Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
ZACHARY DENGAN TUGAS LAINNYA



"Umum sih Om, tapi kan aku perlu bertanya juga. Kenapa Om Aaron bertambah kurus? Bukan karena sakit kan? Soalnya Om Aaron, setahun ini kan tidak pernah memberiku kabar sama sekali. Om Aaron benar-benar sibuk ya. Padahal aku benar-benar ingin mengetahui kabar Om Aaron di sana sesekali." Chiara yang sudah menyusul Aaron duduk, dengan duduk di hadapan Aaron, bertanya dengan mata yang terus menatap Aaron, tanpa mau berpaling darinya, seolah takut jika dia menoleh, tiba-tiba Aaron menghilang dari hadapannya.


"Kenapa? Apa kamu mengkhawatirkan aku?" Dengan asal Aaron bertanya sambil meraih botol air mineral berukuran sedang dari atas meja di depannya, dan langsung meneguknya hingga setengah.


"Tentu saja khawatir Om." Chiara langsung menjawab pertanyaan Aaron dengan cepat, membuat Aaron hanya bisa berdehem pelan mendengar jawaban Chiara yang diucapkannya tanpa ragu itu, dan tanpa adanya tanda bahwa Chiara hanya berpura-pura sekedar untuk menyenangkan Aaron.


Apalagi, di sana ada si cantik Angelina... Hih... membayangkan bagaimana cara berpakaian Angelina yang begitu sek...ksi, dan dia berjalan melenggak-lenggok di depan om Aaronku, membuatku benar-benar merinding. Semoga Om Aaron tidak pernah tergoda dengannya.


Chiara berkata dalam hati dan mulai memikirkan bagaimana dengan tubuhnya sendiri, yang bagi Chiara, dia tidak sesek... ksi Angelina, sambil tiba-tiba kedua tangannya mengelus-elus kedua lengannya dengan saling menyilang, seperti orang yang melakukan hal itu untuk mengusir rasa dingin di tubuhnya.


"Kamu kenapa Chiara? Kamu kedinginan? Sedang tidak enak badan?" Aaron yang melihat itu spontan langsung bertanya kepada Chiara.


"He he he. Tidak apa-apa Om. Merasa geli karena ingat tentang ulat bulu." Chiara menjawab pertanyaan Aaron sambil meringis.


Mendengar jawaban Chiara, Aaron sedikit mengernyitkan dahinya, tapi suara bel dari arah pintu apartemen langsung membuatnya menoleh, diikuti oleh Chiara.


"Eh, siapa ya yang datang?" Chiara berkata sambil berencana untuk bangkit berdiri.


"Kemana bu Ida dan Tia?" Aaron bertanya kepada Chiara, karena sejak dia datang tadi, Aaron tidak menemukan adanya pergerakan orang selain dirinya sendiri di apartemen itu, sehingga tahu kalau bu Ida maupun Tia sedang tidak ada apartemen itu.


"Bu Ida dari minggu kemarin sudah ijin untuk mengambil jatah liburnya hari ini. Kalau Tia, orangtuanya ada yang sakit dan masuk rumah sakit, makanya dia ijin pulang juga. Tapi jangan khawatir Om. Besok mama Sarah akan mengirimkan orang untuk membereskan apartemen. Hari ini aku yang akan membereskan apartemen." Chiara yagn tahu kalau Aaron sangat menyukai kebersihan dan kerapian langsung menjelaskan apa yang sudah terjadi.


"Tidak perlu, hari ini Zachary akan datang bersama beberapa orang untuk membereskan apartemen sore ini." Kening Chiara langsung berkerut mendengar perkataan Aaron yang baginya terdengar aneh, kenapa tiba-tiba Zachary datang ke apartemen dengan beberapa orang dan berniat membereskan apartemen?


Padahal apartemen milik Aaron adalah apartemen dengan penataan yang bagi Chiara sudah cukup bagus dan nyaman.


"Eh, Om Aaron, kenapa pak Zac...." Kata-kata Chiara langsung terhenti karena suara bel dari arah pintu apartemen kembali terdengar.


"Ah...." Chiara bergumam pelan dengan mata memandang ke arah pintu apartemen.


"Biar aku yang membukakan pintu." Aaron langsung mencegah Chiara yang sudah berdiri dan berencana berjalan ke arah pintu.


Akhirnya Chiara hanya berdiri di tempatnya sambil melongokkan kepalanya agar bisa melihat siapa yang datang.


"Selamat sore Pak Aaron." Dengan sikap hormat Zachary menyapa Aaron.


Chiara yang melihat kehadiran Zachary langsung berlari-lari kecil ke arah pintu apartemen.


