Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
RASA PENASARAN REVINA



Apalagi, setiap harinya, sekarang Chiara selalu menghitung hari dimana hari pernikahannya akan tiba.


Dan Chiara tahu pasti, sampai detik ini, kurang dari 2 minggu dari sekarang, hari pernikahannya dengan Aaron akan dilaksanakan.


“Akh… sebentar lagi, statusku adalah seorang istri dari om Aaron. Eh, padahal aku belum belajar banyak bagaimana harus menjadi istri yang baik. Lalu, aku harus belajar dari siapa ya? Tidak mungkin aku minta petunjuk dari Grace yang belum pernah menikah juga….” Chiara bergumam pelan, sambil mulai berpikir, tentang siapa kira-kira yang bisa menolongnya untuk belajar untuk bisa menjadi seorang istri yang baik bagi Aaron.


“Terus bagaimana dong? Revina? Ih…. Tidak mungkin, dan tante Mona? Lebih tidak mungkin lagi. Search di internet? Bisa-bisa justru aku akan bertambah pusing. Dan bukannya pengetahuan yang baik tentang pernikahan, bisa-bisa yang keluar justru situs-situs porno. Ampun deh kalau sampai aku terkena prank gara-gara salah membuka website.” Chiara berkata sambil memandangi sepatu pernikahannya yang memang terlihat begitu indah dan cantik.


(Lelucon terapan atau lelucon praktikal adalah sebuah trik yang dimainkan oleh beberapa orang, yang umumnya menyebabkan korbannya kaget, tidak nyaman atau keheranan. Istilah lainnya untuk lelucon praktikal meliputi prank, gag, jape, atau shenanigan).


Chiara yang sedang duduk di depan meja riasnya, dengan sepatu pernikahannya yang dia letakkan di atas meja rias dan dipandanginya begitu lama, terus bergumam tentang pernikahannya dengan Aaron sambil tersenyum-senyum sendiri.


Untuk waktu lama, Chiara memandangi sepatu pernikahannya, dengan ujung-ujung jari tangannya mengelus-elus permukaan sepatu yang terlihat gemerlap itu.


"Cantik sekali... seperti mimpi bisa mengenakan sepatu pernikahan seindah ini, seperti pernikahan para putri disney dalam cerita dongeng. Dan pernikahanku, bersama dengan om Aaronku yang benar-benar keren. Ah, aku harap aku bisa benar-benar membuat om Aaron jatuh cinta padaku." Chiara bergumam pelan dengan wajah terlihat begitu bahagia.


Bahkan pipi Chiara tampak menunjukkan semburat warna merah saat pikirannya memikirkan sosok Aaron, yang benar-benar sudah membuat hatinya melayang begitu diingatnya tentang setiap kebaikan dan semua tindakan Aaron selama Chiara mengenalnya.


"Chiara!" Revina yang baru saja datang dan mendengar dari Mona bahwa Chiara mendapatkan sebuah sepatu yang terlihat mewah dan indah untuk dikenakan di hari pernikahannya, merasa begitu penasaran sehingga langsung masuk ke kamar Chiara karena ingin melihat seberapa indah dan mewahnya sepatu itu.


Mona sendiri sebenarnya tidak sengaja melihat sepatu yang dipajang oleh Chiara di atas nakas yang ada di sebelah tempat tidurnya, ketika mencari Chiara tadi siang, karena ada satu berkas susulan yang membutuhkan tanda tangan Chiara terkait pencairan dana bulanan milik Chiara, yang diterimakan kepada Mona sebagai wali resminya.


Chiara yang sejak mendapatkan sepatu itu memang sengaja meletakkannya di atas meja riasnya, yang berada di dekat tempat tidurnya, agar dia bisa selalu menikmati keindahan sepatu itu, tidak tahu kalau Mona melihat ke arah sepatu itu ketika memasuki kamar Chiara.


Saat pertama kalinya melihat sepatu itu, mata Mona sedikit terbeliak kaget, karena sepatu itu terlihat begitu indah dan mewah, dengan kilauannya yang menunjukkan itu bukan sekedar sepatu biasa.


Tapi waktu itu, Mona hanya sekedar memandangnya dari kejauhan tanpa berencana mendekatinya, karena Mona merasa malas harus berurusan dengan Aaron jika sampai dia terlalu mencampuri urusan Aaron dan Chiara.


