
Bagaimanapun sampai detik ini Mona masih merasa kesal dan juga tidak terima dengan tindakan Aaron yang tiba-tiba saja mengalihkan hak wali Chiara darinya kepada Aaron sendiri, dan mencabut haknya untuk mengatur uang bulanan Chiara.
Bagi Mona, rasanya malas sekali jika dia harus bertemu dengan Aaron yang seringkali membuatnya marah dan kecewa jika mengingat tindakan Aaron padanya, namun dia tidak memiliki kekuatan untuk melawan Aaron.
Menyadari ketidakmampuannya untuk menghadapi Aaron itu, membuat Mona semakin kesal.
"Iya, om Aaron datang kesini sejak hari ulang tahunku beberapa hari yang lalu." Dengan niat sedikit pamer kebahagiannya, Chiara berkata kepada Revina.
"Ooo, kalau begitu lain kali saja kami datang berkunjung ke apartemenmu." Revina berkata sambil melirik ke arah Mona yang tampak mengernyitkan dahinya mendengar Revina membatalkan niatnya untuk berkunjung ke apartemen Chiara.
"Lho, kenapa? Aku dan om Aaron tidak ada rencana untuk keluar rumah setelah ini." Chiara yang jujur saja merasa lebih tenang jika Aaron ada bersamanya saat mereka berdua datang berkunjung, langsung menanggapi perkataan Revina.
"Sampai kapan Aaron ada di sini?" Revina langsung bertanya balik tanpa menjawab pertanyaan Chiara.
"Besok om Aaron akan kembali ke Amerika." Chiara berkata dengan nada terdengar murung, karena dia sebenarnya tidak ingin Aaron kembali lagi ke Amerika.
Chiara sungguh berharap selamanya Aaron ada di sisinya, atau paling tidak, Chiara ingin Aaron tinggal jauh lebih lama bersamanya di sini, meskipun Chiara tidak berani mengungkapkan keinginannya itu pada Aaron, hanya berani bercerita pada Zachary yang tidak bisa berbuat banyak juga untuk hal itu.
"Tidak. Aku dan mama tidak ingin mengganggu waktu kalian. Aaron jarang sekali pulang kan? Habiskan waktu kalian saja berdua untuk hari ini. Besok saja kami berkunjung ke sana. Kalau begitu sampaikan salam kami pada Aaron. Sampai besok." Revina berkata seolah-olah dia begitu perduli dengan kebahagiaan Chiara.
Dan Revina langsung menutup teleponnya begitu mengucapkan salam perpisahannya dengan Chiara.
"Kenapa kamu membatalkan niat kita pergi ke apartemen Chiara? Apa karena Aaron? Padahal masalah Grayson sangat penting untuk kita." Mona langsung bertanya kepada Revina, meskipun sebenarnya dia juga malas bertemu dengan Aaron.
"Aih... Mama seperti tidak tahu saja bagaimana sikap Aaron yang sudah seperti beruang kutub kepada kita. Malas Ma kalau harus bertemu Aaron. Lagian kita kan mau meminta Chiara agar menghubungi Grayson. Kalau Aaron mengetahui niat kita itu, belum tentu dia setuju. Apalagi Grayson kan adik Aaron." Revina berkata sambil melepas earphone bluetoothnya dari telinganya.
"Benar juga katamu. Sebenarnya pikiranmu samalah dengan mama.... Mama juga tidak suka dengan Aaron yang sok itu. Sayangnya sampai hari ini mama belum menemukan cara untuk membuat Aaron mau menuruti permintaan mama tentang hotel milik Chiara." Mona berkata sambil menghembuskan nafasnya dengan sikap kesal.
Namun sedetik kemudian, Mona teringat tentang sesuatu yagn harus dibicarakannya dengan Revina.
"Revina, besok kalau kita mau ke tempat Chiara, tolong aturkan agar tidak terlalu malam. Karena untuk besok malam, mama sudah mengaturkan pertemuanmu dengan seorang laki-laki mapan yang bisa menjadi suamimu di masa depan." Revina langsung menoleh kaget mendengar kata-kata Mona.
