
“Selamat pagi Om Aaron.” Tanpa menjawab pertanyaan Aaron, Chiara justru mengucapkan selamat pagi pada Aaron dengan wajah cerianya, dan senyum manis tersungging di bibirnya.
Meskipun Chiara merasa tidak enak hati begitu mendengar tentang rencana kedatangan Angelina, menyusul Aaron ke Indonesia, bagi Chiara yang terpenting saat ini adalah usaha kerasnya untuk mendapatkan hati dan perhatian Aaron, sehingga tidak memberikan kesempatan gadis atau wanita lain merebut perhatian Aaron darinya.
“Pagi….” Akhirnya dengan suara ragu Aaron menjawab sapaan dari Chiara, sesuatu yang selama ini belum pernah dialaminya, seseorang yang dengan begitu ceria dan tersenyum manis padanya, mengucapkan selamat pagi untuknya.
Dan yang membuatnya menjadi begitu istimewa bagi Aaron, gadis cantik yang sedang melakukan itu adalah istri yang sangat dicintainya.
“Jam berapa Om Aaron tidur semalam? Apa Om Aaron bisa tidur dengan nyenyak? Apa cara tidurku sudah mengganggu Om? Apa aku mendengkur keras? Atau menendang Om Aaron?” Bertubi-tubi pertanyaan dari bibir mungil Chiara membuat Aaron menahan nafasnya untuk meredakan rasa gemas di hatinya yang begitu ingin membungkam bibir mungil itu dengan bibirnya.
Apalagi jika mengingat bagaimana pagi tadi Chiara sudah membuat dirinya kelimpungan karena sudah menganggapnya sebagai guling, Aaron hampir saja mendekatkan tubuhnya ke arah Chiara yang sedang menatapnya dengan tatapan polos dan wajah tidak bersalahnya.
Tapi ingatan tentang nakas yang tadi sempat dibuatnya hancur tanpa sengaja, membuat Aaron langsung berdehem dengan sedikit keras, untuk mengalihkan pikirannya dari keinginan untuk mencium bibir mungil Chiara.
“Kenapa bertanya seperti itu? Apa kamu tahu cara tidurmu memang seperti itu?”
“Tidak.” Jawaban singkat dari Chiara yang tidak mengakui cara tidurnya yang benar-benar spektakuler bagi Aaron itu membuat Aaron mengernyitkan dahinya.
“Om Aaron ini ada-ada saja dengan pertanyaan Om. Mana bisa aku tahu bagaimana cara tidurku? Orang sedang tidur, mana sadar dia sedang melakukan apa? Apalagi kalau tidurnya nyenyak sekali.” Penjelasan Chiara hampir saja membuat Aaron tertawa.
Tentu saja, karena tidurmu benar-benar nyenyak, bahkan suara nakas yang hancur saja tidak berhasil membuatmu terbangun. Jadi tidak mungkin mengharapkan kamu sadar dengan apa yang sudah kamu lakukan padaku tadi pagi saat masih tertidur.
Aaron berkata dalam hati sambil menghela nafas panjang, tidak memberikan kesempatan pada otaknya untuk meneruskan angan-angan mesumnya tentang kejadian tadi pagi.
“Tidak ada hal buruk yang kamu lakukan saat tidur, tenang saja.” Akhirnya Aaron berusaha menutupi apa yang terjadi tadi pagi diantara mereka berdua, karena bagaimana mungkin dia bisa menceritakan pada Chiara bagaimana cara tidur Chiara tadi pagi sudah membuat senjata pusakanya terbangun dari tidurnya.
“Wah benaran ya Om? Satu-satunya orang yang pernah tidur satu kasur denganku hanya si Grace. Dan setiap pagi setelah tidur denganku dia selalu saja mengeluh. Dia bilang aku menjadikannya guling sampai pinggangnya sakit karena kakiku menindih perut atau pinggangnya, atau aku menendangnya. Pernah dia memarahiku pagi-pagi karena terjatuh dari tempat tidur. Katanya dia terjatuh karena terkena tendanganku. Kata Grace, cara tidurku sudah seperti kambing liar yang tidak bisa diam sama sekali.” Perkataan Chiara yang diucapkan dengan nada terlihat sedikit sebal itu, membuat Aaron tersenyum, apalagi pada kenyataannya, apa yang dikeluhkan Grace, sama dengan yang sudah dialaminya, meski Chiara hanya menjadikannya guling, tidak sampai menendangnya hingga terjatuh.
“Karena itu Grace sekarang tidak mau tidur satu tempat tidur denganku. Kalaupun terpaksa, seperti saat tidur di hotel karena ada acara, dia lebih memilih tidur di sofa atau extra bed, daripada satu tempat tidur denganku.” Chiara berkata sambil memajukan bibirnya ke depan, dengan wajah cemberut.
