
“Kalau sampai mereka mengejekku dan perasaanku jadi tidak enak, siapa yang rugi Ma? Mama juga kan yang rugi, karena kondisi emosiku bisa mempengaruhi kesehatan janinku. Kalau Richard tahu ada apa-apa dengan bayi dalam kandunganku, dia pasti akan marah besar. Bisa-bisa dia membatalkan pernikahan kami kalau dia merasa tidak senang. Kalau sudah begitu, apa Mama mau bertanggung jawab untuk itu?” Perkataan Revina yang berisis ancaman halus itu, membuat Mona termenung.
“Ayolah Ma, bagi Richard, itu hanya uang yang sangat kecil. Menurutku, dengan menunjukkan kita mau membayar 20% dari DP semua perabotan ini, pasti dia akan berpikir posisitif dengan tentang keluarga kita. Dan itu akan menjadi hal yang menguntungkan untuk kita. Investasi kita untuk masa depan.” Dengan santainya Revina berkata untuk meyakinkan Mona agar dia mau emngeluarkan
(DP merupakan singkatan dari down payment atau uang muka adalah pembayaran secara tunai yang dilakukan ketika ingin membeli barang dan aset yang cukup mahal secara kredit. Ketika membeli aset mahal seperti kendaraan atau properti, kemungkinan besar sisa uang yang harus dibayarkan akan dicicil).
Perkataan Revina membuat Mona semakin termenung, dan mencoba mempertimbangkan perkataan itu.
"Lagipula, aku tentu saja tidak mau rugi. Setelah menikah dengan Richard, aku akan meminta kembali uang DP itu. Aku yakin Richard tidak ada alasan untuk menolakku, demi menyenangkan anak dan istrinya. Aku pastikan saat itu terjadi uang Mama akan aku kembalikan, beserta bunganya. Jangan khawatir." Akhirnya mendengar janji dari Revina, Mona langsung mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Kalau begitu mungkin bukan hanya sofa, kalian sebagai pengantin baru harusnya memilih tempat tidur terbaik untuk kamar kalian." Mona akhirnya justru meminta Revina untuk memilih perabot yang lain, untuk mengisi ruangan yang ada di apartemen baru mereka.
Wajah Revina langsung berbinar cerah mendengar penawaran dari Mona.
"Mama pasti tidak akan menyesal. Karena untuk mendapatkan ikan sebesar Richard, kita memang harus menyiapkan kail dengan umpan yang bagus dan membuatnya tertarik." Revina berkata sambil tersenyum puas, dengan kakinya yang langsung melangkah ke arah display kitchen set dan juga meja makan.
(Kitchen set disebut juga Lemari dapur adalah perabot bawaan yang dipasang di banyak dapur untuk penyimpanan makanan, peralatan memasak, dan sering kali peralatan makan dan piring untuk layanan meja. Peralatan seperti lemari es, mesin pencuci piring, dan oven sering diintegrasikan ke dalam lemari dapur.
Kitchen set adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan dapur modern, yang terdiri dari perangkat dapur berbentuk kabinet untuk menyimpan alat-alat rumah tangga, khususnya perlengkapan dapur.
Keberadaan kitchen set sangat dibutuhkan untuk menyimpan semua peralatan dan perlengkapan dapur hingga makanan siap untuk disajikan. Banyaknya alat masak dan perlengkapan bahan seringkali membuat dapur jadi terlihat berantakan).
Karena Revina ingin bukan sekedar sofa dan tempat tidur, kalau bisa... dia ingin memenuhi semua ruangan yang ada di apartemennya dengan semua perabot mewah, sehingga siapapun yang akan berkunjung ke apartemennya itu akan menatapnya dengan wajah kagum sekaligus iri.
"Selamat pagi Auntie Sarah...." Diego yang baru saja keluar dari kamarnya langsung menyapa Sarah yang sedang berada di dapur bersama dengan beberapa orang pelayan, sibuk menyiapkan makan siang.
"Aduh Diego, sudah jam berapa ini? Sudah lebih dari jam 10 siang masih kamu bilang pagi?" Teguran Sarah yang diucapkan sambil menyodorkan potongan buah untuk salad ke mulut Diego yang langsung melahapnya, langsung membuat Diego meringis sambil mengunyah buah kiwi yang diberikan Sarah.
"Enak Auntie.... baik tidurku maupun buahnya." Diego berkata sambil tertawa kecil, membuat Sarah tersenyum.
"Sampai jam berapa kalian berdua semalam pergi keluar?" Sarah langsung menanyakan pada Diego yang semalam memang pergi keluar bersama Grayson ke tempat permandian air panas yang ada di sekitar villa itu, sambil menikmati suguhan susu segar dan yoghurt yang cukup terkenal di sana.
"Tidak terlalu malam sebenarnya Auntie, tapi setelah pulang dari sana, aku dan Grayson masih mengobrol hingga pukul 3 dini hari." Diego berkata sambil mengambil posisi duduk di kursi bar yang ada di samping Sarah.
"Pantas saja sampai sekarang Grayson belum bangun dari tidurnya. Sepertinya dia begitu menikmati liburan kali ini. Padahal biasanya dia tidak pernah mau dijak berlibur jika ada Aaron. Rasanya senang sekali bisa berlibur bersama dengan kedua anakku yang tampan itu. Apalagi sekarang sudah ada Chiara di samping Aaron. Rasanya seperti memiliki anak perempuan kembali." Sarah berkata dengan tangannya masih sibuk membersihkan dan memotong-motong buah, tanpa menyadari kalau raut wajah Diego sedikit berubah setelah mendengar perkataan Sarah.
"Emmm Auntie...." Dengan suara ragu Diego berkata kepada Sarah.
"Ya... kenapa Diego?" Sarah langsung menghentikan kegiatannya, dan menoleh ke arah Diego yang wajahnya berubah serius.
"Auntie... sebenarnya... Grayson sudah pulang kembali tadi pagi." Diego kembali berkata dengan suara ragu.
Semalam Grayson pulang dengan keadaan mabuk berat, sehingga Diego terpaksa membantunya berganti pakaian, segera memberikan obat penghilang mabuk, dan tidur sekamar dengannya, untuk menghindari kecurigaan Sarah ataupun Johnson yang mungkins aja tiba-tiba mencari Grayson pagi ini.
Ketika Grayson bangun dan memutuskan untuk pulang lebih dahulu, sebenarnya Diego sudah bangun dari tidurnya, mencoba untuk mencegah Grayson untuk pergi, namun Grayson tetap bersikeras untuk pergi, membuat Diego akhirnya hanya bisa terdiam dan kembali menikmati tidurnya.