"Aduh Ma... apalagi sih yang direncanakan Mama? Aku sudah dibuat Mama seperti gadis tidak laku, yang terus menerus Mama promosikan pada teman-teman Mama yang memiliki anak laki-laki yang masih lajang!" Mona berkata sambil memberengut menunjukkan ketidaksukaannya terhadap rencana Mona yang sibuk mencarikan jodoh laki-laki kaya untuknya selama beberapa lama ini, sehingga dia harus sering-sering menghadiri acara kencan buta.
"Hah, darimana Mama mengenalnya? Aku belum pernah dengar Mama punya kenalan seorang pengusaha pertambangan?" Pertanyaan Revina membuat Mona tersenyum dengan bangga.
"Teman mama yang memperkenalkannya ketika kami sedang arisan di restoran A beberapa hari lalu. Semoga saja wajahnya tampan, karena yang lebih dikenal oleh orang adalah sosok ayahnya. Dia dan mamanya jarang sekali muncul di berita." Revina menarik nafas panjang mendengar perkataan Mona.
"Bagaimana bisa Mama membuatkan aku janji dengan seorang laki-laki yang belum pernah Mama lihat sebelumnya? Bagaimana kalau dia berwajah jelek dengan memiliki sifat menakutkan?" Perkataan Revina membuat Mona menyunggingkan senyum mengejeknya.
"Mudah saja, tinggal bicara padanya kalau kamu tidak tertarik untuk melanjutkan hubungan kalian setelah pertemuan pertama kalian. Aku juga akan menjelaskan kepada mamanya sebisa mungkin agar mereka tidak tersinggung. Apalagi mau sejelek apa sih hingga kamu menolak laki-laki sekaya itu? Wajah jelek masih bisa ditoleransi daripada sebuah nasib jelek karena tidak memiliki uang." Mona berkata sambil mengetikkan sebuah pesan pada wanita yang merupakan ibu dari laki-laki yang besok akan dipertemukan dengan Revina.
Jangan lupa besok jam 7 malam anak-anak kita akan berkencan buta seperti rencana semula. Aku sungguh berharap mereka berdua bisa cocok dan segera menikah. Terimakasih untuk kesempatan putriku bisa berkenalan dengan putramu.
Mona menuliskan pesan dan langsung memasukkan handphonenya kembali ke tas jinjingnya setelah selesai sambil tersenyum, berharap acara kencan buta antara Revina dan laki-laki itu berjalan sukses.
# # # # # # #
Begitu membuka amplop coklat yang diserahkan oleh asisten pribadinya, wajah Romi tampak memerah.
Amplop coklat itu berisi tiket konser yang diberikan kepada Chiara, dan juga ada dua lembar tambahan tiket kelas VVIP di dalam amplop itu.
"Apa maksudnya ini?" Romi berkata sambil membanting amplop coklat itu di atas mejanya.
"Siapa yang mengirimkan amplop ini kesini?" Romi bertanya dengan mata merahnya karena marah, menatap ke arah asisten pribadinya yang berdiri tepat di depan meja kerja Romi.
"Seorang kurir Pak Romi." Asisten pribadi Romi menjawab pertanyaan Romi dengan cepat.
"Chiara hanya seorang gadis remaja yang tentunya tidak akan pernah bisa melakukan hal seperti ini padaku. Pasti ada seseorang dibalik tindakannya ini. Dan orang itu benar-benar ingin menghinaku dengan menunjukkan dia mampu memberikan sesuatu yang lebih untuk Chiara! Dan itu tidak mungkin tante Mona yang pelit dan serakah itu!" Romi berkata dengan nada tinggi, sambil menatap ke arah amplop coklat itu.
Sedari awal Romi bukannya tidak tahu kalau Mona sengaja ingin menikahkan Chiara dengannya karena menganggap dia laki-laki yang cukup bodoh untuk mudah dikendalikan, agar Mona bisa merebut perusahaan perhotelan peninggalan orangtua Chiara.
Padahal saat itu Romi sengaja berpura-pura menjadi laki-laki seperti yang diinginkan Mona juga berniat untuk mencari keuntungan pribadi agar dia bisa menguasai usaha perhotelan Chiara dengan menggabungkannya dengan usaha perhotelan miliknya sendiri.