
Chiara masih tersenyum lebar ketika para tamu undangan satu persatu berpamitan untuk pulang dan meninggalkan ruangan pesta.
Tapi setelah itu, Chiara langsung menghempaskan tubuhnya di salah satu kursi yang ada sambil menghembuskan nafasnya dengan cukup keras melalui sela-sela bibirnya.
"Sepertinya kamu sangat lelah." Sarah yang berdiri di depan Chiara sambil menggandeng lengan Johnson berkata sambil tersenyum, melihat Chiara yang duduk sambil membungkukkan tubuhnya, dan memijat-mijat mata kakinya karena merasakan pegal di kedua kakinya.
"Iya Ma, tapi Chiara senang kok. Terimakasih ya Ma buat kedatangannya, buat kadonya, buat waktunya menemani Chiara sepanjang sore sampai malam, buat semuanya deh." Chiara berkata dengan nada ceria dan senyum manisnya, membuat Sarah ikut merasa senang.
Kehadiran Chiara sebagai istri Aaron, sedikit demi sedikit membuat kehidupan di sekitarnya menjadi ikut ceria.
Bahkan bukan hanya Grayson, Johnson pun jadi orang yang mulai bisa bercanda dan bersikap hangat di rumah, tidak seperti dulu yang auranya selalu terkesan dingin.
"Sayangnya Aaron tidak datang. Setelah ini, biar mama bicara dengannya, agar dia pulang minggu depan atau bulan depan. Yang pasti dia harus membayar ketidakhadirannya hari ini." Sarah berkata dengan nada sedikit kecewa, dan tidak menyadari justru ketidakhadiran Aaron membuat Grayson merasa bahagia.
Dengan tidak hadirnya Aaron di acara pesta ulang tahun Chiara yang ke 17 belas ini, Grayson merasa dia menjadi orang penting yang sudah menunjukkan perhatiannya kepada Chiara, tidak seperti Aaron yang terlihat tidak perduli.
"Boleh Ma, asal jangan dijewer ya om Aaron, apalagi dicubit. Kasihan nanti kulitnya jadi tidak mulus lagi dong karena biru". Kata-kata Chiara membuat Johnson menyungingkan senyum tipis.
Johnson harus mengakui, selama ini, baru Chiara yang berani mengatakan hal-hal konyol namun juga lucu seperti itu di depannya dan anggota keluarganya yang biasanya selalu bersikap serius terhadap apapun.
"Pokoknya jangan ya Ma. Om Aaron pasti juga merasa tidak enak tidak bisa datang hari ini." Kata-kata Chiara membuat Sarah langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum geli.
Kepolosan, kebaikan, dan keceriaan Chiara membuat Sarah semakin sayang dengan gadis yang sudah beberapa bulan ini menjadi menantunya itu.
"Nona... saya akan pindahkan semua kado ini ke mobil barang." Zachary yang datang bersama dua orang yang bersiap membantunya, meminta ijin pada Chiara.
"O, iya Pak Zac. Bawa saja semuanya. Terimakasih." Chiara langsung menanggapi perkataan Zachary.
"Eh, tunggu Pak Zac. Untuk yang di sebelah sana, tolong masukkan mobilku saja. Biar Restu yang mengurusnya." Zachary langsung menoleh ke arah jari telunjuk Chiara terarah, dimana di salah satu sisi, terdapat tumpukan kado yang memang sengaja disendirikan oleh Chiara.
Tumpukan kado yang hanya beberapa itu adalah kado dari oang-orang yang dianggapnya penting.
Kado-kado yang berasal dari Johnson dan Sarah, Diego, Grayson, Grace, Jaka, dan Zachary, termasuk Revina, yang sebenarnya tidak dianggapnya penting, tapi Chiara juga penasaran apa yang akan diberikan oleh saudara sepupunya itu sebagai kado hari ini.
Karena selama ini, Revina selalu saja memberikan kado pada Chiara barang-barang bekas darinya, entah itu mainan, boneka, ataupun pakaian yang sudah dipakainya sekali dua kali, sehingga untuk tahun ini, Chiara merasa begitu penasaran dengan kado dari Revina.
Setelah beberapa lama mereka yang masih tinggal mengobrol santai, akhirnya Chiara tidak bis alagi menahan kantuknya, membuatnya menguap dengan telapak tangannya menutupi mulutnya.
Sarah yang melihat itu langsung menepuk-nepuk pipi Chiara dengan lembut.
"Hmmm... ya Ma...." Mendengar suara manja dari Chiara membuat Sarah memandang Chiara dengan tatapan sayang, sedang Grayson justru memandang Chiara dengan tatapan terpesonanya.
