Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
KENCAN BUTA REVINA (2)



"Oke, kalau begitu, selamat malam." Laki-laki mengucapkan salamnya dengan suara terdengar sopan, dan langsung menutup panggilan teleponnya.


Revina yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa menahan nafasnya dengan wajah terlihat penasaran begitu melihat sosok laki-laki itu mulai membalikkan tubuhnya.


"O, kamu sudah datang?" Laki-laki dengan nama Richard itu langsung menyapa Revina dengan suara ramah, dan senyum manisnya.


Mau tidak mau, Revina sedikit tersentak melihat laki-laki bertubuh atletis itu ternyata cukup tampan.


Tidak sebanding jika dibandingkan dengan Aaron atau laki-laki keluarga Malverich lainnya.


Tapi ketampanan pria yang sekarang sedang berdiri berhadap-hadapan dengannya itu, Revina yakin juga menjadi impian banyak gadis, apalagi ditambah nilai plus dia juga merupakan seorang laki-laki kayan raya, yang nama keluarganya masuk dalam jajaran 10 orang terkaya di negara ini.


Sebuah senyum manis langsung tersungging di wajah Revina begitu melihat wajah tampan dan ramah Richard.


"Maaf... apa aku membuatmu menunggu lama?" Richard berkata sambil berjalan ke arah Revina, menarik kursi yang ada di depan Revina dan mempersilahkannya duduk, membuat Revina dengan sedikit gugup mengambil posisi duduk.


"Ah... tidak, aku baru saja datang. Sepertinya justru aku yang sudah membuatmu menunggu cukup lama." Revina langsung menanggapi pertanyaan Richard yang sudah berjalan menjauh, dan mengambil posisi duduk tepat di hadapan Revina, di salah satu sisi meja bulat yang ada diantara mereka.


"Tidak... tentu saja tidak.... Aku juga baru saja harus menerima panggilan telepon penting, karena kesibukanku itu, aku tidak merasa menunggu lama." Richard membalas perkataan Revina sambil tersenyum dan memberi tanda kepada dua orang pelayan yang standby di dekat pintu ruangan, bersiap menunggu perintah untuk mereka mulai menyajikan makanan yang sudah dipesan oleh Richard.


Melihat tanda dari Richard, kedua pelayan itu langsung menganggukkan kepalanya, dan berjalan keluar untuk segera melakukan perintah Richard.


"Apalagi... menunggu gadis secantik kamu, tidak ada kata berat untuk itu. Justru itulah yang harusnya dilakukan oleh laki-laki sejati." Kata-kata manis Richard langsung membuat wajah Revina memerah.


"Sepertinya kamu ahli sekali dalam merayu wanita." Revina berkata sambil meletakkan tas mewah yang dibawanya ke atas meja.


"O ya? Sepertinya kamu salah paham. Coba kamu cari berita tentang aku. Dimanapun tidak akan ada berita yang mengatakan kalau aku seorang playboy atau sudah memiliki kekasih. Karena bagiku, kata-kata manis harus diucapkan untuk orang yang tepat." Richard berkata sambil kedua telapak tangannya menengah ke atas, dan terarah kepada Revina, seolah kata-kata tentang orang yang tepat itu mengarah pada Revina yang langsung tersenyum dengan wajah malu-malu.


"Kamu Revina kan? Kamu pasti juga sudah tahu namaku dari mamamu. Tapi tidak ada salahnya kita memulai perkenalan resmi kita, Richard." Richard memperkenalkan dirinya sambil mengulurkan tangannya ke arah Revina yang langsung menyambut uluran tangan tersebut.


Begitu merasakan jabatan tangan Richard yang terasa hangat di tangannya, Revina langsung bersorak dalam hati.


Laki-laki ini... tampan... kaya... ramah... hangat.... Apalagi yang kurang darinya? Siapapun akan mudah jatuh cinta dengan orang seperti dia. Sungguh sosok laki-laki idaman. Dani, meskipun tampan dan baik hati, tapi dia tidak memiliki cukup kekayaan untuk dapat memanjakanku. Para pria di keluarga Malverich? Kaya tapi dingin seperti es di kutub utara. Sedangkan laki-laki ini....


