Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
TIKET KONSER



Angelina tahu dengan jelas karena sudah sejak lama mengenal Aaron, bahwa saat ini lebih baik dia membiarkan Aaron melakukan apa yang dia mau, baru setelah Aaron tenang, Angelina yakin dia pasti akan mencoba menjelaskan dengan baik-baik, sebenarnya apa yang dia pikirkan.


“Baik Nona, kita pergi sekarang.” Zachary berkata sambil menggeser tubuhnya ke samping, membiarkan Angelina untuk lebih dahulu berjalan mendahuluinya.


“Tolong untuk semua berkas yang aku tinggalkan, bawa ke kantor besok bersamamu Zachary. Karena bagaimanapun aku datang ke sini untuk menyelesaikan pekerjaan yang tertunda karena Aaron membatalkan kepergiannya kembali ke Amerika.” Angelina berkata sambil melirik ke arah meja dimana tumpukan berkas yang dia bawa jauh-jauh dari Amerika, saat ini tergeletak begitu saja setelah Aaron memutuskan untuk tidak meneruskan pekerjaannya sore ini.


Tanpa diperintah untuk kedua kalinya, Zachary langsung merapikan dan mengambil berkas-berkas itu bersamanya, berencana menyimpannya di kantor setelah mengantar Angelina kembali ke hotelnya.


# # # # # # # #


“Chiara….” Suara Aaron yang memanggil namanya membuat Chiara yang sedang menyisir rambutnya langsung menoleh dan mempercepat gerakan tangannya yang sedang menyisir rambutnya, lalu sedikit melemparnya dengan sembarangan di atas meja riasnya.


“Iya Om! Tunggu sebentar.” Chiara menjawab panggilan Aaron sambil bergegas membuka pintu kamarnya.


“Iya Om Aaron… ada apa?” Suara ceria Chiara, wajah manis dengan senyumnya yang menawan, membuat Aaron tersenyum dan sedikit melupakan perdebatannya tadi dengan Angelina di ruang kerjanya.


“Sore ini, biar aku yang mengantarmu pergi ke rumah temanmu untuk kerja kelompok.” Perkataan Aaron sukses membuat mata Chiara terbeliak, membulat sempurna dengan wajah tidak percayanya, dan tentu saja bercampur dengan aura bahagia yang tak terkira.


“Eh, tapi Om Aaron, bukannya Om Aaron dan Angelina masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan hari ini?” Chiara mencoba mengingatkan Aaron, meskipun dalam hati Chiara berharap Aaron tidak membatalkan niatnya untuk mengantarnya karena perkataannya barusan.


“Aku akan mengurusnya besok.” Aaron menjawab pertanyaan Chiara dengan singkat, tanpa berusaha menjelaskan apa yang sudah terjadi sehingga dia memutuskan untuk menunda pekerjaanya yang menumpuk tadi.


“Setelah pulang dari kerja kelompok. Nanti aku jemput, kita makan malam di luar. Khusus hari ini Zachary tidak akan memberikan pelajaran padamu. Aku akan memberitahukannya, karena dia ada urusan yang harus diselesaikannya sore ini.” Perkataan Aaron kali  ini kembali membuat Chiara memandang Aaron dengan tatapan tidak percaya, sekaligus wajah malu-malunya.


Karena mendengar kata-kata Aaron barusan, Chiara bisa menilai kalau Aaron dan dia akan bisa menghabiskan banyak waktu malam ini, dan itu tentu saja membuat angan Chiara melambung tinggi.


“Mau berangkat sekarang?” Aaron bertanya kepada Chiara yang terlihat sudah berpakaian rapi, hanya saja belum membawa tasnya.


“Oke Om, sebentar, aku ambil tasku dulu. Supaya cepat, aku pakai tas sekolahku saja, biar aku keluarkan beberapa buku yang tidak aku pakai sebentar ya Om.” Dengan langkah cepat dan ceria, Chiara kembali mendekati meja riasnya, dimana tadi setelah bertemu dengan Aaron di ruang tamu, begitu masuk ke kamarnya, Chiara melemparkan tas sekolahnya ke atas meja riasnya, sebelum akhirnya dia mandi untuk mendinginkan kepalanya yang mulai terasa panas karena rasa cemburunya kepada Angelina tadi.


