
“Om, Chiara mandi dulu ya….” Chiara yang melihat Aaron menarik dua tas koper berisi pakaian “normal” mereka, langsung berkata sambil melompat turun dari tempat tidur tanpa rasa canggung, meskipun hanya mengenakan lingerie yang boleh dikata tidak bisa menutupi pakaian dalam yang dia kenakan.
Dengan polos dan santainya, Chiara langsung mendekat ke arah tas kopernya, karena pelayan yang mengantarkan koper mereka sudah pergi, dan pintu kamar sudah dikunci kembali oleh Aaron.
Melihat tindakan istrinya itu, Aaron hanya bisa menahan nafasnya, karena bagi Chiara, dia tampak bersikap santai, tapi Aaron yang melihat bagaimana sekkk…sinya Chiara dalam balutan lingerie itu, membuat tubuhnya panas dingin, dengan jakunnya yang terlihat baik turun beberapa kali meski tanpa disadari oleh Chiara.
“Sini Om, biar aku mengambil bajuku untuk mandi pagi ini, setelah itu biar nanti aku menata bajuku di walk in closet.” Chiara yang tidak memperhatikan Aaron yang terdiam di tempatnya sambil menahan nafasnya, langsung meraih tas kopernya, dan membuka koper itu untuk mengambil pakaian, dengan posisi menunduk tepat di hadapan Aaron.
Shiii…ittt. Setelah apa yang aku rasakan tadi malam, bahkan hanya melihat tubuhmu sekilas, aku sudah langsung on.
Aaron hanya bisa memaki dirinya sendiri dalam hati, karena posisi Chiara membuat kedua bukit kembarnya terlihat menggantung dengan begitu indahnya, membuat Aaron hampir tidak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak menyentuhnya.
“Ah, pakai yang ini saja….” Dengan sikap santai, Chiara menarik salah satu kaos tanpa kerah dan satu celana pendek berukuran longgar untuk dia kenakan pagi ini setelah mandi.
“Aku mandi dulu Om. Lega rasanya pakaian kita sudah kembali.” Dengan suara ceria, Chiara berkata sambil menegakkan tubuhnya, berdiri tepat di hadapan Aaron yang hanya bisa mengalihkan pandangan matanya dari sosok Chiara yang sebenarnya sangat menggodanya.
“Ehem… mandilah, setelah itu baru aku.” Akhirnya Aaron berkata lirih dan hanya berani menatap wajah Chiara, tanpa berani menatap ke arah bagian dada ke bawah.
“Oke….” Chiara menjawab dengan cepat perkataan Aaron, lalu berlari-lari kecil kea rah kamar mandi, membuat dua benda bulat di bagian belakang tubuh Chiara yang bergerak naik turun dan membuat Aaron hanya bisa memandanginya sambil menelan ludahnya.
“Huft…. Meskipun aku sudah melihat dan merasakannya semalam. Melihat Chiara seperti itu, benar-benar membuatku tersiksa dan ingin segera mengulang kembali apa yang sudah kami lakukan semalam. Semoga nanti malam kondisi Chiara sudah membaik.” Aaron berkata sambil memandang ke arah pintu kamar mandi, dimana sosok Chiara sudah menghilang di baliknya.
“Akhhh!” Suara pekikan kecil dari Chiara yang sudah berada di kamar mandi, langsung membuat Aaron yang masih berdiri di tempatnya langsung beegerak secepat kilat ke arah pintu kamar mandi, dan tanpa meminta ijin pada Chiara langsung membuka pintu kamar mandi itu dengan wajah begitu khawatir.
“Om Aaron…. Kenapa… badan Chiara jadi seperti macan tutul begini?” Chiara bertanya kepada Aaron tanpa mengalihkan pandangan matanya dari kaca di depannya, sambil salah satu telunjuk tangannya menunjuk ke bagian leher, dada, bahkan sampai ke perutnya yang menunjukkan bercak-bercak bewarna merah akibat kissmark yang diberikan Aaron semalam.
“Eh….” Mendengar pertanyaan Chiara dengan wajah polosnya membuat Aaron hanya bisa bergumam pelan sambil memegang tengkuknya.
“Siapa yang membuat semua tanda ini Om? Masa sih Om Aaron? Padahal semalam Om Aaron hanya menciumiku, bukan menggigitku. Terus bagaimana dong Om ini? Bisa hilang tidak nanti? Malu kan aku kalau sampai orang meliaht kulitku yang sudah seperti macan tutul ini?” Chiara berkata sambil berjalan mendekat ke arah Aaron yang terlihat salah tingkah.
“Chiara…. Itu memang akan seperti itu jika aku mengecup kulitmu terlalu keras. Jangan khawatir, itu akan hilang dengan sendirinya, hanya butuh waktu.” Aaron berusaha menenangkan Chiara.
“Terus, bagaimana aku bisa bertemu dengan mama Sarah dan yang lain kalau kulitku begini? Aduh, bagaimana dong Om Aaron?” Pertanyaan Chiara membuat Aaron tersenyum tipis, lalu maju dua langkah hingga tidak ada lagi jarrah diantara mereka berdua.
“Kalau begitu….” Aaron berkata sambil sedikit membungkukkan tubuhnya, mendekatkan bibirnya ke telinga Chiara.
“Beberapa hari ini, kita berdiam diri saja di kamar, sampai bekas kecupan itu menghilang….” Aaron melanjutkan bisikannya ke telinga Chiara, yang langsung membuat bulu kuduk Chiara meremang dan dadanya berdetak kencang, karena bisikan Aaron langsung mengingatkannya pada kegiatan panas mereka semalam, dan tanpa sadar membuat dia begitu menginginkannya kembali.
Aduh…. Kenapa pikiranku jadi kesana terus ya? Apa aku sudah ketagihan? Celakalah aku aku kalau begitu! Untung saja om Aaron tidak bisa membaca pikiranku, kalau tidak pasti akan sangat memalukan kalau om Aaron tahu pikiranku yang jadi mesum gara-gara perbuatannya semalam. Eh... perbuatan kami.
Chiara berteriak dalam hati dengan wajah memerah, membuat Aaron yang melirik ke arah wajah Chiara tersenyum geli melihat sikap polos sekaligus menggemaskan dari istri kecilnya itu.
“Lagipula, untuk apa sekarang kamu bingung untuk menghilangkan tanda merah itu, kalau dalam beberapa hari ini aku masih akan sibuk menambahkannya?” Kali ini bisikan Aaron benar-benar membuat dada Chaira berdesir dan wajahnya benar-benar memerah, dan juga merasakan bagian intinya terasa mulai berkedut, bereaksi atas pikirannya yang ingat dengan jelas bagaimana semalam Aaron sudah membuat tubuh dan angannya seperti melayang karena kenikmatan yang baru pertama kalinya dia rasakan.