Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
AJAKAN PERGI DI AKHIR PEKAN



“Masak harus serepot itu sih Om? Harus belajar berdandan juga? Aku kan foromodel atau artis? Apalagi peragawati.” Dengan malu-malu Chiara menanggapi perkataan Aaron dengan pertanyaan.


“Jika boleh jujur, aku lebih suka wajah polosmu tanpa make up. Cantik sekali, tapi sayangnya untuk beberapa keperluan, kamu memang harus tampil dengan make-up. Tidak ada salahnya belajar, paling tidak kamu bisa merias wajahmu sendiri meski yang sederhana. Kamu sudah sangat cantik kok tanpa make up.” Wajah Chiara langsung memerah begitu mendengar pujian dari Aaron.


“Jam berapa kita berangkat Om?” Untuk mengurangi rasa canggungnya, akhirnya Chiara berusaha mengingatkan Aaron tentang rencana meeting mereka siang ini.


“Masih ada waktu sebentar lagi.” Aaron berkata sambil melihat ke arah jam tangannya, membuat Chiara tersenyum lebar.


“Kalau begitu, masih ada waktu untuk kita mengobrol.” Chiara berkata sambil dengan bersemangat langsung mengambil salah satu dari 2 kursi di hadapan meja kerja Aaron, menariknya dan meletakkannya tepat di samping kursi kerja Aaron.


Dan tanpa ragu, Chiara langsung duduk di kursi yang baru diambilnya, dengan posisi menempel pada kursi Aaron, sehingga tubuh mereka berdua juga saling menempel, meski hanya kedua lengan mereka, namun sudah bisa menimbulkan sesuatu seperti sengatan listri pada tubuh Aaron..


“Om Aaron, ada acara apa akhir pekan ini? Bisakah kita pergi berdua jalan-jalan? Sejak menikah, kita belum pernah berjalan berdua kan? Meskipun aku sudah menikah, tapi sekali-sekali, ingin menikmati masa-masa pacarana seperti orang lain. Boleh kan Om?” Chiara berkata sambil mamandang Aaron yang wajahnya terlihat sedikit tegang karena Chiara mengucapkan kata-katanya sambil tangannya yang tadi tiba-tiba menempel di paha Aaron, mengguncang pelan paha itu.


Shiii….iiit!


Lagi-lagi, dengan frustasi, Aaron berteriak dalam hati sambil menahan nafasnya, apalagi posisi tangan Chiara begitu dekat dengan senjata pusakanya, meski belum sampai menyentuhnya.


“Eh, sebaiknya kita berangkat sekarang, takutnya jalanan macet, kita tidak bisa datang tepat waktu.” Aaron berkata sambil menjauhkan kursinya dari kursi Chiara dan bangkit dari duduknya, membuat Chiara sedikit kaget melihat tindakan Aaron yang seolah-olah meneghindar untuk menjawab ajakannya pergi akhir pekan ini.


“Om Aaron….” Chiara yang ikut menyusul berdiri Aaron yang sedang mengancingkan kancing jasnya, memanggil nama Aaron yang langsung menoleh.


“Kenapa Chiara?”


“Apa Om Aaron benar-benar mencintaiku seperti kata Om tadi?” Pertanyaan Chiara membuat kedua tangan Aaron yang sedang mengancingkan kancing jasnya terhenti seketika, merasa heran mendengar pertanyaan Chiara yang diucapkannya dengan tatapan mata sayu, dan wajah sedih.


“Kenapa kamu bertanya seperti itu Chiara? Apa kamu tidak percaya padaku?” Aaron balik bertanya sambil berjalan mendekat ke arah Chiara, yang langsung menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Aku yang terlalu berharap kita bisa cepat dekat ya Om? Padahal meskipun kita sudah dua tahun menikah, pertemuan kita bica dihitung dengan jari selama 2 tahun yang kita lalui.” Chiara yang akhirnya tersadar bahwa selama ini memang memang menikah, tapi baru hari ini Aaron mengungkapkan rasa cintanya, tidak mungkin mengharapkan tiba-tiba mereka bisa langsung dekat seperti pasangan yang sudah lama menjalin hubungan.


Dan sayangnya, Chiara benar-benar tidak tahu bahwa maksud Aaron tidak menjawab pertanyaannya karena dia begitu sibuk mengedalikan dirinya yang begitu terpancing akibat sentuhan Chiara di pahanya barusan.


