
Chiara yang awalnya menikmati mandinya karena begitu segarnya air pegunungan yang mengguyur tubuhnya, begitu selesai dari kegiatan mandinya, dan berencana mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya, langsung terbeliak kaget, begitu melihat pakaiannya yang teronggok di lantai, dengan kondisi basah kuyub.
Aduh! Celaka dua belas! Kenapa sial sekali nasibku hari ini. Bahkan satu-satunya pakaian yang aku miliki, jadi basah seperti ini.
Chiara berteriak dalam hati, dan matanya memandang dengan tatapan tidak percaya ke arah onggokan pakaiannya, yang jelas-jelas tidak bisa dikenakannya lagi untuk saat ini.
“Om Aaron….” Tanpa sadar bibir Chiara mendesis pelan, menyebutkan nama Aaron, yang dengan gesitnya, kurang dari satu detik, langsung mendekat ke arah pintu kamar mandi begitu mendengar suara pelan dari bibir Chiara yang menyebutkan namanya.
“Chiara… ada apa?” Aaron segera bertanya sambil mengetuk pelan pintu kamar mandi.
Chiara yang baru tersadar kalau baru saja dia mendesiskan nama Aaron, langsung mengangkat kepalanya kembali, dan memandang ke arah pintu kamar mandi dengan wajah bingung.
“Eh….” Dengan suara pelan dan ragu, Chiara hanya bisa mengeluarkan satu patah kata itu begitu mendengar suara Aaron dari balik pintu kamar mandi.
“Apa yang terjadi Chiara? Apa kamu butuh bantuan?” Aaron kembali bertanya sambil menajamkan pendengarannya, bersiap kalau-kalau Chiara mengatakan sesuatu padanya.
“Om Aaron….” Akhirnya Chiara memanggil nama Aaron dengan suara pelan.
“Ya. Kenapa Chiara?”
“Om… bisa minta tolong?” Mau tidak mau akhirnya Chiara harus meminta tolong pada Aaron untuk mengambilkan pakaian yang ada, jika tidak ingin terus terkurung di kamar mandi seperti saat ini, tanpa pakaian.
“Apa yang bisa aku bantu? Kenapa kamu tidak segera keluar dari kamar mandi?”
“Anu Om… tolong… ambilkan pakaian yang disediakan mama Sarah di lemari tadi.” Aaron langsung mengernyitkan dahinya begitu mendengar permintaan Chiara yang dianggapnya aneh, karena masih diingat Aaron bagaimana wajah bingung sekaligus tatapan mata aneh begitu Chiara melihat jajaran pakaian haram di lemari itu tadi.
Dan sekarang tiba-tiba saja Chiara memintanya untuk mengambilkan salah satu dari pakaian itu, membuat Aaron merasa heran dan tidak percaya.
“Chiara… apa yang terjadi denganmu? Kenapa tiba-tiba kamu minta diambilkan pakaian di lemari? Kemana pakaian yang kamu pakai tadi?” Akhirnya Aaron tetap bertanya, tanpa beranjak untuk memenuhi permintaan Chiara.
“Eh… itu Om Aaron… tidak sengaja pakaianku terjatuh di lantai, jadi terkena air ketika aku mandi tadi. Sekarang, pakaiannya sangat basah, tidak bisa aku pakai sementara ini.” Chiara memberikan penjelasan yang pada akhirnya membaut Aaron melongo.
Hah… istriku ini benar-benar ceroboh. Bagaimana bisa satu-satunya pakaian yang normal miliknya terjatuh dan basah seperti itu?
Aaron berkata dalam hati sambil tersenyum geli, menyadari kecerobohan Chiara yang kadang-kadang membawa masalah untuk dirinya sendiri.
Apalagi langit sudah terlihat gelap, bahkan, makan malam mereka pun sudah dikirimkah oleh pelayan villa ketika Chiara mandi tadi.