Aaron yang awalnya berdiri di depan pintu, ikut masuk ke dalam kamar Chiara, sambil mengamati sekeliling ruangan itu.


Sudah beberapa bulan Chiara tinggal di kamar itu, dan melakukan beberapa perubahan dengan menambahkan beberapa aksesories di kamarnya, dan mengubah beberapa tata letak furniture yang ada di dalamnya.


Meskipun beberapa kali Aaron sempat melakukan teleportasi dan memandangi sosok Chiara dari jendela kamarnya, namun biasanya Aaron hanya fokus pada sosok Chiara yang sedang terlelap di atas tempat tidur, dengan suasana redup karena hanya lampu tidur yang dinyalakan oleh Chiara.


Akan tetapi sore ini, Aaron bener-benar mengamati kondisi kamar Chiara setelah beberapa bulan tidak pernah datang ke tempat itu, dan dia cukup menikmati perubahan itu, yang baginya terasa indah.


Suasana kamar Chiara yang sekarang ini, bagi Aaron menunjukkan bagaimana sosok orang yang tinggal di dalamnya, ceria, nyaman, hangat, dan membuatnya bisa merasakan cinta.


Dengan gerakan secepat yang dia bisa, Chiara membuka resleting tas sekolahnya, mengeluarkan beberapa buku yang tidak dia perlukan untuk kerja kelompok sore ini.


Karena terlalu terburu-buru, Chiara tidak sadar kalau saat dia menarik salah satu buku yang ada di dalam tasnya, sebuah amplop berwarna merah muda, ikut tertarik dan jatuh tepat di bawah kakinya.


Aaron yang kebetulan melihat ke arah Chiara dan melihat ada yang terjatuh, segera  membungkukkan tubuhnya untuk mengambil amplop berwarna merah muda itu dari lantai kamar Chiara.


Awalnya Aaron ingin langsung menyerahkan amplop itu kepada Chaira, namun melihat simbol yang tertera di salah satu sudut amplop itu adalah simbol yang dimiliki oleh usaha perhotelan milik Romi, Aaron langsung menghentikan gerakan tangannya yang sudah hampir terulur ke arah Chiara.


“Chiara….” Suara panggilan dari Aaron langsung membuat Chiara yang sudah menutup tasnya kembali menoleh.


Dan mata Chiara sedikit terbeliak kaget melihat kalau saat ini, di tangan Aaron terlihat sebuah amplop merah muda, berisi tiket konser yang diberikan Romi padanya melalui pihak sekolah sebagai hadiah ulang tahunnya yang sedikit terlambat.


Saat menerima amplop itu, sebenarnya Chiara dengan buru-buru ingin mengembalikannya, tapi kurir yang diperintah oleh Romi sudah pergi meninggalkan area sekolah, sedang jujur saja, Chiara tidak memiliki nomer kontak Romi, dan juga tidak ingin memilikinya, membuat Chiara tidak tahu bagaimana cara terbaik untuk mengembalikan tiket konser itu.


Chiara memang begitu menyukai grup band dari luar negeri yang akan tampil live itu, tapi mengingat tiket konser itu berasal dari seseorang yang hampir saja membuatnya kehilangan masa depan, membuat Chiara memilih untuk tidak melihat konser itu.


“Kenapa ada amplop dengan logo hotel milik keluarga Romi di tasmu Chiara?” Aaron mencoba bertanya dengan sikap setenang mungkin, meskipun dadanya saat ini sedang bergemuruh karena merasa cemburu sekaligus tidak suka mengetahui Romi masih saja berusaha untuk berhubungan dengan Chiara.


Bagi Aaron, dia percaya sepenuhnya pada Chiara, bahwa gadis kecilnya itu tidak akan mau menjalin hubungan sekecil apapun dengan Romi karena cerita mereka di masa lalu, tapi Aaron, tidak percaya sama sekali dengan Romi yang baginya seperti serigala berbulu domba itu.


“Eh… anu Om… itu hadiah ulang tahun dari Romi, tadi siang dititipkan ke pihak sekolah… Aku berencana mengembalikannya tapi aku tidak tahu bagaimana caranya….”


“Apa isinya?” Aaron memotong perkataan Chiara dengan sebuah pertanyaan sambil membuka penutup amplop berwarna merah muda itu, untuk melihat isi di dalamnya.