Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
APARTEMEN MILIK AARON



Entah kenapa, Zachary begitu suka menggoda Chiara, dengan menyebutkan nama Aaron dengan om Aaron Chiara.


Meskipun ketika pertama kalinya mendengar Chiara menyebut nama Aaron dengan sebutan om Aaron, Zachary merasa aneh dan tidak seharusnya, tapi lambat laun, mendengar Chiara memanggil Aaron dengan sebutan om Aaron disertai dengan nada ceria, matanya yang selalu berbinar cerah saat memandang Aaron, membuat Zachary justru senang mendengar Chiara yang memanggil Aaron dengan sebutan om.


Bahkan Zachary menganggap panggilan om Aaron itu merupakan panggilan sayang Chiara kepada Aaron.


Mendengar perkataan Zachary, mata Chiara hanya bisa melotot. Tidak bisa membayangkan betapa kayanya orang-orang yagn disebutkan oleh Zachary tadi.


"Kita sudah sampai Nona." Dengan suara ramah, Zachary yang sudah membukakan pintu mobil untuk Chiara, berkata kepada Chiara yang matanya masih melihat ke sekelilingnya, dan matanya terpaku pada mobil ferari berwarna merah milik Aaron, dan satu lagi mobil lain yang terparkir rapi di samping mobil yang sekarang sedang ditumpanginya.


"Eh, Pak Zac, kenapa parkiran seluas ini, hanya ada tiga mobil termasuk yang kita naiki ini? ini? Tadi di lantai parkir lain, ada beberapa mobil terparkir. Apa banyak penghuni yang parkir di lantai ini jarang pulang ke apartemennya?" Dengan sikap polos dan penasaran, Chiara bertanya sambil keluar dari mobil dan menatap ke arah Zachary yang langsung tersenyum.


"Bukan begitu Nona. Lantai parkir yang ini, khusus untuk mobil milik om Aaron Nona, dan juga tamu atau keluarga beliau yang berkunjung." Jawaban Zachary membuat Chiara menatap dengan wajah tidak percaya ke arah Zachary.


"Yang benar Pak Zac? Apa om Aaron adalah orang sehebat itu?" Sambil mengajak Chiara memasuki lift, Zachary langsung mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar pertanyaan Chiara.


"Kenapa Nona meragukan kehebatan om Aaron Nona? Bahkan gedung apartemen mewah ini adalah salah satu gedung apartemen milik om Aaron Nona Chiara lho. Karena itu om Aaron Nona bebas melakukan apapun pada gedung ini." Zachary berkata dengan nada percaya diri, ikut bangga dengan sosok hebat Aaron.


"Wah... pantas saja om Aaron bisa bebas memutuskan apapun di tempat ini, termasuk mengambil satu lantai tempat parkir untuknya sendiri. Om Aaronku benar-benar hebat ya Pak Zac!" Chiara berteriak kecil, sambil memukul lengan Zachary, yang langsung menjauhkan tubuhnya dari Chiara dengan sikap kaget, dan langsung memegang lengan yang tadi dipukul oleh Chiara, membuat Chiara jadi merasa bersalah.


"Upst! Maaf Pak Zac!" Chiara yang menyadari kesalahannya kembali berteriak kecil sambil menutup bibirnya dengan telapak tangannya.


"Nona... tolong ingat nasehat om Aaron Nona tentang tidak boleh sembarangan memukul laki-laki lain selain om Aaron Nona." Zachary berkata sambil mengelus-elus lengannya yang baru saja dipukul oleh Chiara, dengan posisi tubuh menempel pada dinding lift, mengambil jarak paling jauh dari Chiara.


Daripada rasa sakit karena pukulan Chiara, sebenarnya Zachary lebih takut kalau Aaron melihat Chiara memukulnya, dan memberikan teguran keras padanya.


Apapun alasan Chiara memukulnya, meski itu bukan salah Zachary, laki-laki itu yakin, dia akan tetap dianggap sebagai pihak yang bersalah oleh Aaron.


"Maaf Pak Zac... maaf... masih belum terbiasa. Lagian, bagiku Pak Zac juga sudah seperi omku sendiri..."


