
“Hanya saja apa Om?” Dengan polosnya Chiara bertanya kepada Aaron.
“Hanya saja, sekarang aku mau ke kamar mandi. Aku harus segera mandi dan turun untuk sarapan setelah itu pergi ke kantor untuk mulai bekerja. Mau sampai kapan kamu terus memegang lenganku? Tenang saja, kali ini aku tidak akan pergi lagi ke Amerika.” Perkataan Aaron sukses membuat wajah Chiara memerah dan dengan gerakan cepat, Chiara langsung melepaskan pegangan tangannya pada lengan Aaron yang hanya bisa tersenyum melihat sikap Chiara yang baginya justru membuat Chiara semakin cantik dan menggemaskan.
"Kamu mau terus mengikutiku sampai kamar mandi? Atau kamu memang ingin mandi bersamaku?" Dengan berani Aaron justru mengajak Chiara untuk mandi bersamanya, membuat wajah Chiara semakin memerah, dan tidak mampu membalas kata-kata Aaron yang sudah membuatnya sangat malu.
Dengan langkah bergegas, tanpa menjawab pertanyaan Aaron, akhirnya Chiara meninggalkan Aaron yang berdiri di depan walk in closetnya untuk mengambil pakaian kerjanya.
"Hah...." Aaron mend... ddesah pelan setelah Chiara pergi menjauh darinya.
Mengingat apa yang dialamaninya bersama Chiara sejak siang kemarin hingga pagi ini, Aaron tahu kalau hidupnya akan semakin berwarna dengan adanya Chiara di dekatnya, meskipun untuk itu dia harus seringkali mengalami ujian berat untuk bisa menahan hasratnya karena kecerobohan Chiara yang seringkali memancing jiwa laki-lakinya.
Kamu benar-benar seperti pelangi yang menciptakan banyak warna indah di hidupku. Meski terdengar sangat egois, tapi bagaimana bisa aku melepasmu dan membiarkanmu bersama dan menjadi milik laki-laki lain, sedangkan bagiku kamu seperti udara dimana aku bisa terus hidup karena kehadiranmu. Waktu itu aku akui aku terlalu gegabah, sampai dengan percaya dirinya mengatakan bahwa setelah 4 tahun pernikahan kita, aku akan melepasmu. Suatu hal yang tidak mungkin akan pernah bisa aku lakukan padamu, dengan alasan apapun.
Aaron berkata dalam hati sambil menyungingkan senyum di wajahnya, dengan tangannya mengambil pakaian yang akan dikenakannya untuk mulai bekerja kembali di kantornya yang ada di Indonesia.
Menyadari bahwa ini adalah hari pertama dia akan bekerja kembali di Indonesia sebagai kantor pusatnya demi Chiara, membuat Aaron meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak akan pernah menyesal dengan keputusan besarnya hari ini, entah apa yang akan dihadapinya ke depannya karena keputusan yang dia ambil ini.
# # # # # # #
Sebuah suara ketukan pintu membuat Chiara yang sedang asyik bercerita pada Grace tentang kedatangan Aaron, dan keputusan Aaron untuk tinggal di Indonesia, menghentikan bicaranya dengan Grace.
"Ya.... sebentar...." Chiara berkata sambil melompat turun dari tempat tidur.
"Eh, Grace, nanti ceritanya kita lanjutkan saat kita bertemu di kampus. Sepertinya mama Sarah sedang mengetuk pintu kamar, om Aaron masih mandi ini." Chiara berkata untuk mengakhiri pembicaraannya dengan Grace.
"Eh, tunggu.... Om Aaron sedang mandi? Apa kalian berdua tidur sekamar? Hoi.... Chiara...." Grace terus berkata sampai akhirnya dia menyadari kalau sedari awal teriakannya tidak didengar sama sekali oleh Chiara, karena Chiara sudah menutup panggilan teleponnya.
Dan yang pasti, tindakan Chiara itu membuat Grace merasa begitu penasaran, sehingga tidak sabar menunggu waktunya untuk bertemu dengan Chiara, agar bisa mendengar cerita lengkap apa yang sebenarnya sudah terjadi.
"Pagi Mama." Suara sapaan hangat dari Chiara langsung membuat Sarah yagn sudah berpakaian rapi tersenyum.
"Kok kamu masih pakai baju tidurmu? Apa kamu bangun kesiangan?" Mendengar pertanyaan Sarah, Chiara langsung meringis.
"Iya ma, sedikit kesiangan. Mungkin terlalu lelah karena seharian kemarin jalan-jalan dengan om Aaron. He he he." Chiara berkata sambil mengikuti Sarah yang masuk ke kamar Aaron.
