
Aaron benar-benar tidak menyangka, hari ini dia akan mendapatkan banyak pujian dari seorang gadis kecil dengan sikap ceplas ceplosnya yang justru membuatnya tersenyum karena merasa geli, sekaligus merasa senang melihat bagaimana sikap polos Chiara yang memujinya dengan sikap tulus, tanpa ada tendensi apapun di balik kata-kata pujiannya itu.
"O, ternyata begitu ya pemikiran kalian tentang pemilik sekolah selama ini?" Aaron berkata pelan sambil menatap ke arah Chiara dengan mata ambernya, yang bagi Chiara terlihat sangat indah, apalagi kadang mata amber itu terlihat berwarna keemasan, membuat Chiara begitu menyukainya.
Pertanyaan Aaron membuat Chiara langsung membuka kedua matanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dan sikapnya itu justru membuat Chiara seperti anak anjing yang sedang menatap manja ke arah majikannya, terlihat sangat menggemaskan.
"Benar Om, selama ini begitu pikiran kami. Apa Om tidak lihat para murid perempuan langsung melongo begitu tahu orang seperti apa pemilik sekolah kami. Kalau ada lomba pemilik sekolah paling keren, pasti Om Aaron pemenangnya. Semua murid di SMA ku pasti setuju dengan pendapatku. Aku jamin deh!" Chiara kembali mengungkapkan pujian karena kekagumannya pada Aaron.
"Pffttt...." Kali ini Zachary tidak bisa lagi menahan tawanya mendengar perkataan polos Chiara yang menunjukkan bahwa dia memang hanyalah seorang gadis remaja yang sifatnya masih kekanak-kanakan, dan begitu polos.
"Ma... maaf Pak Aaron." Tapi dengan cepat Zachary langsung meminta maaf sebelum mata amber Aaron memandangnya dengan tatapan tajam dan dingin.
Tapi sebaliknya, akhirnya Zachary cukup dikagetkan dengan sikap Aaron yang terlihat tidak memperdulikan permintaan maaf Zachary karena sedang fokus pada sosok Chiara.
Zachary menatap dengan heran wajah Aaron yang justru terlihat biasa-biasa saja, bahkan terlihat sedang menahan senyum gelinya, dan berusaha keras mempertahankan wajah datarnya di depan Chiara yang baru saja melontarkan pujian terus menerus padanya.
"Mana ada lomba seperti itu? Lebih baik kalian memikirkan bagaimana belajar dengan baik daripada berpikir yang aneh-aneh seperti itu." Perkataan Aaron membuat Chiara tersenyum lebar.
"Tenang Om…. Kedatangan dan kata-kata Om Aaron kemarin membuat banyak siswa termotivasi untuk belajar lebih giat, dan berlatih dengan giat untuk yang memiliki bakat diluar mata pelajaran sekolah. Dan yang paling kami suka, Om sudah membuat perusahaan Romi yang selama ini selalu mengambil untung dari siswa-siswa berprestasi tidak berkutik! Aku senang sekali melihat wajah Romi yang ingin marah, tapi tidak bisa marah. Pokoknya, terimakasih untuk kedatangan Om Aaron kemarin. Bagi kami para siswa, Om Aaron adalah seorang pahlawan yang tampil keren...." Chiara dengan nada suara terdengar begitu bersemangat.
"Kalian ini ada-ada saja...." Aaron berkata dengan suara terdengar santai sambil melihat keluar jendela, tidak menyangka kalau perjalanan yang harus ditempuh kurang lebih 20 menit benar-benar tidak terasa karena pembicaraannya dengan Chiara, menjadikan perjalanan itu terasa begitu singkat dan sama sekali tidak terasa membosankan.
Padahal sejak awal, Aaron mengira bahwa ini akan menjadi perjalanan 20 menit yang terasa panjang akibat mereka akan saling berdiam diri karena merasa canggung satu dengan yang lain.
Chiara yang melihat mata Aaron beralih keluar jendela mobil, jadi ikut-ikutan melihat ke arah sana, dimana sebuah gedung mewah yang sebagian besar bagian dinding gedungnya berupa kaca dan terlihat mewah tampak di depan sana.