Meskipun wajah Chiara terlihat lelah dan mengantuk, bagi Grayson, hal itu tidak mengurangi kecantikan gadis remaja itu.
Apalagi dengan sikap manjanya, Chiara terlihat sungguh menggemaskan bagi Grayson, membuatnya ingin mendekat dan mencubit pipi Chiara jika saja tidak ada orang lain yang melihatnya, dan tentu saja, jika Chiara mengijinkannya.
"Kamu sepertinya sudah lelah dan mengantuk sekali. Bagaimana kalau kami saja yang mengantarmu?" Perkataan Sarah langsung dijawab dengan lambaian tangan Chiara yang bergerak ke kanan dan kiri, menunjukkan kalau dia menolak penawaran Sarah.
"Tidak perlu repot Ma, kalau Mama harus mengantarku, nanti jalannya memutar. Mama dan Papa pasti juga sudah lelah." Chiara dengan wajah mengantuknya berkata sambil sudut matanya melirik ke arah pintu, dimana Restu dan Zachary terlihat berjalan ke arahnya.
"Kalau begitu, biar Grayson yang mengantarmu...."
"Nona, mobil sudah siap di lobi hotel. Apa Nona mau pulang sekarang?" Belum lagi Sarah mengakhiri kata-katanya, Restu langsung memberitahukan pada Chiara semua sudah selesai, dan siap untuk mengantar Chiara pulang.
Grayson yang hampir saja mendapatkan kesempatan untuk mengantar Chiara tapi batal, hanya bisa menghela nafasnya tanpa diketahui oleh yang lain.
"Aku pulang sekarang." Chiara langsung menjawab pertanyaan Restu.
"Kalau begitu aku dan Jaka juga akan pamit pulang ya." Grace yang tadi memang datang bersama Jaka, berkata sambil memeluk Chiara.
"Hati-hati di jalan Grace." Chiara berkata sambil melambaikan tangannya ke arah Grace yang menoleh sebelum bebar-benar keluar dari pintu gedung bersama Jaka.
"Kamu pasti lelah. Sebaiknya kamu juga pulang beristirahat. Mau Mama antar ke apartemen?" Sarah yang melihat wajah Chiara yang terlihat lelah, berusaha menawarkan dirinya untuk menemani Chiara.
"Tidak Ma. Chiara bisa pulang sendiri. Chiara juga ingin segera sampai di apartemen, dan tidur...." Chiara berkata sambil memejamkan matanya, dan bangkit dari duduknya.
"Kalau begitu, kita sama-sama turun ke lobi." Sarah mengucapkan kata-katanya sambil tangannya meraih lengan Chiara, dan menggandengnya.
# # # # # # #
Begitu sampai di rumah, tanpa memperdulikan hal lainnya, Chiara langsung berjalan dengan langkah gontai karena sangat mengantuk ke arah kamarnya.
"Akh... capek sekali...." Chiara berkata sambil merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya tanpa berganti pakaian, dengan tangannya yang terlentang, bergerak-gerak, mengelus-elus sprei tempat tidurnya.
"Eh...." Mata Chiara langsung membuka dengan malas begitu tangannya merasakan menyentuh sesuatu di atas temapt tidurnya.
Dengan gerakan malas Chiara menoleh dan langsung berguling ke samping, sambil meraih kotak yang terbungkus rapi dengan kertas kado.
Dengan tidak sabar Chiara langsung membuka kertas pembungkus kotak itu.
Dan tanpa memperdulikan isinya karena di bagian luar terlihat kartu ucapan selamat ulang tahun dengan tulisan Aaron, rasa kantuk Chiara tiba-tiba menghilang entah kemana, dan membuat Chiara berlari dengan cepat ke arah kamar Aaron sambil memeluk kotak hadiah itu, dan meneriakkan nama Aaron secara berulang-ulang dalam hatinya seperti sebuah mantra.
"Om Aaron....!" Belum lagi Chiara membuka sepenuhnya pintu kamar Aaron, Chiara langsung berteriak pelan memanggil nama Aaron.
Tapi begitu melihat kamar Aaron yang terlihat gelap, dengan sprei yang terlihat rapi, dan tidak ada yang berubah dari penataan kamar Aaron, Chiara hanya bisa diam mematung di tempatnya.
Ternyata om Aaron benar-benar tidak datang, dan dia hanya menitipkan kado ini entah kepada siapa.
Chiara berkata dalam hati sambil menarik nafas dalam-dalam, berusaha menahan agar airmatanya tidak jatuh karena begitu inginnya dia bertemu Aaron di hari istimewanya ini.