Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
KABAR BURUK UNTUK MONA



“Om Aaron….” Chiara menyebutkan nama Aaron dengan lembut sambil lebih mendekatkan wajahnya ke arah Aaron, lalu medekatkan bibirnya ke arah telinga Aaron, setelah sebelumnya, hembusan nafas di hidung Chiara yang hangat menyapu leher Aaron yang membuat tubuh Aaron serasa merinding, seperti tersengat aliran listrik akibat hembusan hangat nafas Chiara di lehernya.


“Boleh tidak kalau hari ini aku anggap hari resminya kita jadian?” Pertanyaan Chaira hampir saja membuat Aaron tersedak air ludahnya sendiri, untung saja, dia bisa segera mengendalikan dirinya dengan baik.


“Maksudmu?” Aaron bertanya pendek, sambil memandang ke arah Chiara yang sedang memandangnya dengan wajah terlihat malu-malu.


Aku juga ingin merasakan bagaimana rasanya berpacaran, seperti teman-temanku yang lain, meskipun aku sudah menikah. Kalau tidak, diantara semua orang yang aku kenal, seumur hidupku bisa-bisa aku menjadi satu-satunya orang yang tidak pernah merasakan bagaimana rasanya berpacaran.


Chiara berkata dalam hati, dan terdiam sejenak, merasa ragu menyampaikan keinginannya pada Aaron.


“Itu Om… biasanya kalau orang pacaran, kan ada hari jadian, ketika keduanya saling menyatakan cinta dan saling menerima perasaan cinta pasangannya, seperti yang sudah kita lalukan hari ini. Jadi mulai sekarang, hubungan kita adalah nyata, bukan sekedar pura-pura atau sekedar di atas kertas….” Chiara berbisik begitu pelan di telinga Aaron, karena takut Zachary mendengar apa yang dikatakannya, yang sebenarnya membuatnya canggung.


“Bagiku… hari ini adalah hari yang sangat bersejarah Om….” Chiara kembali berbisik pelan, membuat Aaron tersenyum, dan memandang Chiara dengan lembut.


“Ok, hari ini, aku juga akan mengganti password pintu apartemen kita, untuk menunjukkan tanggal hari ini merupakan hal yang harus selalu kita ingat dan penting untuk kita berdua.” Aaron menjawab bisikan Chiara dengan begitu pelan dan terdengar lembut, membuat senyum di bibir Chiara semakin melebar.


“Om Aaron benar-benar keren….” Chiara berkata sambil memeluk tubuh Aaron dari samping dengan erat, membuat Aaron menarik nafas panjang karena tindakan Chiara yang membuat tubuh mereka semakin menempel, apalagi bagian dada Chiara.


# # # # # # # #


“Sial!” Mona yang baru saja mendapatkan laporan dari mata-matanya, tentang hasil meeting hari ini antara pimpinan di perusahaan Cakra berasama dengan Chiara, langsung mengucapkan kata-kata makian sambil melempar handphonenya di atas kasur.


Tindakan Mona tersebut membuat Revina yang sedang duduk di pinggiran tempat tidur sedikit tersentak kaget dan hampir saja handphone yang sedang dipegangnya terlempar dari tangannya dan jatuh.


“Aduh Mama! Jangan membuat keributan seperti itu. Bagaimana kalau umpatan Mama didengar oleh bayi dalam pertuku? Bukankah itu akan sangat memalukan? Dokter bilang selama masa kehamilan aku harus bisa mengendalikan emosiku dengan baik agar tidak mebawa pengaruh buruk pada bayiku. Dokter juga menyarankan untuk memperdengarkan musik-musik klasik untuk bayiku.” Revina langsung menyampaikan protesnya kepada Mona yang langsung menarik nafas dalam-dalam, dan berjalan mendekat ke arah Revina.


“Maafkan oma ya? Oma benar-benar terbawa emosi sampai lupa kalau suara keras Oma bisa membuatmu kaget di dalam sana.” Dengan gerakan pelan, Mona mengelus perut Revina yang mulai terasa sedikit keras, tapi belum terlihat buncit karena usia kehamilannya yang masih begitu muda.


