
Baru pertama kalinya selama dia hidup, Aaron mencium bibir seorang gadis yang begitu lama sudah memiliki sepenuhnya hati dan cintanya.
Dan begitu merasakan ciuman tadi, Aaron tahu pasti, ke depannya, ciuman itu akan menjadi candu untuknya, yang akan membuatnya selalu menginginkan itu, bahkan hanya dengan membayangkan wajah cantik istri kecilnya.
Senyum Aaron semakin lebar saat jari-jari tangannya menyentuh bibirnya sendiri, yang membuatnya merasa masih bisa merasakan bagaimana lembutnya bibir mungil itu, dan membuatnya merasa penasaran bagaimana rasanya jika dia sudah bisa melakukan ciuman yang lebih dalam dan bergairah suatu saat nanti bersama Chiara.
Bahkan pikiran Aaron mulai mengelana, membayangkan bagaimana rasanya saat suatu ketika kelak, dia bisa menjadikan Chiara sebagai miliknya seutuhnya, tanpa ada seorangpun yang bisa memisahkan mereka lagi.
# # # # # # #
"Kamu bisa mengaturnya di sana. Setelah semua makanan itu kamu siapkan, kamu bisa meninggalkan tempat." Suara perintah dari Zachary kepada dua orang staff wanita yang sedang membantunya menyiapkan makan siang untuk Chiara dan Aaron, membuat Chiara yang awalnya berencana langsung keluar dari kamar dengan hanya mengenakan kemeja lengan panjang milik Aaron berwarna biru muda itu, langsung membatalkan niatnya.
Mata Chiara langsung memandang ke arah Aaron yang posisi meja kerjanya, hampir lurus dengan letak pintu kamar tempatnya berada sekarang.
"Om Aaron...." Chiara yang berada di balik pintu, dan hanya mengeluarkan kepalanya saja, memanggil nama Aaron sambil melambaikan tangannya.
Aaron yang bisa mendengar dengan begitu jelas suara Chiara yang memanggil namanya langsung menoleh dan menjauhkan matanya dari layar laptop di depannya, meskipun sebelumnya Aaron sangat serius mengamati data yang disajikan tim marketing untuknya, karen Aaron ingin saat pertemuannya dengan George besok pagi, dia bisa fokus tanpa memikirkan pekerjaan.
Melihat kode dari Chiara yang memanggilnya, Aaron segera bangkit dari posisi duduknya, dan berjalan ke arah pintu kamar itu, dengan matanya yang sedikit menyipit karena melihat Chiara yang menyembunyikan dirinya di balik pintu kamar, membuat Aaron jadi berpikir apa gadis kecilnya itu jatuh atau mengalami sesuatu yang buruk, sehingga harus bersembunyi di balik pintu kamar.
"Kenap...." Belum lagi Aaron menyelesaikan kata-katanya, dengan gerakan cepat, begitu Aaron berdiri tepat di depannya, Chiara langsung menarik pergelangan tangan Aaron, menariknya masuk ke dalam kamar, lalu menutup pintunya rapat-rapat, seolah takut orang lain masuk ke tempat itu.
Dan begitu Aaron melihat penampilan Chiara saat ini, mata ambernya langsung melotot, disertai dengan detakan jantung yang tidak beraturan dan nafas sesikit memburu.
Astaga Chiara... apa-apaan kamu ini? Tadi pagi bagian atas, dan sekarang kamu memamerkan bagian bawah tubuhmu padaku. Benar-benar.... Apa kamu sengaja ingin menggodaku atau ingin membuat jantungku bemasalah karena sepanjang hari ini kamu buat berdetak kencang terus menerus tanpa henti?
Aaron melenguh dalam hati sambil menelan ludahnya dengan wajah sedikit frustasi, karena baginya, semakin hari semakin sulit untuk mengendalikan diri saat Chiara terlihat begitu menggoda.
Tindakan Chiara membuat Aaron cukup kaget dan tercengang, apalagi posisi Chiara saat ini yang hanya mengenakan kemeja miliknya tanpa mengenakan rok atau celana di bagian bawahnya, membuat kaki jenjang Chiara yang berkulit putih mulus langsung telihat jelas oleh mata amber Aaron.
Dan gerakan tangan Chiara secara otomatis membuat bagian bawah kemeja Aaron itu terangkat ke atas, memberikan pemandangan indah buah Aaron.
Apalagi kemeja Aaron hanya mampu menutupi setengah dari bagian paha Chiara.
Kalau tadi kedatangan Chiara ke kantornya sudah membuat hati Aaron kembang kempis karena disuguhkan dengan pemandangan bagian dada Chiara yang terlihat begitu menggoda karena pakaian yang dikenakannya memiliki potongan leher rendah.
Bagi Aaron, dengan kancing kemejanya yang terkancing rapat dan dikenakan oleh Chiara sekarang, juga membuat jantung Aaron berdebar keras karena bagian tubuh Chiara lainnya yang tidak kalah menggoda bagi Aaron terlihat dengan jelas karena hanya kemejanya yang dikenakan Chiara.
Chiara sendiri dengan percaya dirinya, tanpa menyadari bahwa yang sedang diajaknya bicara adalah seorang laki-laki normal yang sudah sekiannlama menginginkannya, justru bersikap santai kepada Aaron, seperti yang sudah dia lakukan selama ini saat tinggal sekamar dengan Aaron, selalu ceroboh akibat nyamannya dia berada di dekat Aaron.
"Om.... masak aku harus keluar dengan pakaian seperti ini? Malu kan kalau sampai dilihat orang?" Dengan wajah tidak bersalah, Chiara memandang ke arah Aaron dan mengeluhkan tentang pakaian yang sedang dikenakannya sekarang.
"Apa masih lama pakaian yang tadi Om Aaron minta kepada pak Zac untuk menyiapkannya?" Chiara kembali bertanya meskin Aaron belum menjawab pertanyaannya yang sebelumnya.
"Zachary sedang mengurusnya. Tapi tidak mungkin kan 10 menit sudah datang barangnya?"
"Kalau begitu.... apa om Aaron punya celana pendek di sini?" Pertanyaan lugas dari Chiara tanpa memikirkan bagaimana otak Aaron yang berusaha menepis setiap bayangan-bayangan aneh di pikirannya, membuat Aaron hanya bisa menelan ludahnya sambil menahan nafasnya.
"Eh... itu... aku tidak yakin, tapi coba aku cari." Setelah menjawab pertanyaan Chiara, Aaron buru-buru mendekati lemari dan mencoba mencari apa yang diminta oleh Chiara.
"Hanya ada satu ini di lemariku." Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Aaron berkata sambil menunjukkan sebuah celana boxer miliknya kepada Chiara.
"Sepertinya ini akan kebesaran juga untukmu." Perkataan Aaron tidak membuat Chiara menghentikan tangannya untuk meraih celana boxer milik Aaron itu.