
“Eh…. Anu….”
“Katakan dengan jelas! Kita disana hanya menumpang! Jangan pernah berpikir untuk menjual atau menggadaikan rumah yang merupakan milik kak Cakra! Selama ini aku hanya diam melihat keserahakanmu. Tapi kali ini kamu sudah keterlaluan!” Seperti orang kesetanan, Raksa berteriak keras sambil melotot tajam ke arah Mona yang semakin kaget melihat bagaimana kemarahan Raksa saat ini.
Revina yang melihat pertengkaran orangtuanya, hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa, karena dia juga sadar diri kalau dialah salah satu alasan terbesar kenapa kedua orangtuanya bertengkar saat ini.
Sesekali Revina melirik ke arah pintu kamar rawat inap tempatnya dirawat sekarang, khawatir kalau keributan di kamarnya membuat orang lain mendengar dan datang, yang pasti akan membuat malu keluarganya.
Revina cukup beruntung, karena Aaron tadi sengaja memesankan kamar dengan kelas VVIP untuk Revina.
Sebuah ruangan dengan ukuran cukup besar, dan tidak terlalu banyak orang berada di seitar lokasi itu, karena mahalnya biaya per malam, sehingga tidak semua orang mampu membayar biaya rumah sakit dengan tipe kelas VVIP.
Dan itu membuat suara pertengkaran yang terjadi di dalam kamar Revina, tidak begitu jelas terdengar dari luar kamar.
“Semua karena anakmu yang tidak bisa memilih pasangan dengan baik! Yang akhirnya terjerumus dengan seorang penipu kelas kakap!” Mona kembali berteriak meskipun tidak sekeras yang sebelumnya sambil menarik tangannya dari cekalan tangan Raksa yang mulai melonggar.
"Bukannya kamu sendiri yang memaksa Revina untuk mengikuti acara kencan buta dengan Richard? Kamu bilang kamu mengenal mama Richard dari hasil kumpul-kumpulmu dengan para ibu-ibu sosialita. Makanya, jangan hanya sibuk bergaul dengan orang-orang yang sibuk memamerkan kekayaannya. Itu hanya akan membuatmu terjerumus seperti ini." Raksa berkata dengan nada menyindirnya, sengaja melakukan itu kepada Mona karena dia merasa sangat kesal sekarang dengan sikap Mona yang tetap tidak menunjukkan rasa bersalahnya sama sekali.
“Laki-laki kurangajar itu yang sengaja merayu Revina untuk dia yang memberikan DP untuk apartemen mewah yang akan mereka tempati setelah menikah. Dan Revina merayuku untuk mengambil pinjaman di bank menggunakan sertifikat rumah kita sebagai jaminan. Tapi ternyata uang itu sekarang raib, diambil oleh Richard si penipu itu." Mata Raksa memandang Mona dengan tidak percaya mendengar penjelasan dari Mona barusan.
"Apa maksudmu? Itu bukan rumah kita. Kita hanya beruntung saja bisa menempatinya sekarang. Bagaimana bisa kamu menggunakan milik orang lain sebagai jaminan atas hutangmu?" Raksa langsung memprotes keras tindakan istrinya yang sudah berani-beraninya melakukan hal tidak sopan seperti itu terhadap milik orang lain.
"Jangan berharap. Itu hanya akan jadi sebuah mimpi! Uang tabungan kita tidak akan cukup untuk membayar hutang itu, karena uang muka apartemen itu meski hanya 30% dari harga aslinya, tetap saja nilainya sangat banyak. Lagian... semua uang tabungan kita sudah dihabiskan oleh anak perempuanmu itu untuk membeli semua perabotan mewah yang akhirnya justru hilang bersama dengan Richard yagn melarikan diri bersama dengan orang yang sudah berpura-pura sebagai perantara antara Richard dengan pihak pengelola apartemen." Mona berkata dengan wajah terlihat begitu kesal.
"Sekarang tidak ada uang sepeserpundalam rekening kita." Perkataan Mona berikutnya membuat tubuh Raksa tersentak kaget dan menegang, mundur dua langkah sambil memegang dadanya dengan telapak tangannya kerena tiba-tiba terasa nyeri yang amat sangat.
"Ap... apa maksudmu? Bag... bagaimana bisa kalian... memutuskan hal seperti itu tanpa melibatkan aku?" Dengan suara terputus-putus, Raksa berusaha menyampaikan kata-kata protesnya, sebelum akhirnya tubuh Raksa ambruk ke lantai dengan posisi tangan masih tetap memegang bagian dadanya yang sakit.
Meskipun tabungan yang dia miliki tidak banyak seperti ketika Cakra masih hidup dan dia banyak dibantu oleh kakaknya itu, tapi dengan telaten Raksa mengumpulkan tabungan itu selama bertahun-tahun, dan selalu berusaha menjaganya dari keinginan Mona yang seringkali ingin menggunakannya untuk sesuatu yang tidak penting.
"Pa!" Revina langsung memanggil papanya dengan sikap panik begitu melihat apa yang terjadi pada Raksa.
Dengan cepat dan terburu-buru, Revina langsung menekan tombol emergency yang ada di samping tempat tidurnya untuk memanggil perawat yang berjaga, agar segera menolong Raksa.
Mona yang melihat itu hanya bisa terpekik pelan dengan kedua telapak tangannya menutupi bibirnya yang terbuka karena begitu kaget melihat apa yang terjadi pada Raksa.
# # # # # # #
"Semoga om Raksa cepat sembuh, besok pagi aku akan menjengukmu dan om Raksa. Maaf ya, hari ini jadwal kuliahku full dan ada meeting di hotel sampai sore, belum bisa ke rumah sakit mengunjungimu." Chiara yang sedang melakukan panggilan telepon dengan Revina, tampak beberapa kali mengerutkan keningnya, dan menggigit bagian bawah bibirnya selama pembicaraan mereka, menunjukkan bahwa beberapa isi dari pembicaraan mereka bukanlah suatu berita baik.
Chiara yang tadi sengaja menghubungi Revina untuk menanyakan kondisi dan kabarnya hari ini sambil menungg makanan yang dipesannya bersama Aaron datang merasa sangat kaget saat Revina menceritakan tentang apa yang terjadi pada Raksa kemarin setelah dia dan Aaron meninggalkan rumah sakit.