Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
MASIH MERINDUKANNYA (1)



“Tapi ada baiknya, meskipun sibuk, kalian berdua harus menyempatkan waktu untuk saling berkomunikasi, agar hubungan kalian tidak semakin menjauh. Hubungan jarak jauh seperti kalian, sangat rentan untuk retak dan renggang. Kalian berdua harus saling menjaga diri dan perasaan pasangan masing-masing, agar tidak terjadi miskomunikasi. Apalagi pernikahan kalian belum lagi seumur jagung.” Pada akhirnya Chiara hanya bisa mengangguk tanpa berani berkomentar mendengar nasehat dari Sarah.


(Miskomunikasi adalah kesalahan memaknai informasi antara pengirim dan penerima pesan. Baik dua atau lebih individu yang terlibat, semuanya memiliki perbedaan pemahaman akan pesan yang disampaikan.


Miskomunikasi adalah kegagalan dalam proses berkomunikasi. Miskomunikasi dapat menyebabkan kesalahpahaman karena pesan atau informasi yang disampaikan tidak dapat diterima dengan baik oleh komunikan. Salah satu faktor penyebabnya adalah karena komunikasi verbal yang tidak didukung oleh komunikasi nonverbal


Seumur jagung sama artinya dengan umur tanaman jagung (yang hanya berkisar 3-4 bulan saja) maksudnya sebentar saja atau tidak lama.).


“Iya Ma.” Chiara hanya bisa menjawab nasehat Sarah dengan kata-kata singkat itu, agar tidak menimbulkan lebih banyak pertanyaan selanjutnya.


“Kalian harus baik-baik, jangan sampai bertengkar karena hal-hal sepele. Harus saling pengertian, saling percaya, karena kalian dipisahkan jarak dan waktu. Tidak mudah, tapi asal kalian saling cinta, semuanya pasti bisa diatasi.” Sarah mengakhiri nasehatnya karena Grayson sudah memarkir kendaraan yang dikemudikannya.


“Ayo Chiara, kita pergi berbelanja sekarang….”


“Iya Ma.” Chiara berkata sambil bersiap untuk turun menyusul Sarah yang sudah keluar dari mobil.


“Eh, Grayson, kamu mau ikut, atau menunggu kami sambil menikmati kopi?” Sarah yang seolah baru ingat kalau Grayson yang mengantar mereka, bukan sopir, langsung melongokkan kepalanya kembali ke dalam mobil dan bertanya kepada Grayson yang sedari tadi memilih diam.


“Lebih baik aku ikut kalian saja Ma. Pasti membosankan kalau cuma sekedar minum kopi sendirian sambil menunggu kalian berbelanja.” Grayson berkata sambil melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya, setelah mematikan mesin mobilnya.


“Baguslah, jadi ada tenaga gratis untuk membawakan belanjaan kami hari ini.” Sarah mengakhiri kata-kataya sambil tertawa kecil, melihat wajah Grayson yang sedikit kaget setelah mendengar rencana mamanya untuk menjadikannya tukang angkut gratis.


“Ayo Chiara.” Tanpa menunggu Grayson keluar dari mobilnya, Sarah langsung meraih lengan Chiara, dan mengajaknya meninggalkan Grayson, yang tidak mau ketinggalan, dengan gerakan cepat langsung mendekat ke arah mereka, dan berjalan tepat di belakang mereka.


Posisi Grayson membuat Chiara tersenyum, karena Grayson yang tampan, dengan tubuhnya yang tegap dan gagah, wajah bule, membuatnya lebih mirip sebagai bodyguard bagi Chiara dan Sarah.


Dan postur tubuh serta wajah tampan Grayson, ternyata sungguh menarik perhatian banyak orang yang berpapasan dengan mereka, sehingga membuat Chiara berkali-kali harus menahan senyum gelinya melihat Grayson yang beberapa kali harus membalas senyuman ramah dari beberapa gadis yang memandang ke arahnya dengan tatapan terpana.


Kalau itu om Aaron yang mahal senyum, pasti matanya akan menatap lurus ke depan, tanpa perduli ada orang yang sedang mengamati dan menatapnya dengan tatapan kagum. Hah… aku senang sekali tadi bisa bicara dengan om Aaron.


Chiara berkata dalam hati sambil menghela nafasnya, memikirkan pembicaraan antara dirinya dan Aaron yang sudah mengobati rasa rindunya, membuat Chiara menghela nafasnya sambil tersenyum, membuat Sarah yang kebetulan sednag menoleh ke arahnya langsung ikut tersenyum.


