Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
SEDIKIT MELEPAS RINDU



Jika boleh jujur, rasanya ingin sekali Chiara segera mengambil handphone itu dengan gerakan super cepat yang dia bisa, dan menyapa sang suami yang berada nun jauh di sana.


Tapi di sisi lain, saat Chiara mengingat tentang pesan Aaron saat itu, Chiara merasa takut untuk menerima uluran handphone dari tangan Sarah saat ini.


"Ayo...." Suara bisikan pelan Sarah padanya membuat Chiara memandang ke arah Sarah dengan tatapan tidak berdaya.


Di tempat lain, Aaron yang bisa mendengar Sarah mengatakan ayo, hanya bisa menebak-nebak siapa yang diajak bicara oleh Sarah sekarang ini, karena lawan bicara Sarah, belum mengeluarkan suara sama sekali.


Tapi entah kenapa, Aaron yang sedang duduk di balkon kamar apartemennya di Amerika, bisa merasakan bagaimana dadanya yang saat ini tiba-tiba berdetak cukup kencang saat ini, seolah-olah akan ada suatu hal besar akan terjadi padanya.


"Apa kalian sedang bertengkar? Kenapa kamu tidak ingin menyapa Aaron?" Pertanyaan dari Sarah membuat Chiara akhirnya dengan ragu menerima uluran handphone itu, karena tidak ingin Sarah curiga tentang hubungan mereka dan benar-benar berpikir kalau mereka berdua memang sedang bertengkar.


Aaron yang bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkan oleh mamanya meskipun diucapkan dengan suara sepelan mungkin pada Chiara, langsung menarik nafas dalam-dalam, karena sudah mulai bisa menduga siapa yang sedang diajak bicara oleh Sarah, dan sedang dimintanya untuk menyapanya.


Dengan gerakan pelan dan ragu, dan dada yang berdebar-debar, akhirnya Chiara menempelkan handphone Sarah ke telingannya.


"Ha... hallo om Aaron.... Apa kabar?" Suara pelan dari Chiara yang terdengar ragu, langsung membuat dada Aaron berdetak semakin hebat.


Chiara….


Aaron yang masih tidak percaya bahwa saat ini tiba-tiba suara Chiara terdengar di telinganya, langsung menyebutkan nama Chiara.


Meskipun hanya dalam hati, tapi Aaron menyebutkan nama Chiara dengan begitu lembut dan mesra.


Dan dengan gerakan cepat Aaron langsung berdiri dari duduknya, menahan nafasnya sebentar sebelum membalas salam dari Chiara.


Aku sangat merindukanmu my little girl.... amat sangat merindukanmu... seperti orang sakau.


Aaron langsung membalas sapaan Chiara dalam hatinya, sambil memejamkan matanya, menikmati bagaimana ada getaran hebat dalam dadanya saat mendengar suara yang baginya sangat merdu itu.


"Baik... bagaimana kabarmu sendiri disana?" Suara balasan dari Aaron hampir saja membuat Chiara menangis karena begitu bahagianya dia saat ini bisa mendengar lagi suara itu.


"Ba... baik Om Aaron, baik...." Dengan sikap salah tingkah, Chiara membalas pertanyaan Aaron.


Sikap gugup Chiara, dan wajah memerahnya, membuat Sarah tersenyum senang, melihat bagaimana bahagianya wajah Chiara saat ini, meskipun itu membuatnya sedikit heran, karena sikap Chiara menunjukkan kalau Chiara dan Aaron tidak sering berhubungan melalu panggilan telepon.


Apa mereka benar-benar sedang bertengkar? Tapi melihat sikap Chiara, dia terlihat begitu senang bisa berkomunikasi dengan Aaron. Ah… mungkin mereka sedang sama-sama sibuk, sehingga lama tidak saling berkomunikasi. Hubungan mereka pasti baik-baik saja. 


Sarah berkatata dalam hati, mencoba berpikir positif tentang Aaron dan Chiara.


Grayson yang duduk di kursi pengemudi, hanya berani melirik ke arah Chiara, tanpa berani menatap wajah Chiara dengan jelas, karena dari suaranya saja, Grayson bisa menebak kalau saat ini Chiara sangat bahagia begitu berbincang dengan Aaron.


