aaron yang sudah begitu dirindukannya sejak beberapa hari ini.
Tapi dengan gerakan tidak kalah cepat, Chiara kembali berbalik, dan mendekat kembali ke arah bi Umi.
"Bi Umi... biar aku saja ya yang membawa nampan ini ya. Biar aku yang memberikannya pada om Aaron." Chiara berkata kepada bi Umi dengan wajah menunjukkan aura malu-malu dengan pipi yang terlihat sedikit memerah, membuat bi Umi tersenyum geli.
"Boleh Non. Non Chiara mau belajar bagaimana melayani calon suami Non ya?" Pertanyaan dari bi Umi membuat wajah Chiara semakin memerah.
Dengan gerakan hati-hati, Bi Umi membiarkan Chiara mengambil nampan dari tangannya.
"Hati-hati Non, panas. Memegangnya jangan sampai nampannya miring, dan jangan terlalu banyak bergerak biar tidak tumpah." Bi Umi berusaha memperingatkan Chiara agar teh yang ada dalam cangkir tidak terguncang dan tumpah.
"Siap Bi.... Kalau begitu Chiara ke depan dulu ya Bi. Terimakasih Bi Umi." Chiara berkata sambil bergerak cepat untuk pergi ke arah ruang tamu, membuat bi Umi sedikit terbeliak.
"Eh...." Bi Umi yang melihat bahwa gerakan cepat Chiara terasa membahayakan cangkir yang ada di atas nampan itu terpekik pelan dengan tangan terulur, berusaha mengingatkan Chiara.
Chiara yang mendengar pekikan pelan dari bi Umi segera menghentikan langkahnya, menoleh sebentar ke arah bi Umi sambil meringis, lalu kembali berjalan ke arah ruang tamu.
Kali ini Chiara melakukannya dengan gerakan pelan dan cukup hati-hati, membuat bi Umi menarik nafas panjang dengan wajah lega sambil salah satu tangannya menjauh dari dadanya, yang tadi sempat dipegangnya karena begitu kaget saat melihat cara Chiara membawa nampan itu.
# # # # # # #
"Jadi begitu nak Aaron, kami ingin tahu detail kondisi ruangan pesta agar bisa tahu bagaimana kami bisa bersikap dan juga penempatan posisi kami di acara pesta itu. Karena bagaimanapun kami adalah tante dan om kandung dari Chiara." Mona yang sedang duduk tepat berhadapan dengan Aaron berkata sambil memandang ke arah Aaron, mencoba menilai dan menebak-nebak kelemahan dari sosok laki-laki di depannya itu, agar suatu hari, dia bisa memanfaatkannya untuk keuntungannya pribadi.
"Tidak perlu repot Tante Mona. Seperti kesepakatan kita bersama keluargaku, pesta penikahan kami hanya akan dihadiri oleh keluarga terdekat kita. Jadi tidak ada pengaturan tempat yang istimewa. Karena semua orang yang akan hadir di tempat itu, semuanya adalah orang penting bagi aku dan Chiara." Perkataan Aaron membuat Mona merasa sedikit kesal.
Meskipun sampai sekarang Mona sengaja tidak memberitahukan kepada siapapun tentang rencana pernikahan Aaron dan Chiara (termasuk kepada keluarga Romi), karena perjanjian diantara mereka yang memang untuk sementara waktu tidak mempublikasikan hal itu untuk melindungi masa remaja Chiara, tapi Mona tetap ingin dianggap sebagai tokoh penting di acara tersebut agar bisa menarik simpati orang-orang berpengaruh yang akan hadir hari itu.
Awalnya mau tidak mau karena sudah menyetujui rencana pernikahan antara Chiara dan Aaron tanpa bisa berbuat sesuatu, Mona ingin paling tidak diperkenalkan sebagai wali resmi Chiara di tengah-tengah keluarga Malverich yang lain pada acara pernikahan itu, agar dia bisa menjalin hubungan dengan mereka, dan mulai memikirkan cara untuk melakukan kerjasama bisnis di masa depan bersama orang-orang berpengaruh dan kaya raya itu.