
Tapi setelah beberapa lama berlalu, tidak ada satupun tanda-tanda adanya pesan baru masuk untuk Aaron, seperti yang diharapkannya.
Sebentar kemudian Aaron memasukkan kembali handphone itu ke dalam sakunya, setelah itu dengan gerakannya yang super cepat, tanpa bisa diikuti oleh mata manusia normal, Aaron terlihat bergerak ke arah utara.
Arah dimana itu adalah arah menuju rumah yang ditinggali Chiara sejak masa kecilnya, dan sekarang juga dihuni oleh om, tante dan sepupunya.
Sekilas, hanya sekilas, tidak lebih dari sedetik, Aaron berdiri di atas salah satu atap bangunan yang tepat berada di depan bangunan rumah dari Chiara, memandang ke arah jendela kamar Chiara yang kebetulan berada di bagian depan, terletak di lantai 2 rumah itu, sehingga dengan matanya yang tajam, Aaron bisa melihat ke dalam kamar Chiara, melalui sela-sela jendela yang tirainya masih terbuka.
Dari luar, jendela yang seringkali tirainya dibiarkan terbuka oleh Chiara, Aaron dapat melihat bagimana gadis kecil itu tidur meringkuk seperti bayi, dengan salah satu telapak tangannya berada di atas handphone yang tergeletak di tempat tidurnya, tepat di depan dadanya.
Melihat bagaimana nyenyaknya gadis cantik itu tertidur, dengan tirai jendela yang masih terbuka, Aaron sedikit menggeleng-gelengkan kepalanya.
Lalu dengan gerakan sangat cepat, Aaron melompat, bergerak ke arah balkon kamar Chiara.
Dengan gerakan hati-hati, Aaron berusaha membuka jendela kamar Chiara yang ternyata tidak terkunci, membuat Aaron mendesah pelan menyadari bagaimana cerobohnya gadis kecil yang akan segera menjadi istrinya itu.
Aaron berusaha membuka jendela kamar gadis itu tanpa suara, lalu menarik tali yang mengikat tirai itu agar tirai itu terlepas, membuat tirai jendela kamar itu tertutup.
Setelah itu, Aaron menutup kembali jendela kamar Chiara, sebelum akhirnya tubuhnya melesat pergi dengan sangat cepat meninggalkan balkon kamar Chiara.
# # # # # # #
Chiara yang baru saja bangun dari tidur lelapnya semalam, langsung menarik kedua tangannya ke atas, untuk meregangkan otot-otot tubuhnya, sambil menghirup nafas dalam-dalam, menikmati segarnya udara pagi ini setelah semalam tidurnya terasa begitu nyenyak.
Ketika tanpa sengaja Chiara melihat ke arah jendela, Chiara langsung melompat kaget, karena dilihatnya tirai jendela kamarnya yang tertutup, sedangkan dia tahu betul bahwa dia sangat jarang menutup tirai jendela kamarnya.
Dan Chiara ingat betul semalam dia memang tidak menutup tirai kamarnya, karena dia ingin menikmati indahnya bulan purnama yang bersinar di langit malam yang cerah kemarin, hingga dia tertidur.
"Eh... siapa yang menutup tirai kamarku ya?" Chiara mengamat-amati tirai kamarnya, lalu menggerak-gerakkannya, tapi tetap saja dia tidak bisa menemukan sebuah petunjuk sama sekali tentang bagaimana tirai jendela kamarnya tiba-tiba tertutup semalam.
"Pintu masih terkunci, berarti bukan salah satu dari orang di rumah ini pelakunya. Masak ada pencuri berniat masuk ke dalam rumah melalui jendela kamarku tadi malam?" Chiara bergumam pelan.
Meskipun Chiara memiliki kebiasaan tidak mengunci dan menutup jendela kamarnya, tapi dia tidak pernah lupa untuk menutup dan mengunci pintu kamarnya.
Melihat pintunya kamarnya masih terkunci rapat, Chiara berjalan kembali ke arah jendela kamarnya.
Disibakkannya tirai yang menghalangi pandangan matanya, lalu dibukanya jendela kamarnya.
Kepala Chiara langsung melongok keluar jendela, bergerak ke arah kanan dan kiri, atas dan bawah, dengan mata mengamati sekitarnya, mencoba mencari tanda-tanda jejak kehadiran seseorang di balkon tadi malam.
Di luar jendela kamar Chiara memang terdapat balkon berukuran cukup besar, dimana orang bisa saja berdiri di sana.
Tapi begitu melongok ke bawah, dengan balkon kamarnya dan tanah terdapat jarak cukup tinggi, lebih dari 6 meter, rasanya tidak mungkin untuk orang biasa untuk melompat dan naik ke balkon kamarnya tanpa menggunakan tangga.
"Ah, sudahlah, mungkin tanpa sengaja tirainya terkena angin, atau aku memang lupa, tenyata sudah menutup tirai dan jendela tadi malam sebelum tertidur." Chiara berkata pelan pada dirinya sendiri sambil memasang tali untuk tirai kamarnya agar terbuka kembali dengan rapi, sehingga sinar matahari bisa masuk ke dalam kamarnya.
Beberapa saat kemudian, Chiara masih berdiri di depan jendela kamarnya sambil menatap langit yang mulai terang, terlihat tersenyum-senyum sendiri karena teringat kembali dengan sosok Aaron yang sejak kemarin begitu memenuhi pikirannya.
"Eh." Chiara yang ingat bahwa dia sedang menunggu pesan dari Jaka tentang rencana kerja kelompok mereka nanti sepulang sekolah langsung berlari ke arah tempat tidurnya, dimana handphonenya tergeletak di sana karena dia yang tertidur tanpa sengaja semalam.
Begitu Chiara menyalakan layar handphonenya, mata gadis cantik itu langsung terbeliak karena selain pesan masuk dari Jaka dan Grace, ternyata ada pesan masuk dari Aaron.
"Om Aaron mengirim pesan untukku semalam?" Chiara berkata lirih sambil mengernyitkan dahinya.
Dengan gerakan tidak sabar, tidak perduli dengan pesan dari yang lain, Chiara segera membuka pesan dari Aaron.
"Ah! Bagaimana bisa aku mengirim pesan berupa ikon seperti itu ke om Aaron? Ah... memalukan sekali... bisa-bisanya tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba aku mengirimkan pesan seperti itu pada om Aaron...." Chiara berkata sambil mengacak-acak rambutnya karena tidak percaya semalam dia tanpa sengaja sudah mengirimkan pesan yang tidak jelas pada Aaron.