Syukurlah kamu baik-baik saja. Karena aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri jika terjadi sesuatu yang buruk padamu. Jika saja bisa, selamanya aku ingin selalu berada di dekatmu, dan selalu melindungimu, meskipun kamu tidak tahu tentang keberadaanku.


"Bagaimana sekolahmu?" Chiara langsung tersenyum senang, karena awalnya dia mengira Aaron akan mencari cara untuk segera mengakhiri panggilan telepon mereka, tapi ternyata Aaron justru mengajaknya mengobrol, membuat hatinya semakin berbunga-bunga.


“Baik Om…. Aku diminta menjadi panitia penerimaan siswa baru di bagian acara.”


“Aku sudah mendengarnya dari Zachary. Sebentar lagi kamu suda kelas tiga. Persiapkan dirimu dengan baik agar bisa masuk ke universitas yang kamu inginkan. Kurangi jadwal kegiatanmu yang tidak terlalu penting, agar kamu bisa fokus pada pelajaranmu, dan waktu istirahatmu juga cukup.” Apa yang dikatakan oleh Aaron membuat wajah Chiara semakin memerah dengan senyum malu menghias wajahnya.


“Iya Om. Aku sudah bersiap kok. Jangan khawatir.”


“Perhatikan waktu tidurmu dengan serius. Aku dengar dari bu Ida, kamu sering bergadang.” Chiara langsung meringis mendengar perkataan Aaron.


Chiara benar-benar tidak menduga bahwa Aaron yang melarangnya untuk mengirimkannya pesan atau menghubunginya, ternyata diam-diam tetap memantau kegiatannya melalui orang lain.


“Cuma beberapa hari belakangan ini saja Om, karena persiapan ujian akhir semester, dan juga banyak tugas dari pak Zac yang harus aku selesaikan.” Jawaban Chiara membuat Aaron yang berdiri sambil menopangkan salah satu tangannya yang tidak memegang handphone di tembok pembatas balkon, langsung menghela nafasnya.


“Kalau kamu merasa pelajaran dari Zachary terlalu membebanimu, selama persiapan ujian ini, aku akan minta Zachary menghentikan pelajar….”


“Tidak Om! Tidak perlu. Aku tidak mau itu dihentikan.” Chiara langsung memotong perkataan Aaron.


Bagi Chiara, kehadiran Zachary untuk mengajarinya setiap sore kecuali di akhir pekan, memberikan kesempatan dia untuk bisa secepat mungkin belajar banyak tentang bisnis.


Tapi alasan terbesar Chiara adalah… dengan adanya Zachary, dia bisa sering mendapatkan info tentang kondisi Aaron di Amerika.


Tentu saja Chiara tidak akan mau kehilangan kesempatan untuk itu.


“Tapi Chiara….”


“Tenang saja Om, aku akan mengatur waktuku lagi. Aku janji semua akan seperti keinginan Om Aaron. Belajar giat, tanpa melupakan makan dan istirahat.” Chiara berkata sambil menyunggingkan senyumnya, seolah Aaron bisa melihat senyum manisnya.


Di tempatnya berdiri, meski tidak bisa memandang Chiara, hanya mendengar suaranya, hati Aaron sudah berkali-kali berdesir.


“Aku ingin segera bisa sedikit banyak mulai terjun ke bisnis peninggalan papa Om. Karena itu, aku harus segera banyak belajar tentang itu.” Penjelasan Chaira selanjutnya membuat Aaron terdiam sebentar.


“Kata Zachary, tante Mona kemarin memarahimu.” Membicarakan tentang niat Chiara yang ingin secepatnya menguasai pelajaran dari Zachary, membuat Aaron teringat akan laporan Zachary kemarin.


“Gara-gara Om Aaron sih, tidak mau menerima panggilan telepon dari tante Mona. Tante jadi marah-marah ke aku karena hak wali dan juga wakil penerima uang jatah bulananku dipindahkan darinya.” Chiara mengomel sambil terkikik geli, membuat Aaron tahu kalau Chiara hanya bercanda, tidak benar-benar menyalahkannya.


Suara ceria dari Chiara, membuat Aaron tersenyum, baginya suara ceria gadis itu membuat hatinya terasa begitu hangat.


“Biarkan saja, kita tidak perlu menanggapi hal yang tidak penting seperti itu. Jangan menghabiskan waktu untuk hal yang tidak ada gunanya untukmu.” Aaron membalas kata-kata Chiara dengan suara datar.