Bagi Aaron sendiri, meski tahu kalau selama hampir dua tahun ini Zachary sering berkomunikasi dengan Chiara, dan juga mengajarkan banyak hal kepada Chiara, tapi laki-laki tampan itu sungguh tidak menyangka kalau Zachary dan Chiara akan sedekat itu, terlihat dari cara mereka saling menyapa barusan.


Dan itu membuat ada sedikit rasa cemburu, tepatnya iri di hati Aaron, karena merasa dia sendiri belum bisa seakrab dan sesantai itu dengan Chiara.


Bahkan boleh dikata, beberapa kali Aaron melihat bagaimana Chiara yang biasa tertawa lepas, bercanda dengan Zachary tanpa beban. Dan tentunya Aaron melihat itu saat mengamati Chiara dengan diam-diam.


"Eh, selamat sore Nona Chiara." Dengan sikap sopan Zachary membalas sapaan Chiara.


"Lho, kata Pak Zac tadi pagi hari ini tidak bisa mengajariku, ternyata Pak Zac kesini juga. Aku pikir tidak bisa mengajariku karena Pak Zac sedang banyak pekerjaan yang tidak bisa ditunda." Chiara berkata dengan tangannya hampir saja menepuk lengan Zachary.


Untung saja Chiara ingat tentang peringatan yang pernah dikatakan oleh Zachary waktu itu, dan juga Zachary yang dengan sigap menggerakkan tubuhnya, untuk bisa sedikit menjauh dari Chiara, akrena mata bosnya sedang mengawasinya dengan begitu tajam.


Dan jika berani macam-macam, Zachary tahu bonus dan gajinya bulan ini benar-benar akan menjadi taruhannya, selain itu pasti akan ada imbas lain yang tidak mengenakkan baginya jika dia berani bersikap terlalu akrab dengan nona besar istri bosnya itu.


Satu-satunya gadis yang bisa membuat Aaron memberikan banyak perintah tidak masuk akal pada Zachary bahkan di tengah malam sekalipun.


Termasuk hari ini, salah satunya, Zachary diberikan perintah untuk merombak total kamar milik Aaron di apartemen, agar memberikan kesan anak muda dan energik, sedang desain interior kamar Aaron sekarang terkesan maskulin, dewasa dan juga terkesan dingin.


"Eh, Pak Zac kenapa bawa banyak orang?" Chiara yang baru menyadari kalau Zachary datang dengan banyak orang berseragam dan juga membawa berbagai peralatan, langsung bertanya karena penasaran.


"Iya Nona, kami mau merombak kamar Pak Aaron hari ini." Chiara langsung menoleh ke arah Aaron dengan wajah bertanya-tanya mendengar perkataan dari Zachary, karena bagi Chiara, kamar Aaron baginya terasa begitu nyaman, tidak perlu ada yang dirombak dari kamar itu.


"Lho... kenapa Om? Bukannya kamar Om Aaron sudah bagus dan nyaman? Mau diapakan lagi?" Pertanyaan Chiara membuat Aaron langsung menoleh dan menatap wajah cantik Chiara dalam-dalam.


"Tunggu dulu Zachary. Biar aku bicara sebentar dengan Chiara." Aaron mengakhiri kata-katanya dengan meraih pergelangan tangan Chiara, mengajaknya masuk ke ruang keluarga.


"Apa kamu serius?" Chiara langsung menggerakkan bibirnya ke samping mendengar pertanyaan Aaron yang tidak dimengerti sama sekali olehnya.


"Apanya yang serius Om?" Pertanyaan balik dari Chiara membuat Aaron menelan ludahnya dengan sikap kikuk, membuat Chiara semakin heran.


"Itu... masalah kamarku.... Apa kamu serius kalau kamar itu dekorasinya tidak ada yang perlu diubah, dan sudah cukup nyaman menurutmu?" Dengan sikap ragu, seperti seorang anak SMA yang sedang mengajak bicara teman sekolah yang disukainya, dan sedang melakukan pdkt, Aaron bertanya kepada Chiara.


"Tentu saja Om. Memang sih, warna kamar Om Aaron terkesan sangat maskulin, tapi Chiara suka. Kalau Om mau merubahnya sedikit sepertinya oke-oke saja, tapi kalau dirombak total, sayang sekali Om." Chiara berkata sambil tersenyum, dengan mata memandang ke arah kamar Aaron, dan membayangkan betapa selama ini dia sering diam-diam tidur di sana saat yang empunya kamar tidak ada di sini.


Karena bagi Chiara, suasana kamar Aaron, dan baru harum parfum Aaron yang seolah-olah tertinggal di kamar itu, selalu membuat Chiara nyaman, merasa kalau Aaron sedang berada di dekatnya dan menemaninya sepanjang malam saat dia tertidur di kamar itu.