Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
MULAI TERKUAK



“Baik Pak Aaron. Kalau memang Bapak sudah sepakat dengan pemilik unit yang bersangkutan.” Akhirnya petugas keamanan itu berkata dengan senyum lega tersungging di wajahnya, setelah Aaron turun tangan, semuanya menjadi lebih mudah untuk mereka.


Kalau saja Aaron tidak muncul di saat yang tepat, mungkin salah satu petugas keamanan itu pada akhirnya tidak lagi bisa menahan kemarahannya menghadapi Mona yang sikapnya terlihat begitu sok, sedangkan Aaron sebagai pemilik gedung saja, tidak pernah meneriaki mereka sampai seperti itu.


Meskipun Aaron dikenal dingin, berwajah datar tanpa adanya kesan ramah dan tidak banyak bicara, tapi Aaron tidak pernah terlihat memarahi orang lain di depan umum, apalagi sampai berteriak-teriak seperti yang sudah dilakukan Mona tadi.


“Tolong segera ambil kuncinya. Aku dan istriku akan ikut mengantar mereka kesana.” Aaron memberikan perintah pada petugas keamanan itu.


“Iya Pak. Akan saya ambilkan dan bantu untuk mengantar dan membukakan pintu unit xxy itu.”


“Oke.” Aaron menanggapi singkat perkataan petugas keamanan tersebut sambil meraih pergelangan tangan Chiara dan menggandengnya untuk kembali masuk ke dalam mobil.


Revina dan Mona yang melihat itu segera mengikuti apa yang dilakukan oleh Aarron.


Begitu dengan cepat salah satu petugas keamanan itu mengambil kunci yang dimaksud, Aaron yang sudah kembali berada dalam mobilnya langsung mengikuti petugas yang mengendarai sepeda motornya menuju pintu utama bangunan gedung apartemen mewah itu.


Setelah itu, dengan sengaja Aaron memarkirkan mobilnya di halaman parkir apartemen khusus untuk kendaraan para tamu yang berkunjung, bukan ke tempat parkir pribadi yang dimilikinya, karena dia memang sengaja ingin mengantar Mona dan Revina untuk melihat unit apartemen yang dimaksudkan oleh mereka tadi, karena perasaan Aaron mengatakan ada sesuatu hal buruk sepertinya yang sedang terjadi terkait masalah apartemen itu.


Salah seorang dari petugas keamanan yang lain, yang bertugas berjaga di pintu masuk gedung apartemen, langsung bergerak cepat, dengan setengah berlari begitu melihat kehadiran Aaron di halaman parkir mobil yang ada di bagian depan bangunan itu.


“Pak Aaron, apa perlu jasa valet untuk memindahkan mobil Bapak?” Begitu Aaron keluar dari mobilnya, salah seorang petugas keamanan yang berjaga di dekat pintu masuk tadi langsung menawarkan bantuan.


“Oke. Silahkan.” Aaron berkata sambil melempar kunci mobil Ferarri miliknya ke arah laki-laki yang dengan sigap langsung menangkap kunci mobil Aaron.


“Kalau sudah selesai, tititpkan saja kuncinya di bagian front office apartemen. Besok biar pak Zachary yang mengambilnya.” Aaron berkata sambil menepuk pelan bagian belakang pinggang Chiara, mengajaknya untuk mendekati petugas keamanan lainnya yang berencana mengantar mereka melihat unit apartemen yang diributkan oleh Mona dan Revina tadi.


“Mari Pak Aaron, Nona Chiara… silahkan….” Dengan sikap hormat, petugas keamanan yang membawa kunci tadi, mempersilahkan Aaron dan Chiara untuk mengikutinya, masuk ke dalam bangunan gedung apartemen itu.


Biarkan saja karyawan rendahan itu dengan sikap sombongnya. Setelah Revina dan Richard menikah dan tinggal di apartemen ini, aku ingin lihat bagaimana tampang orang yang sudah berani meremehkan kami itu.


Mona berkata dalam hati sambil tersenyum sinis.


Tidak butuh waktu lama, mereka berlima sudah sampai di depan pintu unit apartemen yang dimaksudkan oleh Mona dan Revina.


Revina dan Mona yang waktu itu sempat melihat unit apartemen itu meski hanya sekilas langsung tersenyum, karena mereka tahu itu adalah unit yang sama yang pernah ditunjukkan oleh kuasa hukum Richard, sebelum Revina menerima bukti berupa kwitansi pembayaran uang muka yang sudah dia kirimkan ke pihak pengelola apartemen mewah tersebut.


“Buka saja pintunya.” Aaron langsung berkata begitu dilihatnya petugas yang membawa kunci tersebut terlihat ragu untuk bertindak.


Begitu mendengar perintah tegas dari Aaron, dengan gerakan yang tidak lagi ragu, akhirnya petugas keamanan itu langsung membuka kunci pintu unit apartemen di depannya itu.


“Silahkan untuk….” Belum lagi petugas keamanan itu menyelesaikan kata-katanya, dengan cepat Mona langsung menerobos masuk setelah salah satu lengannya mendorong tubuh petugas keamanan yang dirasanya sudah menghalangi jalannya untuk melihat ke dalam apartemen itu.


Tindakan Mona langsung disusul oleh Revina yang juga dengan bergegas, langsung masuk ke dalam apartemen itu.


Baik Mona maupun Revina, mata mereka berdua langsung membulat sempurna, melotot karena kaget, begitu melihat kondisi apartemen seperti yang dikatakan Aaron tadi, kosong melompong.


“Ke… kemana semua perabotan mahal milikkku?” Revina bergumam pelan sambil berjalan ke semua ruangan yang ada, dan matanya berkeliling melihat ke segala arah.


Di belakangnya terlihat Mona yang ikut berjalan mengikuti apa yang sedang dilakukan oleh Revina dengan wajah kaget, bingung, khawatir dan juga frustasi.


“Segera lakukan pengecekan, apa yang sudah terjadi pada unit ini? Kapan unit ini laku terjual pada Pak Iwan dan juga cek apakah ada mutasi barang dari luar ke dalam atau dari dalam keluar selama beberapa hari ini.” Aaron segera memberikan perintah kepada petugas keamanan yang masih berdiri di dekat pintu masuk apartemen.


Tidak sampai 5 menit setelah petugas itu melaksanakan perintah Aaron, dia segera mendekat ke arah Aaron untuk memberikan info yang tadi diminta oleh Aaron.