
"Bagaimana kalau disumbangkan saja?" Grace langsung memberikan usul kepada Chiara yang sudah berjalan, mendekati pintu gerbang sekolah.
"Ide bagus, tapi disumbangkan ke siapa coba? Panti asuhan? Panti jompo? Atau ke siapa?" Jaka yang merasa sedikit menyesal tidak mendapatkan traktiran dari uang itu, berkata dengan nada suara yang terdengar asal-asalan.
"Kalau aku sih, bukannya tidak mau membantu mereka, tapi apa tidak lebih baik kita bantu orang-orang yang paling dekat dengan kita dulu? Yang benar-benar membutuhkan?" Grace berkata sambil melirik ke arah Chiara yang sedang tersenyum.
"Tenang saja, yang membutuhkan sudah tampak di depan mata." Chiara berkata sambil bergegas, berjalan ke arah seorang wanita berusia sekitar 30-an, yang sedang menyapu halaman sekolah, sedang di sampingnya sedang berjongkok seorang anak laki-laki mengenakan seragam SD, sedang membantunya mencabuti rumput di halaman sekolah.
"Selamat siang Bu Ana." Sapaan dari Chiara membuat wanita yang dipanggil bu Ana oleh Chiara itu menoleh, dan langsung menyungingkan sebuah senyum lebar.
Ana merupakan istri dari tukang kebun di sekolah itu, yang harus rela menggantikan suaminya yang sekarang tidak bisa lagi bekerja terlalu keras secara fisik, tidak boleh terlalu lelah, karena penyakit kelainan ginjal, yang mengharuskannya untuk cuci darah seminggu dua kali di rumah sakit.
(Cuci darah atau Hemodialisis berasal dari kata “hemo” artinya darah, dan “dialisis ” artinya pemisahan zat-zat terlarut. Hemodialisis berarti proses pembersihan darah dari zat-zat sampah, melalui proses penyaringan di luar tubuh. Hemodialisis menggunakan ginjal buatan berupa mesin dialisis.
Cuci darah atau hemodialisis adalah prosedur untuk menggantikan fungsi ginjal yang sudah tidak bisa bekerja dengan baik akibat kerusakan pada organ tersebut. Prosedur ini juga membantu mengontrol tekanan darah dan menyeimbangkan kadar mineral dalam darah, seperti kalium, natrium, dan kalsium.
Ginjal adalah sepasang organ yang terletak di bawah tulang rusuk bagian belakang. Ginjal memiliki fungsi yang beragam, di antaranya untuk mengatur keseimbangan cairan di dalam tubuh, menyaring zat sisa metabolisme, melepas hormon yang mengatur tekanan darah, dan mengendalikan produksi sel darah merah.
Cuci darah diperlukan bagi seseorang yang menderita kerusakan ginjal berat, di mana fungsi-fungsi ginjalnya sudah tidak dapat lagi berjalan dengan baik. Cuci darah dapat memberikan kesempatan bagi penderita gagal ginjal untuk tetap bisa menjalani aktivitas sehari-hari dengan normal).
Pihak sekolah memang membantu biaya perawatan di rumah sakit, dan memberikan tumpangan berupa sebuah bangunan rumah sederhana yang ada di salah satu sisi area sekolah, yang berada di pojokan, agak ke dalam.
Tapi kondisi kesehatan yang mengharuskan Ana sebagai istri menggantikan kerja suaminya, sambil mengurus suami dan ketiga anaknya yang masih kecil, membuat kehidupan ekonomi mereka menjadi pas-pasan.
Apalagi, Yayasan milik Aaron itu, hanya memiliki sekolah tingkat SMP dan SMA, tidak memiliki sekolah sekelas SD atau play group.
Belum lagi, kepala sekolah tempat Chiara bersekolah ini, memiliki sikap yang tidak terlalu perduli pada para pegawai di bawahnya.
