Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
KUNJUNGAN SARAH DAN GRAYSON



"Tunggu!" Dengan suara ceria, Chiara yang sore ini baru saja mandi setelah menyelesaikan tugas-tugas sekolahnya, begitu pulang dari sekolah tadi, berteriak kecil sambil berlarian ke arah pintu apartemen.


Kebetulan setelah mandi, Chiara tadi langsung keluar dari kamarnya dan berjalan ke ruang tamu, berniat mengambil salah satu buku pelajarannya yang tadi sempat dia geletakkan di atas meja ruang tamu,  dan belum sempat diambilnya kembali.


Chiara hampir saja berniat langsung membuka pintu apartemen itu tanpa melakukan pengecekan siapa yang sudah memencet bel pintu apartemen, tapi ingatan tentang pesan Zachary untuk selalu berhati-hati, membuat Chaira menghentikan tindakannya.


Dengan gerakan cepat Chiara menyalakan sebuah layar berukuran kecil yang terletak di samping pintu, yang terhubung dengan sebuah kamera yang langsung menunjukkan dengan jelas wajah orang yang sedang berdiri di balik pintu.


"Eh... mama Sarah dan Grayson...." Chiara bergumam pelan sambil tersenyum dan segera membukakan pintu apartemen itu.


"Hal... loooo Chiara." Sarah yang melihat wajah Chiara tersembul dari balik pintu langsung menyapa Chiara dengan senyum lebarnya tersungging di wajahnya, cukup surprise ternyata Chiara sendiri yang membukakan pintu untuknya, bukan bu Ida atau Tia.


"Sore Ma. Ayo masuk!" Chiara langsung membalas sapaan Sarah dengan ramah.


Sedang Grayson, meski tidak ikut menyapa Chiara, ada sebuah senyum kecil yang tersungging di wajahnya ketika melihat Chiara yang tampil segar dan ceria sore ini, dengan pakaian santainya berupa celana kain berpotongan lebar sepanjang lutut, dan kaos oblong yang terlihat sedikit kedodoran, yang membuatnya terlihat mungil dan imut.


"Ayo Grayson...." Sarah segera melangkah masuk sambil menggandeng lengan Grayson, dimana di tangan kanan dan kirinya tampak penuh, dengan masing-masing sedang memegang dua tas kresek berukuran cukup besar.


"Bu Ida! Tia!" Dengan suara lumayan keras, Sarah segera memanggil bu Ida dan Tia untuk segera datang dan mengambil apa yang sudah dibawanya dari tangan Grayson untuk Chiara.


"Selamat sore Bu Sarah..." Bu Ida yang baru sampai di ruang tamu, diikuti oleh Tia, segera menyapa Sarah dengan sikap hormat.


"Tolong ambil barang-barang itu, keluarkan dan segera tata di tempatnya dengan baik." Sarah berkata sambil tangannya menunjuk ke arah dua tas plastik yang sedang dipegang oleh Grayson.


“Baik Bu Sarah.” Bu Ida segera menjawab perintah Sarah.


Chiara yang ada di samping Sarah, hanya mengamati apa yang sudah terjadi dengan sikap tetap diam, meski dia sebenarnya cukup penasaran dengan apa isi kedua plastik yang dibawa oleh Grayson yang sudah berpindah tangan itu.


"Kita duduk di sini saja. Ayo Chiara." Sarah berkata sambil mengambil posisi duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu apartemen itu, diikuti Grayson yang duduk tepat disampingnya, sedang Chiara lebih memilih untuk duduk tepat di depan Sarah.


"Itu tadi mama bawakan beberapa macam sayur dan beberapa jenis seafood segar, termasuk daging dan ayam untuk stok di kulkas. Ada beberapa buah dan minuman kaleng juga." Chiara langsung tersenyum mendengar penjelasan Sarah yang langsung menjawab rasa penasarannya.


"Kenapa Mama Repot-repot segala? Chiara bisa belanja sendiri. Toh apartemen ini letaknya dekat dengan supermarket X yang menjual hampir semua kebutuhan rumah tangga, termasuk bahan baku segar sayur, buah, maupun ikan segar, bahkan ikan hidup juga ada." Chiara langsung menanggapi perkataan Sarah.


