
Belum lagi tangan Aaron juga ikut bergerak memberikan kenikmatan dengan mengelus atau memijat lembut bagian tubuh Chiara yang langsung menggeliat karena merasakan kenikmatan yang baru kemarin malam dia mengenalnya, yang mau tidak mau membuat Chiara mengeluarkan suara lenguhan dan dessaa...han lewat bibir mungilnya, membuat hasrat Aaron semakin menggila.
Dan itu semakin membuat pikiran Aaron menggila, dan semakin menginginkan melakukan penyatuan mereka, untuk menunjukkan betapa dia mencintai istri kecilnya itu, betapa dia hanya ingin hidup untuk membahagiakan Chiara, mencintai dan melindunginya dengan sepenuh hatinya.
"I love Chiara... my lovely wife." Berkali-kali, kata-kata itu terus terucap dari bibir Aaron yang dadanya begitu penuh dengan rasa bahagia, melihat wajah cantik istrinya yang begitu menikmati sentuhan dan cumbuannya, juga bagaimana mereka yang saling menikmati kedekatan mereka saat ini, menunjukkan kalau mereka adalah dua orang yang begitu saling mencintai.
Begitu nikmatnya mereka berdua melakukan percintaan mereka, sehingga suara panggilan telepon dari Zachary yang ingin menanyakan apakah para pelayan boleh mengirimkan makan malam mereka, tidak lagi diperdulikan oleh Aaron.
Bahkan Aaron dengan sengaja meraih handphone di atas nakas yang berbunyi dengan mengulurkan salah satu tangannya, dengan bibir tetap menikmati rasa manis dari bibir Chiara tanpa ada niat untuk melepaskan pagutan bibirnya meski hanya sebentar.
Tanpa menghentikan ciuman panasnya pada bibir Chiara, Aaron yang sudah berhasil meraih handphonenya, dengan cepat meraba-raba handphonenya, mencari tombol untuk mematikan handphone itu tanpa mengalihkan pandangan matanya dari wajah cantik Chiara yang sedang menikmati kegiatan foreplay mereka.
Dan bagi Aaron itu sungguh terlihat sangat menggoda baginya
Setelah mematikan handphonenya Aaron kemudian melemparnya kembali ke atas nakas dan melanjutkan aktifitas mereka tanpa mau diganggu oleh apapun untuk saat ini.
Eh? Kenapa ini? Kenapa diriject? Apa Pak Aaron belum merasa lapar?
Zachary bertanya-tanya dalam hati sambil mengeryitkan dahinya, namun sedetik kemudian Zachary langsung tertawa, begitu mengingat bahwa saat ini Aaron dan Chiara sedang dalam masa bulan madu mereka.
"Kenapa tiba-tiba tertawa sendiri Zac?" Anna yang duduk di sampingnya, begitu melihat Zachary yang tiba-tiba tertawa langsung bertanya.
Padahal barusan Anna melihat Zachary melakukan panggilan telepon tapi tidak ada pembicaraan mereka, yang artinya hanya ada 2 kemungkinan, panggilan telepon Zachary tidak dijawab atau justru di riject karena dianggap mengganggu.
"Ah, tidak apa-apa." Zachary menjawab dengan tawa masih tersisa di bibirnya.
"Siapa yang baru saja berusaha kamu hubungi?" Anna kembali bertanya.
"Pak Aaron..., tapi tidak dijawab. Bahkan sekarang handphone beliau justru dimatikan."
"Lhooo... kenapa?" Dengan polosnya Anna langsung bertanya kepada Zachary yang kembali tersenyum geli.
"Eh, ternyata kamu ini sama saja denganku. Dengan niat baik berusaha meminta ijin mengantarkan makan malam pak Aaron dan nona Chiara, padahal saat ini sepertinya mereka belum merasa lapar karena ada tugas kenegaraan yang harus diselesaikan."
"Tugas yang kemarin baru mereka lakukan untuk pertama kalinya setelah 2 tahun menikah." Zachary berbisik pelan ke arah telinga Anna yang langsung ikut tertawa geli.
"Ada-ada saja kamu ini. Kalau begitu pantas saja mereka tidak merasakan lapar, karena saat ini mungkin mereka sedang sibuk memakan satu sama lain. Seperti katamu tadi, menuntaskan tugas kenegaraan yang tertunda lama, jadi mungkin sekarang mereka jadi mengerjakannya secara dobel." Anna berkata pelan dengan senyum masih tersungging di wajahnya.
"Aku juga bisa membayangkan bagaimana setelah dua tahun pak Aaron menahan diri, pasti sekarang, begitu tahu bagaimana rasanya, susah untuk berhenti melakukan itu. He he he..." Zachary langsung menyambung kata-kata Anna.
"Eh, salah. Kita yang sudah cukup lama melakukan itu, juga tidak pernah merasa bosan. Selalu ingin lagi dan lagi, betul kan Honey?" Zachary berbisik pelan ke telinga Anna yang langsung menempelkan ujung jari telunjuknya ke bibir Zachary, sambil matanya melirik ke arah Lila yang sedang asyik bermain boneka di lantai, dekat dengan kedua orangtuanya berada dan sedang mengobrol pembicaraan orang dewasa sekarang.
Anna sengaja memberikan kode kepada Zachary melalui lirikan matanya, membuat Zachary jadi meringis.
"Upst... sorry, aku lupa...." Zachary berkata dengan menggerak-gerakkan bibirnya tanpa mengeluarkan suara, ke arah Anna.
"Kalau begitu Honey... bagaimana kalau kita juga menyelesaikan tugas kenegaraan kita sekarang?" Bisikan Zachary yang sebenarnya terdengar sangat pelan.
Akan tetapi bagi Anna itu sudah cukup untuk membuat wajahnya merah padam dan tubuhnya merasa meremang.
"Zac...."
"Ayolah, mumpung Lila masih sibuk, dan belum waktunya makan malam. Please, sebentar saja. Kita bisa mengaturnya kan?" Dengan nada memohon, Zachary berkata kepada Anna yang dengan sikap malu tapi mau, menganggukkan kepalanya pelan sambil mengigit bagian bawah bibirnya.
Yes!
Dengan semangatnya, Zachary berteriak dalam hati, sambil bangkit berdiri dari duduknya, dengan melingkarkan lengannya di bagian belakang pinggang Anna.
"Lho... Papa dan Mama mau kemana?" Lila yang melihat pergerakan dari orangtuanya langsung mendongakkan kepalanya sambil memeluk bonekanya.
"Lila kan masih ingin bermain. Papa dan mama mau beristirahat sebentar. Nanti kami temani main disini lagi ya?" Zachary mulai mencari alasan agar Lila tidak mengganggu aktifitas mereka selanjutnya.
"Tidak ah. Main bonekanya sudahan dulu saja. Lila mau main dengan Papa dan Mama." Lila berkata sambil bangkit dari duduknya di lantai, sambil tetap memeluk erat bonekanya.