Meski gaji yang diberikan oleh pihak sekolah tidak sedikit, tapi karena kondisi suami Ana yang membutuhkan perhatian khusus terkait makanan dan asupan vitamin yang harus dipenuhi, dan juga obat-obatan yang harganya tidak murah, membuat Ana harus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
Sehingga setelah membersihkan lingkungan sekolah yang cukup luas bersama beberapa tukang kebun yang lain, sore sampai tengah malam, dia akan bekerja sebagai penjaga warung kopi yang letaknya tidak jauh dari sekolah tempat Chiara menuntut ilmu tersebut.
Chiara berkata dalam hati sambil mengelus-elus kepala Irwan, anak SD yang merupakan anak pertama dari Ana itu, anak yang selalu rajin membantu orangtuanya, dan sering mendapatkan snack dari Jaka.
"Siang non Chiara. Sudah mau pulang? Seperti biasa ya, pulang bersama non Grace dan nak Jaka?" Ana langsung menghentikan pekerjaannya dan membalas sapaan Chiara.
"Bu Ana. Masuk sebentar yuk ke rumah." Tanpa merasa cnggung, Chiara yang memang cukup dekat dengan Ana langsung menggamit lengan Ana dan mengajaknya berjalan kembali ke bagian dalam halaman sekolah, kemudian masuk ke dalam rumah sederhana yang sudah disediakan oleh pihak sekolah untuk keluarga Ana.
"Siang Pak Toni...." Begitu masuk ke dalam rumah dan melihat suami Ana, Chiara langsung menyapanya dengan hangat.
Toni yang sedang menyuapi makan kedua anaknya yang lain langsung menyunggingkan senyum melihat kehadiran Chiara yang biasanya bersama kedua sahabatnya itu sering memberi mereka makanan, dari uang jajan mereka.
Hari ini kondisi Toni terlihat segar, karena kemarin sore dia baru saja menjalani jadwal cuci darahnya.
Apalagi dengan semangat hidup Toni yang demikian tinggi, membuat Toni yang jika kondisi fisiknya memungkinkan, selalu berusaha untuk membantu istrinya, meski hanya pekerjaa-pekerjaan ringan, seperti menyuapi makan anaknya, atau menemaninya belajar, bahkan sedikit membantu membereskan rumah.
“Wah, kalian sudah pulang sekolah? Apa tidak ada tugas kelompok dan banyak tugas? Kok tidak langsung pulang hari ini?” Toni langsung menyambut kedatangan ketiga murid SMA itu.
Begitu Chiara menyampaikan niatnya untuk memberikan uang beasiswa yang baru saja dia dapat hari ini kepada mereka, baik Ana maupun Toni hanya bisa saling memandang dengan wajah tidak percaya.
Setelah itu mereka mengalihkan pandangan mata mereka pada ketiga murid SMA itu dengan pandangan haru, dan akhirnya membuat mereka berdua meneteskan airmata.
"Aduh, jangan menangis Bu, Pak." Chiara berkata sambil menahan tangisnya, begitu juga dengan Grace dan juga Jaka yang hidungnya tampak memerah karena ikut menahan haru dan menahan tangis.
"Tapi Non Chiara, bukannya seharusnya, itu adalah hak Non Chaira? Yang didapatkan dari hasil kerja keras, usaha belajar Non Chiara?" Ana berkata sambil berusaha menghapus airmata yang menetes di pipinya.
"Justru karena itu sudah menjadi hakku Bu, berarti aku bebas menggunakannya untuk apa saja. Atau memberikannya kepada siapa saja." Chiara berkata dengan wajah dan suaranya yang sudah ceria kembali, membuat Ana tersenyum.
"Non Chiara, beasiswa itu bisa Non Chiara gunakan untuk biaya Non Chiara kuliah...."
"Aduh Bu, jangan memikirkan biaya kuliah Chiara. Chiara masih memiliki cukup uang untuk sekedar membiayai Chiara kuliah. Apalagi sebentar lagi Chiara juga akan menik.... Eh, meneruskan sekolah Chiara...." Chiara berkata sambil meringis, karena hampir saja dia mengatakan pada Ana bahwa sebentar lagi dia akan menikah.