“Kenapa Chiara? Apa kamu masih merindukan Aaron?” Pertanyaan Sarah sukses membuat Chiara tersenyum.


“Sangat merindukannya Ma.” Tanpa malu-malu, Chiara berkata sambil mempererat pelukan tangannya di lengan Sarah yang langsung tersenyum geli mendengar jawaban spontan dan Chiara, tanpa menyadari di belakang mereka ada sedikit suara dengusan dari hidung Grayson mendengar itu.


Rasanya sepanjang sore ini, mendengar kedua perempuan di depannya terus menyebutkan nama Aaron, membuat Grayson ingin menyingkir, menjauh dari mereka.


“Lain kali kamu bsia lebih sering menghubungi Aaron, agar hubungan kalian tidak merenggang….” Sarah berkata sambil menepuk-nepuk pelan punggung tangan Chiara yang melingkar manja di lengannya.


Andaikata bisa ma, aku akan dengan senang hari melakukannya. Aku akan sering-sering mengirimkan pesan ataupun menelpon om Aaron. Sayangnya, untuk sekarang ini, aku belum bisa melakukannya karena permintaan dari om Aaron.


Chiara berkata dalam hati sambil menyunggingkan senyumnya dan menganggukkan kepalanya di depan Sarah, agar mama mertuanya itu tidak merasa khawatir tentang hubungannya dengan Aaron.


# # # # # # # #


“Hah…. Melelahkan sekali….” Chiara berkata pelan sambil membaringkan tubuhnya ke atas kasurnya, dengan kedua tangannya ditariknya ke atas, lalu menarik nafas dalam-dalam.


Meskipun merasa begitu lelah karena banyaknya hal yang dilakukan sepanjang hari ini hingga malam, termasuk menemani Sarah berbelanja, tapi mengingat bagaimana setelah 3 bulan ini tadi Chiara memiliki kesempatan mengobrol sedikit dengan Aaron, membuat sebuah senyum tersungging di wajah Chiara.


Dan kesempatan itu bisa saja tidak dia dapatkan kalau sore tadi dia tidak menemani Sarah untuk berbelanja, sehingga meskipun merasa lelah, Chaira tidak menyesal sama sekali.


“Akh… suara om Aaron merdu sekali tadi….” Chiara berkata sambil tersenyum-senyum, dan menutup wajahnya dengan bantal, sedang kedua kakinya dia gerak-gerakkan dengan cepat, menunjukkan betapa senangnya hatinya saat ini.


Chiara kembali mengingat-ingat percakapannya tadi bersama Aaron.


Sebuah percapakan sederhana, tapi membuat Chiara merasa begitu senang, karena paling tidak rasa rindunya sedikit terobati setelah berbincang dengan Aaron tadi.


Pada akhirnya, ingatan tentang percakapan Chiara dengan Aaron, sukses membuat rasa kantuk Chiara menghilang entah kemana, dan justru membuat Chiara tidak bisa tidur.


Untuk beberapa saat, Chiara sibuk membolak-balikkan tubuhnya, menggonta ganti posisi tidurnya, namun rasa kantuk tidak juga menghampirinya, justru semakin lama Chiara merasa matanya semakin lebar, dan rasa kantuk semakin menghilang.


“Aduh…. Padahal sudah hampir jam 1 pagi, tapi aku belum bisa tidur. Bagaimana dengan nasibku besok? Bisa-bisa aku besok bangun kesiangan, atau bahakn tertidur di dalam kelas. Aduh, amit-amit deh, pasti akan sangat memalukan kalau terjadi seperti itu.” Chiara berkata pelan pada dirinya sendiri.


Akhirnya dengan gerakan ragu, Chiara bangkit dari tidurnya, berjalan keluar dari kamarnya, untuk mengambil minum di dapur, berharap itu bisa menenangkan pikirannya dan kembali membuatnya mengantuk.


Setelah menenggak habis segelas air mineral, Chiara berniat kembali ke kamarnya.


Akan tetapi saat melewati pintu kamar Aaron, Chiara terdiam sejenak di depan pintu kamar itu, sampai pada akhirnya memutuskan untuk membuka kamar itu.


Chiara sedikit mengernyitkan dahinya begitu melihat lampu tidur kamar Aaron yang berada di atas sandaran tempat tidur dan atas nakas ternyata dalam posisi menyala.


“Aduh… pasti bu Ida atau Tia lupa lagi untuk mematikan lampu kamar om Aaron….” Chiara berkata pelan sambil berjalan ke arah tempat tidur Aaron, lalu duduk di atas kasur dan berniat mematikan lampu tidur itu.