"Aduh... jangan terlalu sungkan pada mama. Sudah lama mama membayangkan bagaimana senangnya mengunjungi anak perempuan mama dengan membawakan banyak bahan makanan untuknya. Dan kehadiranmu sebagai calon istri Aaron, membuat mama memiliki kesempatan seperti itu." Sarah berkata sambil tertawa kecil.


"Apalagi, ada Grayson ynag bersedia membantu mama, karena kebetulan hari ini dia punya sedikit waktu luang setelah pulang dari tempat kerjanya. Lumayan, karena mama jadi punya tenaga menganggur yang bisa mama manfaatkan." Sarah berkata sambil menepuk paha Grayson yang hanya tersenyum kecil mendengar celoteh dari mamanya.


"Kamu tahu, Grayson ini paling tidak mau kalau diajak belanja, jaimnya minta ampun. Tapi mama senang hari ini dia tidak keberatan membantu mama berbelanja untukmu, dan mau membantu mama mengantarnya ke apartemen ini. Sejak Aaron membeli apartemen ini, Grayson hanya dua kali pernah datang ke tempat ini, kemarin dan hari ini. Nanti setelah Aaron pergi ke Amerika, jangan merasa canggung untuk meminta bantuan mama ataupun Grayson untuk menemanimu berbelanja." Sarah kembali berkata dengan wajah terlihat senang, karena dia sunguh berharap, kehadiran Chiara bisa menjadi perantara yang mendamaikan hubungan buruk antara Grayson dan Aaron di masa depan.


(Jaim adalah singkatan dari kata jaga-image yang merupakan suatu perilaku untuk menyembunyikan sikap yang sebenarnya dengan mengharapkan orang lain menganggap subjek sebagai seseorang yang memiliki kepribadian yang tenang, dan berwibawa. Maksud image dalam kata tersebut merujuk pada gambaran, pembawaan, atau sikap seseorang. Jaim biasanya dilakukan ketika kita disuruh melakukan hal konyol oleh temen-temen kita, namun kita tidak menyetujuinya).


"Mulai sekarang, kamu adalah bagian dari keluarga kami. Jadi, jangan hanya menganggap Aaron sebagai anggota keluarga barumu. Jika ada sesuatu, atau kamu memerlukan bantuan, carilah kami terlebih dahulu dibandingkan dengan orang lain. Agar kami bisa menjadi orang pertama yang bisa membantumu. Bukankan itu yang dinamakan keluarga? Bisa saling mengandalkan di segala kondisi." Sarah berkata sambil menatap lembut ke arah Chiara, yang baginya seperti udara hangat dan segar yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah keluarganya yang hubungan satu dnegan yang lainnya terasa kaku selama ini.


Entah hubungan Johnson dengan anak-anaknya, dia sendiri dan Aaron, apalagi Aaron dan Grayson, Sarah tahu kalau mereka seringkali saling bersikap dingin satu dengan yang lain sejak dulu.


Jasmine merupakan anak perempuan yang selama ini juga selalu memberikan energi positif dengan aura cerianya, sayangnya gadis malang itu tidak memiliki umur panjang, sehingga kepergiannya membawa duka yang begitu dalam, dan juga dampak yang besar, membuat keluarga mereka semakin terasa dingin.


“Tapi sayangnya Chiara tidak bisa memasak Ma. Paling-paling nanti bu Ida yang akan bekerja keras dengan bahan-bahan yang Mama bawa.” Chiara berkata sambil meringis, dengan sikap malu-malu karena harus mengakui ketidakmampuannya dalam memasak.


“Aish… tidak apa. Nanti kalau kamu sudah ada waktu, mama sendiri yang akan mengajarkanmu untuk masak, termasuk makanan kesukaan Aaron, supaya dia tambah sayang sama kamu.” Kata-kata Sarah sukses membuat wajah Chiara semakin memerah, membuat Sarah bertambah senang, melihat bagaimana polosnya sosok Chiara yang selalu tampil apa adanya, termasuk tanpa ragu menunjukkan  sikap kalau dia begitu menyukai Aaron.