Ditambah lagi, kondisi lingkungan sekitar villa yang memang terletak di daerah pegunungan itu, membuat udara sekitar terasa dingin saat hari semakin malam.
Bahkan, ketika Chiara masih mandi tadi, Aaron sengaja mematikan AC ruangan karena dirasakannya udara dingin mulai terasa menerpa tubuhnya, sehingga dia khawatir Chiara akan kedinginan jika AC terus menyala meski di pengaturan suhu yang paling tinggi.
“Terserah Om Aaron saja. Om Aaron tahu tidak ada yang sebenarnya bisa disebut pakaian di lemari itu.” Medengar kata-kata Chiara yang terdengar pasrah sekaligus kesal itu, Aaron hampir saja tertawa geli, tapi ditahannya.
“Oke, tunggu sebentar.” Aaron berkata sambil berjalan ke arah walk in closet dan mendekat kea rah lemari dimana belasan lingerie tergantung di sana.
“Ist… siapa sih yang menemukan ide model pakaian kurang bahan ini?” Aaron bergumam pelan sambil mulai melihat-lihat pakaian-pakaian itu, berharap ada yang sedikit lebih normal dari lainnya yang bisa dia temukan.
Namun setelah beberapa kali membolak-balik pakaian-pakaian itu, Aaron tidak menemukan satupun yang terkesan cukup tertutup dibanding yang lain.
Semuanya sama saja, hanya warna dan bahan yang membedakan, tapi semuanya terlihat begitu menerawang dan terbuka.
“Kalau semuanya sama saja, aku harus memilih yang mana? Haist… ide mama Sarah benar-benar membuat kami berdua mati kutu.” Aaron kembali mengeluarkan kata-kata dengan suara pelan.
Akhirnya, Aaron menarik mengambil salah satu pakaian haram itu, sengaja memilih warna putih, karena takut jika memilih warna yang terlalu berani seperti merah atau hijau, justru akan membuat Chiara berpikir dia sengaja memilih warn aitu agar Chiara terlihat menggoda.
“Chiara….” Begitu berada di depan pintu kamar mandi, Aaron memanggil nama Chiara yang langsung membuka pintu kamar mandi, dengan tangan terulur keluar, tanpa berani menunjukkan wajahnya, apalagi tubuhnya yang hanya terbalut selembar handuk dengan panjang di atas lutut.
“Terimakasih Om Aaron.” Chiara langsung berterimakasih begitu Aaron memberikan baju itu ke tangan Chiara yang langsung menarik kembali tangan yang terulur tadi.
“Kalau sudah, cepatlah keluar. Sudah lama kamu di kamar mandi. Dan ini sudah malam, udara semakin dingin.” Aaron berkata sambil menarik handle kamar mandi, membantu Chiara menutup kembali pintu kamar mandi.
“Iya Om Aaron.” Chiara menjawab perkataan Aaron sambil mendee…sah pelan, memandang ke arah lingerie yang ada di tangannya.
Pakaian ini… Kalau aku memakainya, sama saja dengan seperti aku tidak mengenakan pakaian apapun, karena semua baju dalamku juga akan kelihatan jelas. Sungguh memalukan. Lalu bagaimana caraku keluar dari kamar mandi tanpa dilihat oleh om Aaron? Terus terang, aku tidak siap jika harus dilihat om Aaron dengan pakaian aneh seperti ini. Akan memalukan sekali kalau om Aaron melihatku mengenakan pakaian yang sebenarnya tidak bisa disebut pakaian karena mengenakannya, seperti tidak mengenakan pakaian. Pakaian ini sudah membuatku seperti wanita penggoda saja. Bisa-bisanya mama Sarah membuatku mengenakan pakaian seperti ini di depan om Aaron. Huft….
Chiara berkata dalam hati, mulai mengenakan pakaian di tangannya itu dan memikirkan cara bagaimana dia bisa keluar dari kamar mandi dengan pakaian itu tanpa harus dilihat oleh Aaron.