Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
PERMINTAAN REVINA



“Usaha almarhum om Cakra juga tidak sebesar usaha batubara milik keluarga Richard, jadi kenapa Mama masih memikirkan untuk berusaha merebut usaha itu? Rugi sekali Mama pusing karena bisnis kecil seperti itu, sedang sebuah tambang emas akan menjadi milik kita.” Revina melanjutkan bicaranya dengan sikap percaya diri, membuat Mona akhirnya mau tidak mau menganggap perkataan Revina sangat masuk akal untuk saat ini.


Kalau dia mendapatkan menantu seperti Richard? Kenapa dia harus bersusah payah mencari cara untuk merebut bisnis keluarga Chiara yang notabene jauh lebih kecil dan tidak sebanding dengan bisnis keluarga Richard? Memikirkan itu membuat Mona terliaht jauh lebih tenang dan tidak lagi emosi.


Sebentar kemudian, Mona duduk di pinggiran tempat tidur, menyusul Revina, lalu tersenyum ke arah anak tunggalnya yang merupakan satu-satunya harapan baginya untuk dapat menjaga dan mendukungnya, di saat masa tuanya kelak.


“Benar katamu, buat apa mama pusing memikirkan bisnis perhotelan milik Chiara. Biarkan saja dia mengurus itu….” Mona berkata dengan nada yang terdengar mulai santai.


“Pernikahan kalian tinggal satu bulan lagi. Apartemen yang kita lihat kemarin, ada satu yang paling bagus, yang di daerah X. Lebih baik, kamu bilang pada Richard, agar dia memilih apartemen yang itu saja.” Revina langsung tertawa kecil mendengar perkataan mamanya, karena yang dipilih oleh Mona merupakan apartemen paling mewah di kota itu, sama dengan apartemen yang ditempati oleh Aaron dan Chiara.


Selain karena memang apartemen itu begitu mewah dan mahal, tentu saja Mona dan Revina sengaja memilihnya untuk bisa menunjukkan pada Chiara yang dianggap mereka sengaja memamerkan kemewahan apartemennya ketika mereka berdua berkunjung ke sana dulu.


Richard sendiri pernah mengatakan pada Revina, karena boleh dibilang sangat jarang ada di Indonesia, dia memang sengaja memilih untuk tidak memiliki temapt tinggal, dan menghabiskan waktunya di Indonesia dengan menginap di hotel-hotel mewah.


Karena rencana pernikahan mereka, maka Richard meminta Revina untuk memilih salah satu apartemen yang diinginkannya untuk ke depannya mereka tinggal bersama.


“Richard akan ikut yang mana saja yang menjadi pilihan kita Ma. Hanya saja, untuk sekarang, aku sedang butuh sedikit bantuan dari Mama untuk masalah apartemen.” Revina berkata sambil menjauhkan punggungnya dari sandaran tempat tidur.


“Karena unit apartemen yang ada jumlahnya sangat terbatas, kita harus memberikan uang muka terlebih dahulu sebanyak 30% dari harga apartemen itu. Richard sedang berada di luar negeri, tidak bisa mengurusnya, jadi dia minta bantuan kita untuk sementara menyelesaikan pembayaran uang muka itu. Begitu dia kembali, dia akan segera mengurus pengembaliannya kepada kita.” Mata Mona langsung membualt sempurna karena kaget begitu mendengar apa yan baru saja dikatakan oleh Revina.


“30%? Bukannya harga apartemen itu mencapai puluhan miliar? Artinya angka 30% nya juga merupakan uang yang sangat banyak Revina. Apak amu tahu itu?” Revina langsung menganggukkan kepalanya mendengar perkataan dari Mona.


“Tentu Ma, tapi mau bagaimana lagi? Kata Richard, dana yang dia miliki sebagian besar ada di luar negeri dan untuk mencairkannya butuh beberapa waktu, sedangkan unit apartemen yang kita inginkan, juga sedang dinego oleh orang lain.” Revina menghentikan bicaranya sejenak.