(Sesuai namanya, extra merupakan ranjang tambahan yang biasanya berujud kasur lipat dengan ukuran single. Ranjang ini disediakan oleh petugas hotel biasanya berdasar permintaan dari sang tamu, dan biasanya dikenai tambahan biaya, sedang ketersediaan tempat tidur ini juga sangat terbatas. Setiap hotel memiliki aturan maksimal penambahan extra bed di masing-masing kamar).
Tapi tanpa diduga oleh Aaron, kata-kata Aaron justru membuat Chiara bangun dari duduk bersilanya, dan mengubah posisinya dengan posisi seperti bayi yang akan merangkak, mendekat ke arah Aaron.
“Om, apa Om lupa, aku sekarang sudah 18 tahun. 18 tahun Om…. Itu artinya aku bukan anak-anak lagi. Aku sudah beranjak dewasa Om.” Kata-kata Chiara dengan posisi tubuhnya sekarang, mau tidak mau membuat Aaron menelan ludahnya dengan kasar, karena posisi Chiara secara tidak sengaja membuat bagian atas piyama tidur Chiara menunjukkan apa yang ada di baliknya, meski masih tertutup rapat oleh bra.
Oh my God, tolong dikondisikan posisi tubuhmu Chiara… Shi…it. Kamu benar-benar bisa membuatku hilang kendali. Apa kamu benar-benar ingin membuatku khilaf?
Aaron melenguh dalam hati sambil berusaha untuk mengalihkan pandangan matanya dari tubuh Chiara.
Laki-laki tampan itu segera menahan nafasnya, karena salah satu tangannya yang sedang menekan kasur di sampingnya hampir saja lepas kendali dan mengeluarkan kekuatannya kembali.
“Om Aaron… aku bukan anak kecil lagi.” Chiara kembali menyatakan protesnya apalagi dilihatnya Aaron justru mengalihkan pandangan matanya darinya dan justru bangkit dari duduknya, untuk menghindari agar tubuhnya yang terlalu dekat dengan Chiara bereaksi dengan mengeluarkan kekuatannya secara tiba-tiba tanpa terkendali seperti tadi.
“Iya, kamu sudah beranjak dewasa sekarang, Jadi kapan kamu mau mulai terjun langsung ke bisnis perhotelan milik orangtuamu?” Perkataan Aaron yang diucapkan sambil mengusap pelan rambut di puncak kepala Chiara, membuat rasa kesal Chiara langsung menghilang.
“Ah ya, benar kata Om. Aku sudah harus mulai terjun ke bisnis orangtuaku kalau tidak ingin bisnis itu direbut dan dihancurkan oleh tante Mona.” Chiara berkata sambil ikut turun dari tempat tidur, menyusul Aaron yang sudah berdiri di samping tempat tidur.
“Sekarang Om Aaron sudah ada di sini. Kalau begitu, bolehkan aku minta bukan hanya pak Zac yang mengajriku? Tapi Om Aaron yang hebat dalam bisnis juga mau mengajariku? Boleh kan Om?” Dengan nada suara memohon, Chiara berkata kepada Aaron.
Bahkan tangan Chiara langsung bergerak ke arah lengan bagian bawah tangan Aaron, memegangnya dengan kedua tangannya, dan menggoyang-goyangkannya, sambil wajahnya mendongak ke arah Aaron yang tinggi tubuhnya memang jauh di atas Chiara.
“Baik, aku akan mengajarimu. Tapi ingat ya, aku bukan guru yang sabar.” Aaron berkata sambil tersenyum kecil, lalu menjauhkan tubuhnya dari Chiara, yang ternyata tetap mengikuti Aaron sambil tetap memegang lengan bawah Aaron dengan kedua tangannya.
“Tenang Om, aku murid yang pintar. Tidak akan rugi Om mengangkatku sebagai murid. Kalau tidak percaya, tanya saja pada pak Zac.” Dengan percaya dirinya, Chiara berkata kepada Aaron.
Tentu saja aku tahu tanpa perlu bertanya pada Zachary, karena tiap hari dia sudah melaporkan hasil belajarmu kepadaku.
Aaron menjawab perkataan Chiara dalam hati, dan terus melangkah menjauhi tempat tidur, berjalan menuju walk in closet, bersiap untuk mandi dan memulai aktifitasnya.
“Aku percaya, hanya saja….” Aaron berkata sambil membalikkan tubuhnya, hingga berhadap-hadapan dengan Chiara yang langsung kembali mendongakkan kepalanya untuk memandang Aaron, dengan kedua tangan masih memegang lengan Aaron.