Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
KORBAN PENIPUAN



“Pak Aaron… ternyata unit apartemen ini sudah dibeli sekitar sebulan yang lalu oleh pak Iwan, hanya saja beliau baru dua hari lalu memberikan konfirmasi kepada pihak pengelola bahwa dalam minggu ini beliau akan memindahkan beberapa barang miliknya ke apartemen.” Revina yang mendengar penjelasan dari petugas itu langsung membalikkan tubuhnya, dan berjalan mendekatinya.


Sebulan yang lalu? Bukannya belum ada dua minggu lalu, aku membayar uang muka apartemen ini? Sebenarnya apa yang terjadi? Siapa yang sudah menipuku? Richard atau pihak apartemen? Tapi ini apartemen mewah dan bergengsi di bawah naungan Grup Malverich, tidak mungkin mereka melakukan kecurangan semacam itu. Menjual satu unit apartemen kepada dua orang berbeda.


Sambil berjalan mendekat, Revina berkata dalam hati dengan pikiran kalut dan bingung.


“Dari data yang tercatat memang beberapa hari lalu ada yang mengirimkan berbagai macam perabotan ke dalam unit ini, tapi hanya berselang satu hari, barang-barang itu sudah diambil kembali.” Petugas itu melanjutkan kata-katanya.


“Terus terang saya juga bingung dengan apa yang terjadi Pak Aaron, karena jelas-jelas unit apartemen ini sudah terjual, tapi ibu ini mengatakan kalau dia baru membelinya beberapa waktu yang lalu. Apa ada kesalahan data unit pembelian yang mungkin terjadi ya?” Petugas tersebut berkata sambil mengernyitkan dahinya dengan wajah terlihat begitu penasaran.


“Itu tidak mungkin. Sebelum aku membayar uang mukanya, pihak notaris yang ditunjuk oleh Richard ikut mengantarkan kami untuk melihat unit apartemen yang akan kami beli. Dan unit apartemen itu adalah apartemen tempat kita berada sekarang!” Mona berkata dengna nada cukup tinggi, membuat Chiara menahan nafasnya melihat bagaimana sejak dia meninggalkan rumahnya, ternyata sikap Mona tetap saja tidak berubah, suka memaki orang dan berteriak saat suasana hatinya tidak senang.


“Tunggu sebentar. Tante Mona... apa kalian membawa bukti kwitansi resmi dari pihak pengelola apartemen? Mungkin ada kesalahan penulisan unit yang sudah kalian beli, dan itu bukan unit yang ini.” Aaron berkata sambil memandang ke arah Mona yang langsung melirik ke arah Revina yang dengan cepat membuka resleting tas yang dibawanya, dan mencari apa yang dimaksudkan oleh Aaron.


“Ini!” Revina langsung menyodorkan selembar kwitansi yang didapatnya setelah menstransfer sejumlah besar uang sebagai DP, yang jumlahnya miliaran rupiah.


Begitu Aaron menerima lembaran kertas itu, matanya langsung menyipit dengan dahi mengernyit.


“Kamu yakin sudah melakukan transaksi yang benar dengan pihak pengelola apartemen?” Pertanyaan Aaron membuat Mona dan Revina saling berpandangan lalu memandang Aaron dengan tatapan serius.


“Apa maksudmu Aaron?” Mona langsung bertanya sambil melirik lembaran kertas yang ada di tangan Aaron.


“Ini bukan kwitansi resmi yang dikeluarkan oleh pihak pengelola apartemen ini. Ini kwitansi palsu.” Aaron berkata sambil menyodorkan kembali kertas yang dipegangnya ke arah Revina yang tampak diam terpaku.


“Aku akan coba mencari keterangan dari pak Iwan. Bagaimana bisa seseorang memegang kunci unit apartemen miliknya ini dan menunjukkan pada Revina dan tante Mona.” Aaron berkata sambil melangkah ke samping, sedikit menjauh dari mereka semua.


Setelah beberapa waktu Aaron melakukan panggilan telepon dengan Iwan dan Zachary, dengan wajah tetap tenang, Aaron kembali mendekat ke arah mereka.


Meskipun sikap Aaron tetap tenang dengan wajah telriaht datar, tapi dari pandangan matanya, Chiara bisa melihat ada sesuatu yang terjadi.


“Apa yang terjadi Om Aaron?” Chiara bertanya dengan wajah terlihat ikut khawatir.


“Seperti yang sudah aku duga sebelumnya, sepertinya ada penipu yang sudah mengambil semua uang yang menjadi uang muka pembelian apartemen kalian.” Aaron berkata sambil menatap lurus ke arah Mona.


“Apa maksudmu Aaron?” Dengan nada tidak terima Mona langsung bertanya kepada Aaron.


“Apartemen ini benar sudah dibeli oleh pak Iwan. Dan Pak Iwan memiliki anak buah yang diberi tugas untuk melakukan pengecekan secara detail setiap bagian dari apartemen ini sebelum digunakan oleh keluarga pak Iwan. Orang itu yang telah bekerja sama dengan Richard untuk menipu kalian. Dia berpura-pura sebagai seorang notaris dan berhasil mengambil uang dari kalian.” Aaron belum lagi menyelesaikan kata-katanya, tapi baik Mona maupun Revina wajahnya terlihat memucat.


“Bukan hanya itu, barang-barang berupa perabotan yang kalian beli beberapa hari lalu dan dikirimkan ke alamat ini, ternyata juga orang yang sama yang sudah mengambilnya dan mengembalikannya ke toko, dan melakukan retur ke tokonya dengan pengembalian uang pembayaran yang dipotong sebesar 25% sebagai biaya kerugian yang harus ditanggung oleh pembeli.” Kali ini, wajah Mona maupun Revina benar-benar memucat dengan sempurna mendengar apa yang dikatakan oleh Aaron.


Bukan saja uang muka dari pembelian apartemen yang bernilai miliaran rupiah yang hilang, tapi harga perabot dengan harga yang hampir senilai satu miliar juga ikut raib.


“Lalu kemana orang itu? Bajingan itu! Kita harus segera melaporkannya kepada polisi, kita harus menangkapnya dan meminta uang kita kembali!” Mona mulai berteriak dengan suara histeris.


“Sudah Tante. Aku sudah meminta Zachary untuk melaporkannya kepada polisi, tapi seperti info dari pak Iwan, dua hari ini orang itu tiba-tiba menghilang bersama dengan keluarganya. Jadi untuk saat ini, kita belum bisa menangkapnya dan menyerahkannya pada polisi.” Aaron langsung menanggapi perkataan Mona.