Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
RASA KESAL REVINA



Sedang Aaron dan Zachary, mereka terlihat menikmati suguhan pizza di depan mereka, bersama dengan minuman bersoda, juga salad buah yang lebih dahulu sudah mereka habiskan hingga menyisakan mangkuk kosong.


Untuk Chiara sendiri, jangan dibilang... karena dia adalah yang terlihat paling menikmati menu makan malamnya kali ini, dengan wajahnya yang terlihat begitu senang dan sangat menikmati makanannya.


Bahkan tanpa ragu, Chiara memakan potongan pizzanya dengan tangannya langsung, tanpa memotongnya menggunakan pisau dan menusuknya dengan garpu.


Dan, karena senangnya, Chiara sengaja membungkus 2 pizza berukuran paling besar, untuk dibawa pulang oleh Zachary, setelah dalam pembicaraan mereka sambil makan malam, Zachary bercerita kalau ini adalah salah satu tempat favorit bagi kedua anaknya yang masih SD.


Meskipun awalnya Zachary sempat menolak pemberian Chiara karena merasa sungkan, pada akhirnya dengan paksaan dari Chiara, Zachary menerima itu dengan senang hati, apalagi Chiara terlihat begitu senang saat melihat Zachary menerima pizza pemberiannya, membuat Zachary tidak tega jika terus menolaknya.


# # # # # # #


"Sial!" Revina melempar tas pesta yang tadi dibawanya sebagai pelengkap gaun malamnya yang mewah, ke arah tempat tidurnya.


Sebuah tas pesta indah dan mahal, yang tadi sengaja dibawanya untuk menyempurnakan penampilan cantiknya, agar bisa menarik perhatian Aaron, yang bahkan sepanjang acara makan malam tadi, bahkan tidak mengajaknya bicara sama sekali, meski hanya satu patah kata.


Jangankan menarik perhatian Aaron, mengajak Aaron bicara sepatah katapun agar Aaron sedikit memandangnya, Revina tidak memiliki kesempatan.


Aaron lebih banyak diam sambil menikmati pizzanya, dan sesekali dia terdengar menanggapi perkataan Chiara yang selalu berhasil menarik perhatian Aaron dan membuat laki-laki dingin itu sesekali menyunggingkan senyumnya karena perkataan atau sikap polos Chiara.


Meski Aaron juga tidak banyak bicara dengan Chiara, tapi beberapa kali Revina bisa melihat kalau mata amber Aaron seringkali menatap dan mengamati apa yang dilakukan oleh Chiara, bahkan sengaja menyodorkan potongan pizza terakhir dengan pinggiran keju ke arah Chiara yang langsung tersenyum dengan wajah senang dan ceria.


Semua rencana Revina hancur berantakan karena Aaron yang dengan sengaja memilih restauran pizza untuk makan malam mereka, merupakan sebuah tempat yang jauh dengan apa yang sudah dibayangkan oleh Revina sebagai tempat makan malam yang akan dipilih oleh seorang Aaron Malverich.


Bagi Revina yang mengetahui info tentang bagaimana kara rayanya keluarga Malverich, memang berharap agar dia bisa menikmati makan malam mewah.


"Aaron itu! Ternyata laki-laki itu sungguh menyebalkan!"


"Dan Chiara! Gadis ingusan itu benar-benar membuatku kesal dengan sikap sok polos dan cerianya!"


"Aku muak melihat bagaimana dia bisa tertawa-tawa lepas di depan Aaron!"


"Kenapa lagi? Siapa yang sudah membuatmu kesal? Apa acara makan malam kalian tidak lancar?" Mona bertanya sambil berjalan mendekat ke arah Revina yang langsung menoleh melihat kehadiran Mona.


"Tentu saja Chiara! Si Aaron juga! Ternyata Aaron itu benar-benar seperti patung hidup. Benar-benar pria dingin yang tidak mengerti tentang basa-basi dan bagaimana cara harus memperlakukan seorang wanita dengan baik dan sopan." Revina yang sudah duduk di atas tempat tidur, berkata sambil melepas sepatu high heelnya yang sudah patah bagian bawahnya, lalu melemparkannya ke samping kakinya.