Di bagian depan bangunan itu, baik di lantai dasar maupun lantai atasnya, terlihat beberapa gaun pengantin yang dipajang di balik dinding kaca itu, untuk dipamerkan di sana.
Mata Chiara tidak bisa menyembunyikan rasa kagumnya melihat dari jauh bagaimana indah dan mewahnya gaun-gaun yang terpajang rapi itu.
Dan sekarang, Chiara sadar bahwa sebentar lagi dia akan menjadi gadis yang mengenakan salah satu dari gaun pengantin yang dimiliki butik itu, di hari pernikahannya dengan sosok laki-laki yang sangat tampan, yang sedang duduk tepat di sampingnya saat ini.
Memikirkan itu membuat dada Chiara kembali bergetar hebat, dengan telapak tangannya yang tiba-tiba terasa dingin, dan bibirnya yang tanpa bisa dia kontrol, tampak tersenyum-senyum sendiri dengan wajah memerah.
Aaron yang melihat sikap malu-malu Chiara lewat sudut matanya tanpa diketahui dan disadari oleh Zachary ataupun Chiara sendiri, hampir saja tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menyungingkan senyum geli di bibirnya melihat bagaimana tingkah Chiara saat ini.
"Om.... apa kita mau ke tempat itu?" Chiara langsung bertanya dengan salah satu ujung jari telunjuknya menunjuk ke arah gedung mewah di depannya.
Aaron yang sedang memandang ke arah gedung itu menjawab pertanyaan Chiara dengan sebuah anggukan pelan, lalu menoleh kembali ke arah Chiara.
Dan gerakan Aaron yang tiba-tiba menoleh ke arah Chiara itu, sungguh membuat Aaron dan Chiara sama-sama terpaku, karena saat ini wajah mereka saling berhadapan dengan jarak tidak lebih dari 5 cm.
Chiara yang tadinya ingin melihat apa yang sedang dilihat Aaron di luar jendela, memang sengaja mendekatkan tubuhnya ke arah Aaron dengan kepala miring ke arah tubuh Aaron yang sedang melihat keluar jendela, sehingga tidak sadar bahwa wajah Chiara yang mendekat ke arah tubuhnya bahkan hampir menabrak bahu Aaron.
Sehingga ketika Aaron menoleh ke samping, hidung dan bibir mereka hampir saja bertabrakan, dan nafas hangat mereka saling berhembus ke wajah satu dengan yang lainnya, membuat sensasi dari sebuah pengalaman yang sama-sama tidak pernah mereka berdua alami.
Chiara juga bisa mencium bagaimana harumnya tubuh Aaron yang selalu menggunakan parfum beraroma segar yang begitu menonjolkan sisi maskulinnya, sesuatu yang belum pernah sedekat ini dirasakan oleh Chiara terhadap seorang laki-laki manapun, yang tanpa sadar membuat pikirannya melayang seperti orang mabuk.
"Ehem...." Dengan cepat Aaron berusaha berdehem pelan dan mengumpulkan logika normalnya yang hampir saja tumpul dan membuatnya hampir saja bergerak mendekatkan wajahnya ke arah wajah Chiara, yang sebenarnya sudah sangat dekat tadi, yang jika Aaron meneruskan aksinya, hasil akhirnya sudah bisa dipastikan, kalau bibir dan hidung mereka pasti akan saling bersentuhan.
Untung saja Aaron segera berusaha menguasai pikirannya agar dia segera menjauhkan wajahnya dari wajah Chiara.
"Ah...." Chiarapun segera tersadar begitu dia mendengar deheman pelan dari Aaron dan gerakan cepat dari Aaron yang menjauhkan wajah dan tubuhnya dari Chiara.
Begitu melihat tindakan Aaron itu, Chaira juga langsung menggeser tubuhnya ke arah sisi lain dari tempat Aaron duduk, sehingga posisi duduk mereka kembali berjauhan.
Setelah itu, Chiara langsung menjauhkan wajahnya dari jangkauan tatapan Aaron sambil berusaha menarik dan menghembuskan nafasnya dengan cepat berulang-ulang tanpa diketahui oleh Aaron, dan kedua tangannya saling menggenggam erat di pangkuan kakinya, agar debaran dadanya yang menggila, segera tenang kembali.