Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
MENGANTAR REVINA PULANG



“Eh… tapi….” Revina berkata dengan suara terdengar ragu-ragu.


“Jangan merasa ragu dan sungkan. Bukannya aku ingin memaksamu, tapi aku sebagai pria memiliki prinsip untuk bertanggung jawab mengantar pulang gadis yang pergi bersamaku. Jadi, ijinkan aku untuk bisa menjadi laki-laki yang bertanggung jawab malam ini, meski hubungan kita masih belum jelas.” Perkataan manis Richard membuat Revina terdiam sesaat dan akhirnya menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju dengan permintaan Richard.


Dengan gerakan pelan, Revina mengambil kunci mobil dari tasnya dan menyodorkannya di atas meja kea rah Richard, menyerahkan kepada Richard yang langsung menerimanya dan menghubungi seseorang lewat teleponnya.


Tidak berapa lama kemudian, ruang VIP tempat mereka menikmati makan malam mereka diketuk, dan tampak seorang laki-laki muda, dengan mengenakan baju safari berwarna hitam.


“Selamat malam Pak Richard.” Dengan sikap hormat laki-laki itu menyapa Richard dan berjalan mendekat ke arah Richard.


“Ini kunci mobil Nona Revina, tolong nanti kamu antarkan pulang ke rumahnya. Setelah ini aku juga akan mengantar Nona Revina pulang, dan aku akan menyetir sendiri. Tolong siapkan mobilku di depan pintu restauran.”


“Baik Pak Richard.” Laki-laki itu segera menjawab perintah Richard, dan mengambil kunci dari atas meja, lalu segera pergi untuk melaksanakan perintah Richard.


“Oke, beres semuanya. Kalau begitu, kita pulang sekarang.” Richard berkata sambil menggerakkan tangannya ke arah samping tubuhnya, memberi tanda untuk mempersilahkan Revina berjalan lebih dahulu meninggalkan ruangan itu.


“Terimakasih untuk kunjungannya Pak Richard, Nona Revina…. Ditunggu kembali kunjungan Anda berdua selanjutnya….” Dua pelayan yang ada di dekat pintu ruangan VIP berkata dengan tubuh sedikit membungkuk untuk mengucapkan selamat tinggal dengan sikap hormat.


“Ya, selamat malam….” Richard segera menjawab perkataan kedua pelayan itu sambil tersenyum ramah.


# # # # # # # #


Mona yang sengaja duduk di ruang tamu, sambil menunggu kedatangan Revina agar dapat menceritakan tentang kencan butanya malam ini, beberapa kali tampak menoleh ke arah pintu rumah yang dibiarkannya tetap terbuka, meskipun jarum jam sudah menunjukkan angka 10 malam lebih.


Karena itu, begitu ada sebuah mobil mewah tampak memasuki halaman rumahnya, Mona langsung bangkit dari duduknya, dengan matanya memandang dengan penuh selidik siapa yang semalam ini datang berkunjung ke rumahnya dengan mengendarai mobil mewah, tanpa membuat janji terlebih dahulu.


Meskipun Mona masih berada di dalam ruang tamu dan tidak keluar untuk menyambut siapa yang datang, dengan kepala yang melongok ke arah pintu masuk rumahnya, Mona tampak memandang tanpa berkedip dengan tatapan mata terlihat begitu penasaran dan rasa ingin tahu yang begitu besar.


“Revina?” Suara gumaman pelan terdengar dari bibir Mona yang tampak kaget begitu melihat ke arah mobil, dimana di bagian salah satu sisi mobil,  tampak Revina keluar dari mobil, sambil membawa sebuah buket bunga yang tampak indah di pelukannya.


Wajah Mona tampak terlihat semakin heran, karena ketika berangkat tadi, jelas-jelas Revina menyetir mobilnya sendiri untuk pergi ke kencan buta kali ini.


Tapi entah kenapa malam ini dia datang bersama dengan mobil lain.


Richard yang awalnya ingin membantu Revina membuka pintu mobilnya hanya tersenyum tipis begitu melihat Revina yang sepertinya tidak sabar, sehingga memutuskan untuk dia segera keluar dari mobil.


Belum lagi pertanyaan dalam hati Mona terjawab, beberapa saat kemudian, tampak mobil yang sebelumnya tadi dikendari oleh Revina, memasuki halaman rumah mereka, dan diparkir tepat di samping mobil mewah itu.


“Lho? Mama belum tidur?” Revina langsung menyapa Mona yang matanya sibuk melirik ke arah laki-laki tampan dengan setelan jas rapi dan terlihat mahal yang baru saja turun dari mobil.