"Apa yang terjadi?" Mona bertanya sambil mengernyitkan dahinya, merasa penasaran dengan apa yang sudah terjadi pada anak gadis kesayangannya di acara makan malam tadi.


"Bayangkan Ma! Dengan pakaian mewah ini, aku bersiap makan di restauran mewah, dan juga berencana menarik perhatian banyak orang termasuk Aaron. Tapi laki-laki dingin itu justru mengajak makan malam di Pizza Hut! Benar-benar tidak masuk akal! Tidak menghargai usaha kerasku untuk tampil cantik dan menawan di depannya!" Revina berkata dengan suara yang menunjukkan bahwa dia masih sangat kesal dengan kejadian tadi.


“Bahkan selama makan malam, dia tidak sekalipun terlihat memandang ke arahku, dan mengajakku bicara meski hanya sekedar basa-basi. Aku benar-benar dianggapnya angin lalu. Seolah aku tidak ada di sana.” Revina melanjutkan kata-katanya sambil mendengus dengan keras.


"Hah? Benar-benar keterlaluan laki-laki itu! Tidak menghargai keberadaanmu sama sekali." Mona berkata dengan nada cukup tinggi, ikut merasa kesal begitu mendengar cerita Revina.


"Laki-laki itu... memang sangat tampan dan kaya raya, tapi sayangnya, sikapnya seperti bongkahan es batu." Revina kembali menggerutu sambil membayangkan Aaron yang memang jarang sekali tersenyum, apalagi bersikap ramah terhadap orang-orang di sekitarnya.


"Betul! Laki-laki itu benar-benar dingin dan juga kata-katanya terdengar pedas di telinga. Apa kamu masih berharap bisa menarik perhatiannya?" Mona kembali bertanya kepada Revina yang sudah mulai melepas satu persatu perhiasan yang dia pakai tadi, dan menggeletakkannya di atas meja riasnya.


"Tergantung kondisi. Kalau ada kesempatan, mungkin aku akan dengan cepat mengambil kesempatan itu. Tapi kalau melihat situasi sekarang, lebih baik aku tidak dekat-dekat dengan Aaron yang pandangan matanya yang indah tapi sangat tajam itu, selalu saja membuat bulu kudukku berdiri. Karena mata emasnya itu seringkali terlihat begitu tajam dan mengintimidasi, seolah dia bisa meremukkan badanku sampai ke tulang-tulangku hanya dengan tangan kosongnya." Revina berkata sambil bergidik ngeri, jika dia mengingat bagaimana cara Aaron menatapnya dengan tatapan dingin dan tidak bersahabat sama sekali.


"Kan sudah mama bilang, selama memungkinkan, kita harus menangkap buruan kita, tapi kalau tidak, yaaa.... cari saja buruan lain. Cari orang lain yang lebih kaya dan berpengaruh daripada Aaron Malverich." Dengan nada suara menggurui, Mona berkata kepada Revina.


"Huh!" Revina langsung mendengus keras dengan wajahnya yang terlihat kesal.


"Bicara memang gampang Ma. Memang di negara ini, mana ada laki-laki yang lebih kaya dan berpengaruh daripada keluarga Malverich? Bahkan dia bukan saja berpengaruh di negara ini, tapi pengaruhnya sampai di negara Eropa dan Amerika sana." Revina bertanya kepada Mona dengan wajah terlihat kesal.


"Tentu saja ada. Mungkin keluarga Malverich yang lain. Di dunia ini, laki-laki tampan keluarga Malverich bukan hanya Aaron, meskipun dia adalah yang paling diinginkan banyak wanita, karena dia pemilik kekayaan dan pengaruh paling besar di antara keluarga Malverich lainnya. Tapi jangan lupakan keberadaan para sepupu dan saudaranya yang lain, yang tidak kalah kaya dan berpengaruhnya." Revina langsung termenung mendengar perkataan dari Mona, yang jika dipikirkannya dengan baik, memang ada benarnya.


Harusnya dia tidak lagi berfokus pada Aaron jika memang hati laki-laki itu sulit untuk diraihnya, tapi Revina tidak serta merta menyatakan setuju, karena sebenarnya, bukan hanya karena sosok Aaron yang mengagumkan yang membuatnya ingin menarik perhatian Aaron, tapi ada alasan lain yang cukup kuat.