
“Entah surat dari siapa, tapi sepertinya kakak saya lupa atau mungkin tidak sempat untuk memberikannya pada Aldrich sewaktu dia masih hidup. Ketika tadi sore saya menemukannya, saya ingin segera menginfokan pada Pak Aaron, tapi maaf… saya lupa mengatakannya karena ada sesuatu yang membuat pikiran saya teralihkan tadi di rumah.” Zachary berkata sambil menarik nafas lega karena mengingat tentang janjinya pada Anna untuk bisa pulang dengan selamat, demi Anna, Lila dan juga calon bayi mereka dalam kandungan Anna dapat dia penuhi.
Karena saat ini, tim Aaron sudah berhasil membekuk dan melumpuhkan semua anggota tim Aldrich, termasuk Aldrich sendiri.
“Surat itu untuk Aldrich. Entah dari siapa, dan entah apa isinya, kita tidak berhak untuk membacanya. Serahkan padaku, biar aku yang memberikannya pada Aldrich. Aaron berkata sambil mengulurkan tangannya yang tidak memegang tangan Chiara ke arah Zachary.
Mendengar perkataan Aaron, Zachary segera menyodorkan surat itu pada Aaron, yang langsung mendekat kembali ke arah tempat Aldrich dikurung, tentunya tanpa mengajak Chiara, yang sengaja dibiarkan Aaron berada di dekat Zachary untuk sementara waktu.
Namun Chiara ternyata mengikuti langkah Aaron, membuat laki-laki tampan itu langsung menghentikan langkahnya, dan langsung menoleh kea rah Chiara.
“Sebaiknya kamu tetap berada bersama Zachary.” Aaron berkata dengan tatapan matanya yang lembut menatap ke arah Chiara yang langsung tersenyum.
“Bukannya Om Aaron dan yang lain sudah membuat Aldrich tidak bisa mengeluarkan kekuatannya? Jadi pasti tidak ada masalah kalau aku ikut kesana. Lagipula, kan ada Om Aaron yang akan selalu menjagaku.” Mendengar kata-kata Chiara, rasanya Aaron ingin sekali menjewer telinga dan menjitak kening istri kecilnya itu.
Bukan cuma kamu, tapi di perutmu ada calon bayi kita yang harus kita jaga dengan baik.
Aaron berkata dalam hati dengan sedikit menggelng-gelengkan kepalanya karena sifat keras kepala Chiara, dan tekadnya yang bulat kadang membuatnya kesulitan.
Meskipun akhirnya Aaron tersenyum karena mengingat bagaimana keras kepalanya Chiara untuk bisa meluluhkan hatinya yang akhirnya menyerah, dan membiarkan semua berjalan dengan mengalir, tanpa lagi berpikir untuk menceraikan Chiara di masa depan, akibat ketakutan Aaron.
“Kenapa kamu bersikeras ingin ikut menemui Aldrich?” Akhirnya sebuah pertanyaan keluar dari bibir Aaron.
“Entahlah Om, tapi aku merasa sebenarnya Aldrich hanyalah seseorang yang kekurangan kasih sayang dan juga jahat karena terlalu banyak luka bathin yang dia alami. Aku harus berterimakasih padanya, karena ketika salah satu anak buahnya berusaha menggoda dan bersikap tidak sopan padaku, dia benar-benar menjaga dan melindungiku, meski baginya mungkin aku hanya sekedar seorang sandera. Aku rasa, dia tetap manusia yang memiliki hati nurani dan perasaan.” Chiara berkata panjang lebar, membuat Aaron sadar, tidak akan bisa mencegah Chiara untuk tidak ikut menemui Aldrich dan ikut melihat saat dia menyerahkan surat itu.
Akhirnya, tanpa berkata apa-apa lagi, Aaron melanjutkan langkahnya untuk mendekati Aldrich, dan membiarkan Chiara berjalan tepat di belakangnya.
Aldrich yang melihat kedatangan Aaron kembali yang mendekat ke arahnya, tampak kedua tangannya memegang erat jeruji yang mengurungnya sambil melotot dan menggeram, untuk menunjukkan kemarahannya.
“Apalagi maumu mask men?” Dengan keras Aldrich berteriak begitu Aaron berdiri tepat di hadapannya.