“Kenapa Mama tadi marah-marah ditelepon? Mama bicara dengan siapa?” Revina yang baru datang dan langsung duduk di tepian tempat tidur langsung bertanya karena merasa penasaran, kenapa Mona terlihat begitu marah.


Melihat Mona marah-marah, bagi Revina memang bukan merupakan hal baru. Akan tetapi yang barusan Mona terlihat benar-benar marah sampai wajahnya terlihat memerah dengan nafas yang terlihat tersengal-sengal.


“Aku baru saja mendengar berita dari orang kita di perusahaan papa Chiara.” Mona berkata sambil menarik nafas panjang, berusaha agar tidak kembali emosi.


“Apa hasil meeting hari ini? Kenapa Chiara meminta waktu untuk bertemu dengan apra petinggi perusahaan papanya?” Revina yang sudah mendengar tentang rencana meeting hari ini, antara pimpinan perusahaan papa Chiara dan Chiara, langsung bertanya kepada Mona, meskipun sebenarnya dari reaksi Mona barusan, pasti bukan kabar baik yang dibawa oleh mata-mata mereka di sana.


“Semua pimpinan yang ada menyetujui kalau mulai minggu dpean Chiara mulai belajar dan terlibat langsung dengan bisnis perhotelan milik papanya, itu artinya akan semakin sulit buat mama untuk mendapatkan cara merebut bisnis itu.”


“Mereka cukup berani ya, membiarkan anak yang baru saja akan masuk kuliah untuk ikut campur dalam bisnis sebesar itu.” Revina berkata sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur di kamar mamanya dengan sikap santai.


“Tentu saja itu karena adanya Aaron. Orang kita mengatakan kalau Aaron akan menjamin setiap keputusan dan tindakan Chiara. Jika sampai ada yang dinilai menimbulkan kerugian perusahaan karena keputusan Chiara akibat kurangnya pengalaman, Aaron menjamin, dia akan menggantikan setiap kerugian itu dengan dana pribadinya, tanpa melibatkan sedikitpun pihak perusahaan papa Chiara.” Mona menjelaskan dengan wajah terlihat kesal.


“Apa mau dikata Ma. Siapa yang berani melawan Aaron Malverich, kalau tidak ingin karir atau bisnisnya dilibas habis.” Revina berkata sambil tertawa kecil, membuat Mona langsung melotot kaget melihat betapa santainya sikap Revina.


“Kamu ini apa-apaan Revina? Bisa-bisanya kamu bersikap begitu santai mendengar bagaimana Chiara membuat kesempatan kita untuk mengusai perusahaan papanya hilang begitu saja.” Protes Mona hanya ditanggapi oleh sebuah cebikan bibir oleh Revina.


“Bukannya Mama harusnya tahu, sejak menikah dengan Aaron, Mama sudah tidak lagi memiliki kesempatan untuk menindas Chiara. Mau sekarang, minggu depan, tahun depan, atau bahkan 10 tahun lagi Chiara baru terjun ke perusahaan papanya, Mama sudah tidak lagi punya harapan untuk merebutnya.” Meski kata-kata Revina benar adanya, tetap saja membuat mata Mona melotot tajam, merasa tidak terima dengan pendapat Revina yang terdengar menyepelekannya.


“Revina….” Mona berusaha untuk menyangkal apa yang baru saja diaktakan oleh Revina.


“Sudah Ma, menyerah saja. Aaron bukan orang yang bisa dilawan oleh Mama. Lagian, sebentar lagi menantu Mama adalah pengusaha batubara dan minyak bumi nomer satu di negara ini. Meski dia belum sebanding dengan para pria kelaurga Malverich, paling tidak, sesuai impian Mama, dia merupakan menantu kaya raya yang bisa dibanggakan oleh Mama.” Revina kembali menyampaikan pendapatnya, membuat Mona terdiam dan merenung.