
"Nona Revina... apa Nona jadi makan malam? Kalau iya, silahkan turun, karena saya juga akan segera pergi untuk menyusul pak Aaron dan nona Chiara." Zachary yang sudah berada di samping mobil dan membukakan pintu mobil untuk Revina terdengar bertanya pada Revina karena dilihatnya sedari tadi Revina terlihat melamun, sambil matanya menatap lurus ke arah Aaron dan Chiara yang sudah lebih dahulu berjalan meninggalkan mobil.
"Eh." Dengan sedikit kagert, Revina menoleh ke arah Zachary, lalu melirik ke samping dimana Chiara terlihat sudah berjalan berdampingan dengan Aaron, menuju pintu masuk restauran.
Chiara terlihat beberapa kali menoleh dan mendongakkan kepalanya ke arah Aaron, dengan bibirnya bergerak-gerak mengajak bicara Aaron, dengan senyum ceria di wajahnya.
Aaron sendiri terlihat beberapa kali menganggukkan kepalanya atau menggelengkan kepalanya dengan mata menatap ke arah sosok Chiara, menunjukkan kalau Aaron benar-benar menanggapi apapun yang sedang dikatakan oleh Chiara.
Melihat kedua orang yang sudah berjalan mendahuluinya itu, Revina harus mengakui bahwa saat ini, mereka berdua tampak seperti sepasang kekasih dengan usia yang tidak jauh berbeda, karena perubahan penampilan Aaron yang selain membuatnya terlihat lebih santai, tapi juga terlihat jauh lebih muda.
Pemandangan itu membuat Revina tanpa sadar sedikit mendengus kesal, membuat Zachary yang pada dasarnya tidak terlalu menyukai Revina tapi harus tetap menjaga sopan santunnya, terlihat menahan nafasnya sambil berusaha untuk tetap tersenyum, meskipun dia sebenarnya ingin segera menutup pintu mobil.
"Nona Revina... apa Nona mau menunggu di dalam mobil? Karena saya juga harus segera menyusul mereka dan membantu pak Aaron untuk memesan makan malam mereka." Zachary kembali berkata, kali ini dengan nada suara tidak seramah sebelumnya, karena dilihatnya Aaron dan Chiara sudah memasuki restauran pizza itu.
"Aku ikut kesana." Karena sudah kepalang tanggung berada di tempat ini, mau tidak mau Revina akhirnya turun dari mobil, dan berjalan sambil sedikit menjinjing gaunnya, agar tidak terkena bagian bawah halaman parkir restauran yang berupa paving block, yang meskipun kering, tapi yang pasti tidak lepas dari pasir dan kotoran kering lainnya, yang bisa mengotori gaun indah yang dikenakan Revina sekarang.
(Bata beton (paving block) adalah suatu komposisi bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen portland atau bahan perekat hidrolis sejenisnya, air dan agregat dengan atau tanpa bahan tambahan lainnya yang tidak mengurangi mutu bata beton itu. Paving block adalah bahan bangunan yang dibuat dari campuran semen, pasir dan air, sehingga karakteristiknya hampir mendekati dengan karakteristik mortar.
Mortar adalah bahan bangunan yang dibuat dari pencampuran antara pasir dan agregat halus lainnya dengan bahan pengikat dan air yang didalam keadaan keras mempunyai sifat-sifat seperti batuan. Paving block yang dipasang pada halaman rumah berguna untuk mencegah genangan air karena sifatnya yang menyerap air hingga 60%. Maka bila musim hujan tiba, Anda tidak perlu kuatir ada genangan air di halaman rumah).
Begitu Revina berjalan beberapa langkah, dia menoleh ke arah belakang, melihat gaunnya yang tidak terangkat sempurna, sehingga pasir di permukaan paving block membuat sebagian dari ujung gaunnya terlihat kotor.
Melihat itu, dengan jengkel Revina berjalan kembali dengan menjinjing gaunnya lebih tinggi, sambil menghentak-hentakkan kakinya di paving block untuk meluapkan kekesalannya.
