Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
PERTEMUAN KEMBALI



“Kembalilah ke posisi kalian semula. Masih ada waktu sebelum mask men datang ke tempat ini. Kalian harus tetap waspada karena lawan kita bukanlah orang yang bisa dianggap enteng.” Aldrich segera memberikan perintah kepada para orang bertubuh raksasa itu begitu Chiara sudah berada tepat di hadapannya.


Semua yang mendengar perintah Aldrich itu langsung pergi ke tempat mereka masing-masing, seperti yang sudah diperintahkan Aldrich pada mereka.


“Kamu benar-benar terlihat tenang, seperti orang yang benar-benar tidak takut mati. Apa yang membuatmu terlihat begitu percaya diri?” Aldrich berkata dengan nada terdengar meremehkan kepada Chiara, untuk membuat Chiara merasa tertekan dan terintimidasi oleh sikap dan kata-katanya.


“Memangnya kenapa aku harus takut padamu?” Chiara balik bertanya kepada Aldrich.


Setelah beberapa hari ini disandera oleh Aldrich, Chiara mulai mengerti bahwa Aldrich sangat tidak menyukai orang yang tidak terlihat takut dan tidak terintimidasi dengan kata-kata atau tindakan Aldrich.


Aldrich paling tidak suka itu, karena itu membuatnya merasa diremehkan oleh orang tersebut, sehingga seringkali Aldrich menunjukkan sikap mengintimidasi dan arogannya untuk membuat nyali musuh menciut.


Pertanyaan Chiara cukup membuat Aldrich terkejut.


“Bagiku, orang yang selalu mencoba menyerang orang lain, aplagi yang tidak bersalah, tidak menunjukkan kalau dia hebat, justru menunjukkan kalau dia begitu menyedihkan.” Kata-kata Chiara semakin membuat Aldrich terkejut, dengan mata membeliak.


“Beraninya kamu mengatakan hal seperti itu. Kenapa orang kuat sepertiku harus terlihat menyedihkan karena menunjukkan kekuatanku?” Aldrich langsung bertanya dengan wajah dan nada suara tidak terima.


“Menyedihkan, kenapa harus menunjukkan kekuatan agar orang lain melihat dan tunduk padamu? Akan lebih membanggakan kalau seseorang mau menuruti perintahmu karena mereka hormat dan mengakui kepemimpinanmu karena mereka mengakui kehebatanmu, bukan karena takut dan terpaksa. Seperti yang ingin kamu lakukan pada suamiku. Berniat memaksanya untuk bergabung dengan kelompokmu, sedang visi dan misi kalian sungguh jauh berbeda….” Chiara terus saja berusaha memprovokasi Aldrich yang semakin terlihat emosi.


“Kamu…! Kamu benar-benar kurangajar! Beraninya menilaiku tanpa tahu apa-apa TENTANGKU!” Aldrich berteriak cukup keras.


Chiara yang melihat kemarahan Aldrich, sedikit menahan nafasnya, karena sebenarnya dia juga takut menghadapi Aldrich, tapi karena dia tahu saat emosi pikiran Aldrich selalu saja terpecah dan tidak bisa fokus pada apa yang sudah direncanakannya, membuat Chiara sengaja memancing emosi Aldrich saat ini.


“Aku tidak perlu tahu semua hal tentang kamu, tapi dari apa yang sudah kamu lakukan pada orang-orang di sekitarmu, dan semua hal yang pernah kamu lakukan diluar sana, aku yakin kamu adalah orang yang sebenarnya membutuhkan orang lain menunjukkan kasih sayangnya dengan tulus, karena kamu adalah orang yang kesepian. Dan itu karena kamu terlalu berkutat dengan rasa sakit hati dan dendammu.” Chiara mencoba menunjukkan kalau dia bisa mengerti tentang sosok Aldrich meskipun mereka tidak saling mengenal sebelumnya.


“Orang yang kamu sebutkan itu adalah sosok orang yang cengeng, dan itu pasti bukan aku.” Aldrich berkata sambil menyeringai, karena salah satu anak buahnya memberi tanda adanya kehadiran Aaron di tempat itu.


“Sepertinya, suamimu sudah datang untuk menjemputmu, kita berdua akan sama-sama mendengar tentang keputusan pentingnya hari ini. Dan jika sesuatu yang buruk terjadi padamu, jangan pernah salahkan aku. Karena apa yang terjadi padamu ke depannya, semuanya tergantung dari keputusan suamimu.” Aldrich berkata dengan nada mengejek.


“Tidak masalah, entah apapun itu, aku tidak akan pernah menyalahkan suamiku, karena semua keputusan yang dia ambil, aku akan mendukungnya dengan sepenuh hati, bahkan dengan nyawaku sekalipun.” Perkataan Chiara membuat Aldrich tertegun sesaati, tapi sedetik kemudian, dia segera mendengus kesal sambil mengalihkan pandangan matanya dari Chiara, karena semakin lama berbicara dengan Chiara, bagi Aldrich membuat pikirannya jadi berantakan dan tidak tenang seperti biasanya.


Bahkan hatinya jadi sering merasa bimbang dan ragu setiap dia melihat sosok Chiara, dan mengajaknya bicara.


“Selamat datang mask men. Kamu datang jauh lebih cepat dari jam yang sudah ditentukan. Kamu cukup beruntung karena kami orang yang selalu menyiapkan segalanya dengan baik, sehingga kami tidak terlambat menyambut kedatangan tamu kehormatan kami., yang sepertinya sudah siap dengan jawaban baikmu untuk kami.” Aldrich berteriak, dan langsung menyambut kedatangan Aaron yang tampak berjalan dengan sikap elegan ke arah Aldrich.


“Ah… atau kamu sengaja datang lebih cepat karena begitu merindukan istri remajamu ini?” Aldrich langsung menyambung kata-katanya sambil melirik ke arah Chiara yang sedang menatap Aaron tanpa berkedip dengan tatapan penuh cinta dan kerinduan, membuat Aldrich harus menahan detakan dadanya yang tiba-tiba mengencang, karena cara Chiara menatap Aaron, sungguh mengingatkannya pada bagaimana cara Aletta menatapnya.


I miss you my little girl. Really really miss you. Aku sangat lega melihat kamu yang sepertinya baik-baik saja. Kamu benar-benar hebat my little girl


Tanpa perduli dengan kata-kata Aldrich, Aaron berkata dalam hati sambil menatap dalam-dalam ke arah Chiara yang seolah-olah tahu apa yang sedang diucapkan Aaron, menyungingkan senyum manisnya ke arah Aaron.