Aaron sendiri terlihat tetap tenang meskipun teriakan Aldrich cukup membuat yang lain menoleh karena kaget, sedang Chiara yang berada tepat di belakang Aaron hanya berani sedikit menggerakkan kepalanya ke samping lengan Aaron untuk sekedar mengintip.
“Seseorang yang dulu pernah menyelamatkanmu, sepertinya tidak sempat memberikan ini padamu. Dan adiknya yang menyimpan barang-barang peninggalannya, tanpa sengaja menemukan ini di barang-barang itu.” Aaron berkata dengan sikap tetap tenang, dan menyodorkan amplop berwarna pastel itu kepada Aldrich yang tampak kaget, karena tidak menyangka Aaron tahu tentang peneliti yang menyelamatkannya.
Tanpa mengucapkan terimakasihnya, Aldrich langsung merebut amplop itu dari tangan Aaron, dan dengan sikap terburu-buru, Aldrich mengambil kertas yang ada di dalamnya.
Begitu Aldrich membaca bagian atas surat yang menuliskan: Untuk kekasihku tercinta, mata Aldrich langsung terlihat memerah dan berkaca-kaca.
Aletta… Alettaku tercinta….
Aldrich menyebutkan nama Aletta dalam hati dengan perasaan haru, seolah-olah Aletta sendiri yang sedang berdiri tepat di depannya, bukan hanya sebuah surat yang warnanya mulai telihat pudar, menunjukkan usianya sudah cukup usang.
Aldrichku tercinta….
Saat kamu membaca surat ini, mungkin aku sudah tidak adalagi di dunia ini, dan tidak bisa lagi menemanimu seperti dulu lagi. Semoga saat itu, kamu bisa selamat dari tempat terkutuk itu, dan dalam kondisi baik-baik saja meski sudah tidak ada aku lagi di sampingmu.
Jangan pernah menyalahkan siapapun untuk keputusan yang sudah aku buat saat itu, aku melakukannya karena memang itu tujuan akhirku, begitu mereka berhasil menangkapku.
Aku memang egois, aku lebih memilih mati daripada menjadi bahan percobaan para manusia serakah dan tidak berperikemanusiaan tersebut. Akan tetapai aku tidak mau kamu bersedih, karena aku mengambil keputusan itu, agar kamu tidak semakin berduka dan marah jika mereka memperlakukanku dengan buruk, seperti yang sudah kamu alami sebelum aku.
Sebenarnya, hari itu, salah seorang peneliti yang baik hati, dan padanya aku menitipkan surat ini. Sehari sebelum aku menuliskan surat ini padamu, dia sebenarnya sudah berusaha untuk membantuku kabur, tapi sayangnya, usahanya gagal, karena kamu tahu, kakiku yang besar sebelah, menjadi penghalang bagi tubuhku untuk bisa bergerak dengan cepat, meskipun peneliti itu sudah memberikan peta jalur tempat penelitian yang aman untuk aku lewati karena minimnya penjagaan di titik-titik itu.
Aku belum berhasil menjalani setengah dari jalan itu, tapi sudah tertangkap kembali oleh mereka, sehingga mereka berencana mempercepat penelitian terhadap tubuhku. Dan kamu tahu, aku paling tidak bisa terima jika orang lain dengan sembarangan menyentuh tubuhku, apalagi menjadikannya sebagai bahan percobaan.
Tolong mengerti alasan kenapa aku lebih memilih mati daripada dipermalukan seperti itu oleh orang lain.
Semoga surat ini tidak datang terlambat padamu, karena jujur saja, aku begitu takut membayangkan bagaimana sedih dan marahnya kamu ketika aku harus pergi dengan cara seperti itu.
Aku takut, kamu akan kembali dalam kehidupanmu yang lama, yang begitu gelap dan kesepian. Aku takut, kamu akan membenci orang-orang di sekitarmu, dan membalas dendam karena itu.
Sejujurnya, mereka orang-orang yang tidak mudah kita lawan, apalagi dengan kekerasan. Kita harus memakai otak kita untuk mengalahkan mereka, agar orang lain yang tidak bersalah tidak menjadi korban.
Setiap orang harus mendapatkan hukumannya sesuai dengan perbuatannya, tapi tidak dengan orang yang tidak bersalah.