Richard bilang, kalau untuk apartemen yang biasa-biasa saja, kalau sementara saja untuk tinggal dan aku mau, dia akan langsung membelinya tanpa harus uang muka. Tapi aku tidak mau sampai kehilangan kesempatan untuk memiliki apartemen itu Ma. Mama sendiri tahu bagaimana bagusnya apartemen pilihan kita kemarin.” Mona terliaht terdiam mendengar perkataan Revina, karena uang sebanyak itu, dia tidak memilikinya.


“Ma….” Revina memanggil Mona yang tampak diam termenung.


“Ayolah Ma, bantu kami sekali ini, demi masa depanku juga. Mama jangan khawatir, penyerahan uang itu akan ada tanda terimanya di depan notaris, secara resmi. Uang itu pasti kembali secepatnya, apalagi, dua minggu lagi Richard juga harus datang untuk mengecek persiapan pernikahan kami.” Revina mencoba untuk tetap merayu Mona yang tampak bingung.


“Tapi Revina… mama mana punya uang sebanyak itu?” Sedangkan kita masih punya pinjaman di bank yang masih harus dibayar. Dan kamu tahu kondisi kita yang semakin sulit sejak Aaron mencabut hak wali mama dari Chiara, dan kewenangan untuk mengatur dana bulanan Chiara.” Mona berkata sambil menggigit bagian bawah bibirnya.


(Jaminan atau agunan adalah aset atau barang-barang berharga milik pihak peminjam yang dijanjikan atau dititipkan kepada pemberi pinjaman sebagai tanggungan atau jaminan atas pinjaman yang diterima jika peminjam tidak dapat mengembalikan pinjaman atau memenuhi kewajiban peminjam tersebut).


“Mungkin… idemu bisa mama pikirkan….”


“Aduh Ma… jangan dipikirkan, buat apa? Langsung Mama jalankan saja. Kalau tidak, kalau sampai aku tidak bisa mendapatkan apartemen itu karena didahului orang lain. Aku akan marah dan kecewa pada Mama. Itu artinya, Mama ingin aku selalu diejek oleh Chiara dan direndahkan oleh gadis ingusan itu! Paling tidak berikan aku muka pada Richard! Jangan sampai dia berpikir kita adalah orang-orang pelit yang hanya memikirkan uang saja.” Mona langsung menghela nafas panjang mendengar ancaman dari Revina.


“Jangan sampai pernikahanku dan Richard gagal karena Mama tidak mau membantuku! Jangan sampai aku melahirkan anak tanpa ayah Ma!” Revina berkata dengan wajah kesal.


“Iya… iya… mama akan bicarakan dengan papamu sebentar.”


“Eh, Ma.” Revina langsung berkata sambil meraih tangan Mona, lalu menggenggamnya dengan erat.


“Jangan sampai papa tahu. Dia pasti tidak akan setuju. Karena bagaimanapun rumah ini masih atas nama om Cakra.” Revina langsung mengingatkan Mona.


“Ah… aku benar-benar tidak berpikir sampai kesana. Kalau begitu besok mama akan coba mengurusnya sendiri.” Mona akhirnya menyerah juga terhadap permintaan Revina.


“Terimakasih Ma. Aku jamin, Mama tidak akan kecewa memiliki menantu seperti Richard.” Revina berkata sambil mencium pipi Mona yang hanya bisa tersenyum, meskipun dalam hatinya saat ini dia merasa begitu ragu dan merasa tidak tenang dengan apa yang akan dilakukannya besok.


# # # # # # #


Angelina duduk terdiam dengan wajah terlihat begitu tegang, begitu mendengar kata-kata Aaron yang mempertegas keputusannya untuk tatap tinggal di Indonesia.


“Kenapa? Kenapa kamu begitu keras kepala Aaron?” Angelina menatap ke arah Aaron dengan pandangan mata tajam.


Meskipun pembicaraan mereka kali ini tidak dipenuhi dengan emosi yang membuat nada bicara mereka meninggi, tapi dari wajah dan tingkah laku Angelina maupun Aaron, terlihat jelas mereka sedang berusaha saling menahan diri untuk berbicara dengan tenang tanpa melibatkan emosi yang berlebihan, meskipun sejujurnya, Angelina merasa begitu kecewa dengan keputusan Aaron.


Dan itu bukan hal yang mudah, baik bagi Aaron maupun Angelina, apalagi kejadian di ruang meeting baru saja terjadi beberapa jam yang lalu.