“”Selamat malam Tante… Tante pasti Tante Mona, mama Revina ya?” Richard langsung menyapa Mona dengan sikap ramah, dan mengulurkan tangannya, yang disambut dengan ragu oleh Mona.


“Iya, Mona…. Darimana kamu tahu aku mamanya Revina? Ap akita pernah bertemu sebelumnya?” Richard langsung tersenyum begitu mendengar pertanyaan dari Mona.


“Richard. Hanya sekedar menebak Tante. Karena wajah Tante dan Revina terlihat mirip… sama-sama terlihat cantik….” Richard yang mendapat sambutan tangan dari Mona menyebutkan namanya dengan sikap sopan, membuat Mona akhirnya tersenyum dengan sedikit menganggukkan kepalanya, apalagi mendengar kata-kata manis, berisi pujian dari Richard untuknya.


“Ooo, nak Richard? Senang bertemu denganmu malam ini. Meskipun aku dan mamamu masih bertemu sekali dua kali, tapi dia sudah banyak menceritakah hal tentangmu. Kami juga hampir setiap hari saling berkirim pesan.” Mona berkata sambil menatap Richard dengan tatapan senang, karena sosok Richard yang kaya raya, ternyata juga tampan.


“Ah, mama pasti terlalu membesar-besarkan cerita tentang aku Tante….” Dengan sikap sopan, Richard mengucapkan kata-katanya yang terdengar kalau dia sedang merendah.


“Eh, sampai lupa…. Ayo masuk… nak Richard….” Dengan cepat Mona mempersilahkan Richard untuk masuk ke dalam rumah.


“Ah, Tante… maaf… bukannya saya tidak mau mampir, tapi ini sudah larut malam, Tante dan Revina pasti butuh waktu untuk segera beristirahat. Aku juga harus mempersiapkan diri untuk besok terbang ke Jerman…. Aku janji, lain waktu aku pasti akan mampir.” Mata Mona terlihat sedikit berbinar mendengar bagaimana Richard mengatakan kalau dia harus terbang ke Jerman besok pagi.


Wah… ke Jerman? Pasti untuk urusan bisnisnya. Sepertinya, kali ini Revina benar-benar mendapatkan seorang pangeran berkuda putih yang kaya raya. Dan ternyata bukan hanya sekedar kaya, tapi juga tampan dan sangat manis sikapnya. Benar-benar seperti menemukan berlian.


Mona berkata dalam hati dengan perasaan puas, melihat sepertinya kencan buta Revina malam ini berjalan dengan lancar.


“Ooo, oke… oke… jangan merasa terbeban karena hal sepele seperti itu.” Mona buru-buru menanggapi perkataan Richard.


“Kalau begitu, lebih baik nak Richard pulang saja sekarang, beristirahat, karena besok adalah perjalanan yang cukup jauh, harus ke Jerman.” Dengan senyumnya, Mona berkata kepada Richard.


“Permisi Pak Richard.” Richard langsung menoleh begitu mendengar perkataan dari sopirnya, yang menyodorkan kunci mobil milik Revina kepadanya.


“Baiklah, selamat malam Tante Mona, Revina. Aku akan menunggu jawabanmu.” Richard berkata lembut, dengan tangannya yang tiba-tiba saja meraih tangan Revina, mengarahkan telapak tangannya ke atas, lalu memberikan kunci mobil miliknya ke atas tangan Revina, lalu menggerakkan tangan Revina agar menggenggam kunci mobilnya itu, agar tidak terjatuh.


Revina sedikit tersentak kaget mendapatkan sentuhan dan perlakukan lembuat dari Richard yang sungguh tidak disangka-sangka olehnya itu.


Setelah menepuk-nepuk lembut tangan Revina yang tergenggam, Richard melepaskan tangan Revina sambil tersenyum ke arah Mona yang tadinya menatap dengan wajah tidak percaya dengan apa yang baru saja terjadi.


“Se… selamat malam Richard. Terimakasih untuk makan malam yang indah hari ini.” Revina berkata dengan sedikit gugup, karena sentuhan hangat tangan Richard pada tangannya barusan.


“Baiklah, aku pulang. Semoga mimpi indah malam ini Revina.” Richard berbisik pelan ke telinga Revina sebelum dia menjauhkan tubuhnya dan berjalan ke arah mobilnya sambil melambaikan tangannya ke arah Revina yang berdiri mematung di tempatnya, dengan dada yang berdetak keras karena tindakan dan sentuhan lembut Richard barusan.