Namun begitu Mona menceritakan perihal sepatu itu pada Revina, gadis yang selalu tidak mau kalah dengan teman-temannya yang seringkali saling memamerkan barang-barang bermerk yang mereka kenakan itu langsung ingin melihat sepatu itu.


Dan jika ternyata itu hanya sekedar sepatu murahan atau imitasi (palsu atau tiruan) dari sepatu dengan brand terkenal, Revina berencana mengejek dan menghina Chiara habis-habisan.


“Eh, Revina?” Chiara yang melihat sosok Revina yang tiba-tiba masuk ke kamarnya dengan sikap kasar, langsung bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah Revina, berniat menyakan apa tujuan Revina datang ke kamarnya dengan cara seperti itu.


“Minggir!” Tanpa perduli dengan Chiara, Revina langsung mendekat kea rah meja rias Chiara, setelah tangannya tanpa perduli sedikit mendorong tubuh Chiara agar tidak menghalangi langkah kakinya.


“Hah?” Setelah beberapa saat dengan sangat teliti Revina melihat-lihat ke arah sepatu pernikahan Chiara yang diceritakan Mona, dan mencocokkan dengan foto-foto yang dia lihat di internet melalu handphone di tangannya, bibir Revina benar-benar melongo dengan wajah terperangah kaget.


“Itu… benar-benar sepatu Stuart Weitzman Platinum Guild Stilettos? Darimana… kamu mendapatkannya?” Revina berkata kepada Chiara dengan tatapan antara kaget, kagum, tidak percaya, namun juga iri.


“Tentu saja om Aaron yang membelikannya untukku, tidak mungkin kan kalian mau bersusah payah menyiapkan keperluan untuk pernikahanku?” Chiara berkata sambil bergerak cepat, meraih sepatunya dan memegangnya dengan erat di dadanya, tidak memberikan kesempatan untuk Revina meyentuh sepatu miliknya itu.


Revina yang awalnya ingin menyentuh sepatu itu dan sudah mengulurkan tangannya, langsung menarik tangannya kembali.


Gila! Ternyata di balik wajah dingin tanpa ekpresinya si Aaron itu keren juga. Bahkan untuk gadis ingusan yang entah kapan dan dimana bertemu dengannya itu, dia mau membelikan sepatu semahal itu. Tidak aku sangka Aaron ternyata adalah orang yang perhatian dan romantis.


Revina berkata dalam hati tanpa bisa menyembunyikan tatapan matanya yang iri sekaligus terkagum-kagum dengan sepatu indah yang sedang didekap oleh Chiara itu.


"Cih! Pelit sekali! Padahal aku hanya ingin melihatnya saja, kamu sudah bersikap histeris! Paling-paling, setelah pernikahan kalian, Aaron akan memintamu menjual kembali sepatu itu." Revina sengaja berkata seperti itu untuk membuat Chiara merasa tidak enak hati terhadap Aaron, dan mulai berpikir negatif tentang Aaron.


"Tidak mungkin! Om Aaronku bukan orang seperti itu. Mungkin ya kalau yang sedang kamu bicarakan adalah laki-laki kenalanmu atau kekasihmu, bisa jadi seperti itu. Tapi om Aaronku, adalah laki-laki yang tidak akan mengambil keuntungan dari orang lain dengan cara tidak jujur." Dengan sikap berani, Chiara menjawab perkataan dari Revina yang sudah dianggapnya meremehkan Aaron, membuat Chiara merasa tidak suka.


"Kamu!" Hampir saja Revina tidak bisa menahan dirinya untuk tidak memukul Chiara karena berani-beraninya Chiara mengejek laki-laki yang ada di sekitarnya.


Akan tetapi begitu Revina mengingat siapa yang sekarang ada di belakang Chiara sebagai pendukungnya adalah seorang Aaron Malverich, Revina hanya bisa mengepalkan tangannya dengan wajah memerah karena marah, sekaligus malu, tanpa bisa berbuat apa-apa selain berencana menyerang Chiara dengan kata-kata.


Karena itu, dengan cepat Revina segera berpikir untuk bisa kembali mengucapkan kata-kata yang bisa membuat hati dan pemikiran Chiara tentang sosok Aaron sebagai pria baik-baik menjadi goyah.