Revina berkata dalam hati, membiarkan Richard melepaskan genggaman tangannya dengan senyum manis terus tersungging di wajahnya.


Sepertinya dia adalah laki-laki sempurna untuk menjadi seorang suamiku di masa depan.


"Aku sudah memesan beberapa menu terbaik dari restoran ini. Tapi kalau kamu ingin memesan yang lainnya, silahkan saja. Maaf karena aku memutuskan sendiri menu makan malam hari ini tanpa mengajakmu berdiskusi." Perkataan Richard langsung disambut dengan gelengan kepala oleh Revina.


"Aku bukan orang yang rewel dalam hal makanan. Santai saja."


"Kalau begitu, bisakah kita mengobrol sambil menunggu makanan siap. Aku ingin mengenalmu lebih dekat. Terus terang, bagiku, kamu adalah gadis yang membuatku tertarik padahal kita baru saling bertemu hari ini." Mau tidak mau pekataan Richard membuat wajah Revina kembali memerah.


Dia ini... pandai sekali memuji, bermulut manis. Aku tahu laki-laki yang mulutnya manis sangat berbahaya, tapi entah kenapa, aku merasa tidak keberatan dia melakukan hal seperti itu padaku.


Revina berkata dalam hati sambil berdehem kecil untuk mengalihkan rasa canggunnya karena pujian Richard.


"Maaf kalau aku membuatmu tidak nyaman. Kalau kamu keberatan aku terlalu banyak bertanya tentang kamu, kita bisa memulainya pelan-pelan. Kita baru saja saling mengenal, jadi masih banyak waktu kita untuk bisa saling mengenal satu sama lain." Revina langsung mengangguk setuju mendengar perkataan Richard.


Dan nilai plus tentang Richard langsung bertambah di hati Revina yang bisa melihat bagaimana laki-laki itu bahkan merasa tidak canggung untuk mengucapkan maaf, padahal dia orang dnegan status sosial tinggi, yang juga memiliki banyak bawahan pastinya.


Cara Richard menunjukkan bagaimana dia menghormati dan menghargai orang-orang di sekitarnya membuat Revina semakin mengaguminya, meskipun dia tidak seratus persen setuju dengan sikap Richard yang tidak menunjukkan bahwa dia orang yang berpengaruh.


Bagi seorang Revina, sikap sombong adalah salah satu bentuk untuk menunjukkan bahwa dia orang berpengaruh yang memiliki kemampuan finansial untuk dipamerkan kepada orang lain, agar tanpa memperkenalkan diri, orang tahu tentang statusnya, sebuah pemikiran yang tidak masuk akal dari seorang Revina.


Pemikiran yang sejak lama ditanamkan oleh Mona, sehingga menjadi pemikiran yang dianggap benar oleh Revina, menganggap penampilan fisik dan kekayaan adalah segalanya, dan itu jaminan mutlak untuk membuat orang bahagia menurutnya.


# # # # # # #


"Kamu mau keluar malam ini?" Pertanyaan Sarah membuat Grayson mengangguk.


"Baru saja ada temanku yang mengajak makan malam mendadak." Grayson menjawab pertanyaan Sarah sambil merangkul bahu wanita itu.


"Oo, kalau begitu hati-hati. Sayang sekali makan malam kita hari ini tidak dihadiri personil lengkap." Grayson langsung tertawa kecil mendengar perkataan Sarah, yang secara tidak langsung menyampaikan protesnya karena Grayson tidak ikut makan malam bersama mereka malam ini.


"Aduh Ma, kan jarang sekali aku makan malam di luar."


"Iya sih, hanya saja malam ini Chiara berencana ikut makan malam di sini. Rasanya sayang sekali kamu tidak ikut bersama kami." Mata Grayson sedikit melebar begitu mendengar mamanya mengatakan kalau Chiara berencana makan malam bersama mereka.


"Chiara mau makan malam di sini?" Grayson mengulang perkataan mamanya dengan nada bertanya.


"Iya. Sekarang dia sedang dalam perjalanan kesini." Sarah berkata sambil melirik jam di pergelangan tangannya, sehingga dia tidak melihat ada kilat cahaya bahagia di mata Grayson, menunjukkan hatinya yang senang mendengar Chiara berencana makan malam bersama mereka malam ini.