Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
MEMINTA BANTUAN CHIARA



"Ah, sekarang di Indonesia juga sudah banyak buah beginian yang dijual, hanya saja, orang mungkin belum tahu sehingga dipikirnya buah ini hanya bisa didapatkan di luar negeri.." Mona berkata sambil mengambil mangkok kristal itu dan mulai menikmati es buah itu, berbuat seolah-olah yang dikatakan oleh Chiara tidak ada istimewanya.


"Iya sih Tante, sekai inchi apples dan stoberi sembikiya queen juga sudah mulai ada di sini. Bahkan kadang harganya di penjualan online terlihat jauh lebih murah. Hanya om Aaron sengaja ingin membawakan itu langsung dari petaninya di engara asalnya, agar kualitasnya terjamin, juga keasliannya. Dan bu Ida, suka sekali mencampurkan kedua buah itu dalam es buah buatannya. Katanya rasa es buahnya jadi jauh lebih nikmat dan menyegarkan, juga istimewa." Perkataan Chiara hampir saja membuat Mona dan Revina tersedak, karena mereka yang bergerak di bisnis mall, apalagi yang memiliki supermarket di dalamnya pasti tahu tentang dua buah mahal yang tadi disebutkan oleh Chiara.


(Sekai Ichi Apples merupakan salah satu jenis apel termahal di dunia. Ada apel Sekai Ichi, yang dijual dengan harga Rp 307 ribu per 907 gramnya. Buah eksotis dari Jepang ini berbeda dari apel yang lainnya.


Karena setiap apel diserbuki dengan tangan dan dicuci dengan madu dan memiliki cap tangan. Apel Sekai Ichi termasuk salah satu apel dengan kualitas terbaik di dunia dan menjadi salah satu apel terlezat karena rasa manisnya yang legit.


Sedangkan satu pak berisi 12 stroberi Sembikiya Queen dihargai Rp 1,2 juta. Yang membedakan buah stroberi ini dengan stroberi lainnya adalah warna, rasa, tekstur, dan bentuk. Tiap buah stroberi dipilih secara hati-hati dan tiap buah memiliki bentuk, tekstur, dan rasa yang sama. Faktanya, buah ini termasuk salah satu stroberi terenak di dunia).


Dan mereka yakin kalau diteruskan mereka, membiarkan Chiara meneruskan bicaranya, hati mereka akan semakin bertambah panas, karena Chiara menceritakan tentang hal-hal mahal dan mewah di sekitarnya.


"Melihat bagaimana Aaron begitu berusaha menyenangkanmu dalam segala hal, sepertinya kamu dan Aaron benar-benar pasangan yang sedang dimabuk cinta. Jadi kapan kalian berencana memiliki anak kalian sendiri?" Akhirnya Mona dengan cepat kembali membicarakan tentang anak untuk menghentikan Chiara untuk terus mennunjukkan dan menceritakan tentang hal-hal mahal dan mewah di sekitarnya yang membuatnya sakit hati.


"O iya, untuk masalah anak, Om Aaron dan aku masih ingin berkonsentrasi terhadap pekerjaan. Tante tahu, sejak 5 tahun lalu bisnis perhotelan peninggalan papa diurus oleh orang lain. Setelah aku kuliah, aku ingin terjun langsung di sana, membantu mengembangkannya." Kata-kata Chiara yang sudah siap menjawab pertanyaan itu kembali, cukup membuat Mona kaget.


Karena kata-kata Chiara membuat Mona tahu bagaimana nasib rencananya yang pasti akan berantakan.


Dengan terjunnya Chiara ke bisnis perhotelan peninggalan orangtuanya, dengan Aaron sebagai orang kuat yang berdiri di belakang Chiara, Mona bisa memastikan bahwa dia tidak akan lagi memiliki kesempatan untuk bisa merebut perusahaan itu.


Jangankan merebut usaha perhotelan itu, dengan terjunnya CHiara dan ikut campur tangan Aaron, Mona tahu dia tidak akan bisa terlibat masuk ke dalam bisnis itu.


"Apalagi, aku masih terlalu muda untuk punya anak Tante. Om Aaron juga setuju dan mendukungku sepenuhnya, kalau untuk sementara kami menunda untuk punya anak, agar aku bisa fokus pada kuliah dan karir." Chiara melanjutkan bicaranya sambil menahan dirinya untuk tidak tersenyum geli, melihat bagaimana sikap Mona yang sudah seperti cacing kepanasan begitu mendengar kata-kata Chiara.


Sikap Mona menunjukkan kalau dia merasa tidak tenang karena Chiara sudah mulai menegaskan posisi kuatnya sebagai pemilik resmi usaha perhotelan milik papanya, dan juga ada sosok Aaron yang tidak mungkin dilawannya.


Hah! Hari ini akhirnya datang juga. Senang sekali bisa melihat wajah susah dan bingung dari tante Mona yang merasa putus asa karena tidak bisa lagi mengganggu bisnis papa. Maaf ya om Aaron, aku sudah memakai nama om Aaron untuk menggertak tante Mona, supaya dia tidak selalu merasa di atas angin dan terus mendesak dan menginjak-nginjak aku. Kalau pak Zac ada di sini, dia pasti akan ikut tertawa senang melihat wajah kusut tante Mona saat ini.


