
"Ternyata kak Anna berjiwa romantis juga." Chiara langsung berkata sambil memegang salah satu kelopak bunga mawar yang disusun berbentuk hati di atas tempat tidur itu.
"Bunga-bunga itu akan mengotori spreinya yang berwarna putih, lebih baik kita singkirkan saja supaya nanti tidurmu bisa nyaman." Mendengar perkataan Aaron, Chiara langsung menoleh dengan cepat ke arah Aaron.
"Jangan Om! Jangan dulu!" Chiara langsung menghalangi tangan Aaron yang berencana membersihkan mawar-mawar itu dari atas tempat tidur.
"Lho, kenapa?" Pertanyaan Aaron membuat dengan tiba-tiba wajah Chiara memerah.
"Cantik Om... aku suka. Jangan disingkirkan ya. Nanti saja disingkirkannya, setelah aku puas melihatnya." Dengan wajah malu-malu, Chiara langsung berkata kepada Aaron yang hanya bisa menahan nafasnya, melihat wajah menggemaskan dari Chiara yang seolah-olah menggodanya untuk bisa dia sentuh dan cium bibir mungilnya yang sedang tersenyum manis ke arahnya sekarang.
Sial! Kalau aku harus terkurung di kamar ini berdua dengan Chiara lebih dari 24 jam, aku tidak yakin kalau aku bisa menahan diriku untuk tidak menyentuhnya. Haist! Kira-kira dimana aku bisa menemukan orang dengan kekuatan perlindungannya itu untuk menahan kekuatanku saat aku sedang bersama dengan Chiara? Semakin hari akan semakin sulit untuk aku mengendalikan diriku jika Chiara selalu terlihat begitu menggoda untukku!
Aaron memaki dirinya sendiri dalam hati.
Aku benar-benar berharap, setelah lewat seminggu, sesuai permintaan Chiara, kami bisa benar-benar menjadi suami istri seutuhnya tanpa perlu merasa khawatir memikirkan keselamatannya karena kekuatanku yang tidak terkendali saat di dekatnya. Tapi apa mungkin, dalam waktu sedemikian singkat, aku bisa menemukan orang itu, sedangkan selama bertahun-tahun aku dan George sudah mencarinya kemana-mana dan tidak berhasil menemukannya.
Aaron kembali berpikir dengan keras dalam hati, sampai sebuah suara pintu dibuka terdengar, membuat Aaron maupun Chiara langsung menoleh ke arah pintu.
Dengan gerakan cepat, Chiara yang awalnya berdiri di pinggiran tempat tidur, langsung berlari ke arah pintu, merasa senang karena berharap kalau Sarah membatalkan niatnya untuk mengurung mereka, dan meminta orang untuk membuka pintu itu.
Begitu pintu dibuka, tampak Sarah dan seorang pelayan sedang mendorong meja makanan dorong, mendorongnya masuk ke dalam kamar, lalu segera pergi setelah berpamitan dengan Sarah dan Chiara.
“Di kulkas yang ada di kamar kalian, ada cukup banyak makanan, minuman, buah, susu yang tidak mungkin bisa kalian habiskan dalam waktu satu minggu. Jika kalian membutuhkan apa-apa kalian bisa memberikan pesan singkat kepada Zachary, tapi tidak untuk keluar dari kamar ini. Anggap saja ini bulan madu kalian, agar kalian bisa semakin mesra. Nikmati waktu berdua kalian tanpa ada yang mengganggu.” Sarah mengakhiri kata-katanya dengan bergerak cepat keluar dari kamar, menutup pintu kamar itu, dan menguncinya kembali.
“Ma….” Suara Chiara menggantung di udara tanpa bisa dia teruskan lagi karena Sarah tidak memberinya kesempatan untuk berbicara sedikitpun.
“Percuma saja Chiara. Mama Sarah orang yang terlihat lembut, tapi dia sangat keras kepala, dan tidak mudah mengalah. Memang kadang terlihat kekanak-kanakan, tapi mama Sarah sangat sayang dengan kita. Kamu tidak akan menang jika berdebat dengannya. Jadi lebih baik kita terima saja nasib kita. Toh tidak ada ruginya kan untuk kita berdua.” Aaron yang masih berdiri di tempatnya semula berkata dengan nada datar.
“Maksud Om Aaron?” Chiara langung bertanya sambil mendekat ke arah Aaron.
“Seperti kata mama tadi. Anggap saja ini bulan madu kita, agar kita berdua memiliki banyak waktu untuk mengobrol dan saling mengerti satu dengan yang lain di kamar ini. Bukannya kita sudah berkomitmen untuk bersama-sama mencari solusi dari masalah kita berdua? Berduaan di satu ruangan dalam waktu yang lama, mungkin kita berdua bisa menemukan solusi untuk itu.” Aaron berkata sambil berjalan mendekat ke arah Chiara yang masih berdiri di dekat pintu.
Kata-kata Aaron sukses membuat wajah Chiara sedikit memerah, dengan sikap salah tingkah dan jantung yang berdebar keras, apalagi melihat bagaimana sosok Aaron yang berjalan mendekat ke arahnya dengan langkah pelan.
Tidak ada tatapan gerakan atau tatapan aneh Aaron kepadanya, tapi bagi Chiara, semakin Aaron mendekat, detakan jantungnya semakin menggila.
"Om Aaron...." Dengan suara sedikit bergetar Chiara menyebutkan nama Aaron tanpa berani sedikitpun menatap ke arah Aaron.
"Haist...! Apa yang sedang kamu pikirkan Chiara? Kenapa wajahmu semerah itu?" Aaron berkata pelan sambil menjitak kening Chiara dengan buku jari telunjuknya, membuat dahi Chiara mengernyit karena kaget sekaligus meringis karena sindiran Aaron padanya.
Mendengar pertanyaan Aaron, Chiara bukannya menjadi tenang, justru wajahnya menjadi semakin memerah, merasa malu karena Aaron ternyata bisa menebak apa yang baru saja dipikirkannya.