Tapi sayangnya, Revina tidak mempertimbangkan bahwa paving block dengan bentuk segienam dan terdapat lubang di bagian tengahnya yang ditanami rumput jepang untuk membuatnya terlihat indah, tidak sadar bahwa tindakannya itu sungguh berbahaya untuk dirinya sendiri, karena dia sedang mengenakan sepatu higg heels yang cukup tinggi, dengan ujung hak sepatu yang cukup runcing.
(Rumput Jepang adalah salah satu jenis tanaman hias yang biasa ditanam di taman. Nama latin dari Rumput Jepang adalah Zoysia Japonica. Di Negara-negara berbahasa inggris rumput ini dikenal juga dengan istilah Korean Lawn Grass).
Apalagi, tanpa disadari oleh siapapun, apalagi Revina yang sedang sibuk dengan pakaiannya....
Sambil berjalan, Aaron sedikit menghentakkan salah satu kakinya, dan mengeluarkan sedikit kekuatannya agar terjadi pergerakan pada paving block yang ada di bawahnya.
Posisi deretan paving block yang digeser oleh Aaron itu, lurus dengan paving block yang menjadi alur jalannya Revina.
Hentakan kaki Revina sampai gerakan kedua aman-aman saja, tapi begitu pada gerakan ketiga, bagian heels sepatu Revina masuk ke dalam lubang yang ada di tengah-tengah paving block, dan menyangkut di sana, membuat Revina melotot dengan kaget.
"Hekh!" Dengan sekuat tenaga Revina berusaha menarik kakinya dengan sekuat tenaga tapi tidak berhasil.
"Eh...." Chiara yang mendengar ada suara teriakan kecil yang dikenalinya sebagai suara Revina bermaksud menoleh ke belakang, tapi tiba-tiba saja Aaron memegang pergelangan tangan Chiara, sengaja melakukannya agar Chiara tidak jadi menoleh.
"Topping pizza apa yang paling kamu sukai Chiara?" Aaron langsung bertanya kepada Chiara untuk mencegah Chiara menoleh ke belakang, melihat ke arah sumber suara yang terdengar di telinganya barusan.
"Hampir semua topping pizza aku suka Om. Tapi yang membuat aku paling suka dai pizza di tempat ini adalah pinggiran kejunya yang benar-benar terasa nikmat, apalagi saat dimakan hangat-hangat." Chiara berkata sambil tertawa kecil, karena membayangkan sebentar lagi akan makan pizza kesukaannya, bersama dengan orang yang disukainya.
Sungguh momen indah yang selama ini belum pernah dibayangkan dan dipikirkan oleh Chiara yang belum pernah jatuh cinta pada seorang laki-laki.
"Ayo Chiara, kita masuk saja lebih dahulu. Aku sudah lapar." Ajakan Aaron membuat pikiran Chiara langsung teralihkan, apalagi pegangan tangan Aaron membuat jantungnya langsung berdetak keras dan otot-otot di tubuhnya serasa melemah, dengan pikirannya yang tiba-tiba menjadi kosong.
Meski Aaron hanya sebentar memegang tangannya, lalu melepaskannya kembali begitu mereka mulai memasuki pintu masuk ke restauran pizza itu, hal itu sudah membuat tubuh Chiara yang tidak pernah bersentuhan seperti itu, apalagi dengan laki-laki yang disukainya, merasa panas dingin tidak menentu.
Untuk Revina, akibat sepatunya yang tersangkut, membuat Zachary mau tidak mau menghentikan langkah kakinya, dan menunggu Revina berjalan kembali.
Zachary yang melihat bagaimana beberapa kali Revina berusaha menarik sepatunya yang tersangkut tapi tidak berhasil, terpaksa akhirnya berjongkok.
"Nona Revina, permisi, biar aku periksa sebentar sepatu Nona." Perkataan Zachary membuat Revina menghentikan gerakan kakinya.
"Permisi Nona." Zachary berkata sambil memegang bagian bawah sepatu Revina, dan melihat kondisinya.
"Nona, sebaiknya Nona lepaskan sepatu Nona, setelah itu biar saya coba untuk menariknya keluar." Revina langsung melotot mendengar ide yang diucapkan oleh Zachary, yang menurutnya akan membuatnya semakin malu.