Dan pandangan mata Sarah langsung tertuju pada tempat tidur besar yang ada di depannya saat ini, sedikit merasa lega karena dari posisi temapt tidur yang terlihat berantakan, di kedua sisinya, terlihat kalau semalam Aaron dan Chiara tidur dalam tempat tidur yang sama.
Meskipun Sarah masih merasa tidak tenang, tapi untuk saat ini, sebelum ada bukti nyata, Sarah merasa dia harus menerima kalau memang mereka tidak tidur secara terpisah, seperti yang sempat dia pikirkan semalam begitu melihat sikap canggung Chiara saat berada di pangkuan Aaron tadi malam.
Sarah berkata dalam hati sambil melirik ke arah sofa yang ada di kamar Aaron, dimana di atasnya tidak menunjukkan adanya tanda-tanda semalam ada seseorang yang tidur di sana, dengan menunjukkan adanya bantal atau selimut di atas sofa itu.
Karena tidak adanya barang-barang itu, Sarah mau tidak mau meyakinkan dirinya kalau semalam memang sofa itu tidak digunakan untuk tidur.
"Dimana Aaron? Apa dia berencana pergi ke kantornya hari ini? Atau mau beristirahat menghilangkan jetlagnya?" Sarah bertanya kepada Chiara yang masih berdiri di dekatnya.
"Om Aaron sedang mandi. Katanya dia mau ke kantor pagi ini menemui pak Zachary." Jawaban dari Chiara membuat Sarah jadi berpikir untuk menggoda Chiara.
"Mandi? Kenapa kamu tidak ikut mandi berdua dengan Aaron?" Pertanyaan tidak terduga dari Sarah, membuat wajah Chiara memerah, dengan bibir melongo.
"Lho? Kenapa? Kan biasa itu pengantin baru mandi sama-sama. Bahkan sampai sekarang saja mama dan papa masih sering mandi berdua."
"Aduh Ma, malu lah Ma.... Masak aku harus mandi berdua dengan om Aaron?" Tanpa sadar, Chiara langsung menanggapi perkataan Sarah dengan spontan.
"Kenapa harus malu. Kalian sudah menikah hampir dua tahun lho. Meskipun jarang bertemu, tapi kan pasti sudah sama-sama tahu....."
"Mama pagi-pagi sudah kesini?" Aaron yang baru saja keluar dari walk in closetnya sambil mengancingkan jasnya, langsung memotong perkataan Sarah yagn sudah mengarah ke hal yang intim, tentang hubungan antara suami istri.
Aaron bukannya tidak tahu kalau mamanya sedang berusaha memancing Chiara, sehingga dengan sengaja Aaron langsung keluar dari walk in closetnya untuk mencegah Sarah melanjutkan perkataannya, sekaligus mencegah Chiara keceplosan bicara di depan Sarah.
Dan seperti apa yang sudah diperkirakan oleh Aaron, Sarah langsung menghentikan bicaranya kepada Chiara begitu melihat kehadiran Aaron di dekat mereka.
Karena sama-sama perempuan, Sarah merasa tidak canggung berbicara blak-blakan kepada Chiara, tapi tidak mungkin jika itu dengan Aaron, apalagi mengingat sifat Aaron yang begitu introvert dan tidak banyak bicara.
"Iya Aaron, papamu mengajak makan pagi bersama. Tadi pagi-pagi sekali, asisten rumah tangga dari rumah datang untuk membantu mama memasak sarapan untuk kita semua." Mau tidak mau, akhirnya Sarah mengalihkan pembicaraannya.
"Inginnya mama meminta bantuan Chiara untuk memasak, tapi mama tunggu, ternyata menantu mama yang satu ini masih betah tinggal di kamarnya. Mungkin karena sepanjang malam ada suami yang terus memeluknya, jadi malas bangun pagi-pagi." Kata-kata Sarah membuat Aaron dengan sengaja melirik ke arah Chiara yang justru terlihat berusaha melarikan diri dengan meletakkan handphone yang sedari tadi dipegangnya ke atas tempat tidur, sedikit melemparnya dengan sembarangan.
"Chiara mandi dulu ya Ma...." Dengan gerakan secepat yang dia bisa lakukan, Chiara berkata kepada Sarah sambil berlari ke arah kamar mandi, membuat Aaron menyungingkan senyum tipis di bibirnya.
Ternyata kamu pandai juga mencari kesempatan untuk melarikan diri.
Aaron berkata dalam hati sambil mengalihkan pandangan matanya dari sosok Chiara yang sudah hilang di balik pintu kamar mandi, dan beralih memandang ke arah Sarah yang ternyata juga tersenyum melihat cara Chiara menghindar dari olok-oloknya.
"Chiara masih benar-benar masih seperti anak kecil ya, semoga kamu bisa menjadi pendamping yang membuatnya sukses dan menjadi wanita hebat di masa depan." Sarah berkata sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah Chiara.