“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Aaron berkata sambil mendekat kembali ke arah Chiara sambil menahan nafasnya, untuk mengendalikan gejolak hasrat di dalam dirinya.


“Aku tidak pernah keberatan untuk dekat denganmu, hanya saja, ada beberapa hal yang belum bisa kita lakukan untuk menunjukkan betapa aku mencintaimu. Kamu percaya padaku kan?” Pertanyaan Aaron langsung dijawab dengan sebuah anggukan kepala oleh Chiara.


“Aku percaya sepenuhnya pada Om Aaron. Maafkan kata-kataku tadi ya Om.” Chiara berkata sambil membalas pelukan Aaron dengan begitu erat, untuk menunjukkan bahwa dia begitu mencintai laki-laki itu.


“Sekarang, lebih baik kita selesaikan satu persatu urusan kita hari ini. Karena ada begitu banyak hal yang harus aku sampaikan padamu.” Aaron berkata sambil melepaskan pelukannya, sambil menatap hangat ke arah Chiara yang mendongakkan kepalanya.


“Baik Om….” Chiara berencana melanjutkan bicaranya, namun suara ketukan pintu membuatnya menghentikan niatnya.


Sebentar kemudian, tampak Zachary masuk kembali ke kantor Aaron.


“Semua sudah siap Pak Aaron. Apa Anda dan nona Chiara berencana berangkat sekarang?” Begitu ebrada di dekat Aaron dan Chaira, Zachary langsung bertanya.


“Iya, kita berangkat sekarang.” Aaron berkata sambil memeluk bahu Chiara dan mengelus-elus lengannya sebentar, untuk memberikan kekautan dan rasa percaya diri, karena untuk pertama kalinya, Chiara akan bertemu dengan para petinggi di perusahaan papanya.


“Aku akan baik-baik saja selama ada Om Aaron yang mendukungku.” Chiara berisik pelan setelah Aaron menjauhkan tangannya dari tubuh Chiara.


Mendengar bisikan pelan dari Chiara, Aaron langsung tersenyum dan mendekatkan bibirnya ke telinga Chiara.


“Aku akan selalu mendukungmu dan berdiri tepat di belakangmu.” Aaron membalas bisikan pelan dari Chiara.


“Ayo kita pergi sekarang.” Aaron berkata kepada Zachary yang langsung menggeser tubuhnya, membiarkan kedua majikannya berjalan lebih dahulu.


“Chiara… untuk masalah akhir pekan tadi… aku tidak bisa mengajakmu pergi karena….” Sambil berjalan, Aaron berkata pelan kepada Chiara.


“Eh, tidak masalah Om. Anggap saja perkataanku tentang akhir pekan hanya sebuah angin lalu. Banyak hal bisa kita lakukan di apartemen, mungkin membereskan apartemen karena bu Ida dan Tia yang belum bisa kembali.” Chaira langsung memotong perkataan Aaron.


“Bukan begitu…. Tolong dengarkan aku sebentar ya.” Aaron berkata sambil tersenyum, merasa gemas melihat Chiara yang pikirannya selalu berpikir lebih cepat sehingga kadang tidak mau mendengarkan orang lain menyelesaikan bicaranya terlebih dahulu.


“Ah, ya… maaf Om Aaron… silahkan Om Aaron bicara.” Chiara langsung meringis begitu menyadari bagaimana dia yang sudah memotong perkataan Aaron.


“Aku tidak bisa mengajakmu pergi akhir pekan ini, karena mama Sarah memaksa kita berdua untuk ikut berlibur ke villa keluarga Malverich. Dan aku sudah mengiyakan permintaan mama Sarah.” Mata Chaira langsung membulat sempurna begitu mendengar penjelasan dari Aaron tentang rencana berlibur ke villa keluarga Malverich.


“Ber.. berlibur bersama mama Sarah dan papa Johnson? Ke villa?” Pertanyaan Chiara langsung dijawab dengan sebuah anggukan tanpa ragu dari Aaron.


“Aku mau Om. Aku mau ikut berlibur bersama mereka.” Tanpa ragu dan basa basi, tiba-tiba saja Chiara langsung berkata dengan wajah dan suara ceria, sambil kedua tangannya langsung memeluk lengan Aaron yang tangannya dia masukkan ke dalam saku celana panjangnya, dan Chiara bergelayut disana dengan manja dan wajah bahagianya.