Chiara berkata dalam hati sambil menatap ke arah Mona dan Revina sambil tersenyum manis, seolah tidak terjadi apa-apa, dan dia tidak mengucapkan apa-apa, padahal saat ini Chiara merasa begitu puas melihat kegalauan wajah Mona.


Tindakan tenang Chiara, justru membuat Mona merasa tidak tenang, karena itu menunjukkan bahwa sekarang Chiara sudah mulai tidak terpengaruh dengan kata-kata mereka.


"Sudah Ma.... Chiara juga masih baru berusia 17 tahun belum lama ini. Mana mungkin memikirkan tentang anak...." Revina akhirnya berusaha untuk membuat suasana kembali santai.


"Mereka baik sekali padaku. Bahkan untuk urusan wali murid, mama Sarah selalu menjadi wali murid untukku, seperti mamaku sendiri." Chiara berkata dengan pandangan mata berbinar-binar bahagia, begitu menceritakan kondisinya yang sekarang seperti bukan anak yatim piatu lagi seperti dulu.


"O, begitu ya? Kalau Grayson bagaimana?" Revina langung melanjutkan pertanyaannya.


"Grayson?" Chiara bertanya balik, menyebutkan nama Grayson sambil sedikit terkikik geli.


"Dia juga baik padaku. Bahkan dia sering menemaniku belanja bersama mama Sarah. Kadang dia juga berkunjung ke sini mengantar mama Sarah. Aku juga sering mengobrol santai dengannya. Dia orangnya cukup jahil." Chiara berkata sambil tersenyum, teringat beberapa mome dimana dia dan Grayson memang tampak akrab.


Chiara juga mengingat beberapa momen dimana entah dia yang menjahili Grayson, atau Grayson yang menjahilinya, tapi sejak menikah dengan Aaron, Chiara memang seolah-olah menemukan kembali keluarga yang utuh.


Meskipun Johnson merupakan orang yang dingin, tapi di cukup perduli dengan Chiara, dan bahkan seringkali dia menanyakan kepada Sarah kenapa Chiara tidak berkunjung ke rumah jika lama Chiara tidak datang ke sana.


Walaupun sebenarnya, boleh dibilang, Johnson sendiri sangat jarang berbincang dengan Chiara, hanya seperlunya saja.


Tapi mau tidak mau, sejak kehadiran Chiara yang membuat suasana rumah bertambah ceria, membuat Johnson jadi merasa nyaman jika Chiara berada di rumah itu, dan seringkali jadi merindukan kehadirannya di rumah itu.


Apalagi sosok Chiara sebagai istri Aaron, selalu mengingatkan Johnson pada Aaron, dan menjadikannya sedikit lebih dekat dengan Aaron karena adanya Chiara di tengah-tengah mereka yang selalu berhasil mencairkan suasana dingin diantara mereka berdua, yang sudah terbentuk sejak dulu.


"Kalau begitu, bisakah kali ini kamu membantu kami?" Chiara langsung mengernyitkan dahinya mendengar permintaan dari Revina, karena rasanya baru kali ini Revina meminta bantuan padanya.


"Bantuan apa ya? Kamu tahu sendiri, aku belum terjun ke bisnis papa, aku masih serius dengan sekolahku." Chiara yang menebak kalau itu berhubungan dengan usaha perhotelan milik papanya langsung menjawab perkataan Revina.


"Maksudku bukan bantuan seperti itu. Kami hanya ingin kamu menjadi penghubung antara kami dan Grayson." Revina buru-buru menjelaskan keinginannya.


"Seperti kamu tahu, keluarga kami memiliki usaha mall. Dan kami dengar Grayson sedang mencari mall untuk diajak kerjasama dengannya untuk mengembangkan bisnis kulinernya?" Pertanyaan dari Revina membuat Chiara tersenyum.


"Benar... aku dengar dari Grayson beberapa waktu lalu memang dia bercerita padaku sedang merencanakan hal seperti itu. Eh, kenapa kalian tidak menawarkan kerjasama dengannya? Siapa tahu kalian berjodoh dalam bisnis?" Dengan sikap ceria seperti biasanya, Chiara berkata sambil memandang Mona dan Revina secara bergantian dengan tatapan polosnya.


"Itu maksud kami mengatakan kami ingin meminta bantuan padamu." Revina langsung menjawab pertanyaan Chiara, karena dia juga sebenarnya ingin segera mengakhiri pembicaraannya dengan Chiara.


Berada di apartemen indah dan mewah milik Aaron bersama Chiara yang sebenarnya terasa sejuk di dalamnya, justru membuat Revina merasakan angin panas di sekitar tubuhnya, dan membuatnya merasa tidak nyaman, menyadari bahwa mungkin seumur hidupnya, dia tidak bisa mendapatkan apartemen dengan kemewahannya yang sekarang sedang dia lihat di depan matanya itu.