"Aduh! Tolong Nona! Jangan berani mengatakan hal seperti itu di depan om Aaron Nona kalau Nona masih kasihan pada saya dan tidak ingin saya dipecat gara-gara itu..." Zachary berkata sambil mengatupkan kedua telapak tangannya, mengangkatnya lurus dengan wajahnya, dan berkata dengan wajah memohon kepada Chiara.


"Pak Zac jangan bercanda ah. Mana mungkin om Aaronku bertindak arogan seperti itu pada Pak Zac."


Apa benar om Aaron rela melakukan apapun untukku seperti kata pak Zac? Apa itu artinya… om Aaron juga menyukaiku? Tapi rasanya tidak mungkin om Aaron yang terlihat begitu berwibawa dan hebat, menyukaiku yang masih terlalu kecil dan beru dikenalnya. Itu pasti cuma angan-angan pak Zac saja.


Chiara berkata dalam hati, antara percaya dan tidak percaya dengan kata-kata Zachary, tapi dia sungguh berharap, 4 tahun lagi, dia benar-benar bisa menjadi wanita yang layak sebagai pendamping Aaron.


Dan jika saat itu tiba, Chiara akan mencoba sebisa mungkin, untuk membuat Aaron jatuh cinta padanya.


"Pokoknya Nona, saya tidak mau ambil resiko, jadi tolong Nona ingat dengan baik, jangan melakukan hal seperti itu lagi kalau Nona ingin saya tetap selamat dan berumur panjang. Nona tidak tahu, apa yang akan dilakukan pak Aaron jika melihat Nona bersikap terlalu dekat dengan lki-laki lain. Jangan mencoba membangkitkan cemburu seorang laki-laki yang menyukai Nona, jika Nona juga menyukainya. Karena cemburu seorang pria itu sangat mengerikan Nona. Apalagi pria pendiam seperti om Aaron Nona." Zachary berkata sambil meringis dan membuka pintu lift yang sudah berhenti.


Chiara hanya bisa menanggapi perkataan Zachary dengan sebuah senyum tipis, meskipun dalam hatinya, dia tidak yakin Aaron benar-benar menyukainya sebesar itu, seperti yang dikatakan oleh Zachary barusan.


“Aku akan ingat pesan Pak Zac baik-baik.” Akhirnya Chiara berkata sebelum akhirnya keluar dari lift dengan Zachary berjalan di sampingnya.


# # # # # # #


Suara bel dari arah pintu apartemennya, membuat Aaron yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Chiara langsung bangkit dari duduknya, dan berjalan ke arah pintu.


Begitu Aaron membuka pintu apartemen, wajah Chiara yang berdiri di depan pintu sambil tersenyum ceria ke arahnya, membuat Aaron menyungingkan senyum tipis ke arah Chiara untuk membalas senyumannya.


“Selamat sore Om Aaron….” Chiara langsung menyambut Aaron dengan sapaan yang terdengar ramah.


“Selamat datang di tempat tinggal barumu Chiara, semoga kamu menyukainya dan kerasan tinggal di sini.” Aaron berkata kepada Chiara yang masih berdiri di balik pintu.


Tentu saja aku akan suka. Mulai sekarang, tidak ada lagi omelan dari tante Mona, tidak adalagi sikap buruk Revina yang selalu berusaha menekan dan merebut apapun yang aku miliki. Tidak adalagi rencana aneh dari tante Mona untuk menikahkanku dengan laki-laki aneh agar bisa menguasai harta peninggalan papa dan mama. Dua orang itu memang tidak pernah merasa senang jika aku bahagia.


Chiara berkata dalam hati sambil meringis ke arah Aaron, memperlihatkan wajah yang menggemaskan.


“Jangan dibilang Om, Chiara pasti akan suka tinggal di tempat ini.” Chiara menjawab dengan cepat.


Apalagi kalau bisa tinggal bersama om Aaron. Sayangnya sampai 4 tahun ke depan aku harus tinggal sendirian tanpa om Aaron bersamaku. Memyangkan itu, rasanya sungguh menyedihkan.


Chiara melanjutkan kata-katanya dalam hati dengan mata menatap ke arah Aaron, lagi-lagi dengan tatapan mata yang terlihat jelas bagaimana dia begitu menyukai dan kagum dengan laki-laki tampan itu.