Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
SIKAP KERAS KEPALA CHIARA



“Sepertinya, kencan butamu berjalan lancar hari ini.” Mona berkata sambil melempar senyumnya ke arah mobil Richard yang mulai melaju untuk meninggalkan halaman rumahnya.


“Aku tidak menyangka kalau selain kaya, Richard juga terlihat begitu tampan. Benar-benar beruntung kamu bisa bertemu dengannya mala mini.” Mona kembali mengucapkan kata-kata kepada Revina.


Tapi begitu tidak ada reaksi dari Revina, Mona langsung menoleh ke arah Revina, yang ternyata masih diam mematung sambil matanya melihat ke arah tangannya yang masih tergenggam dengan kunci mobil di dalam genggaman tangannya.


“Revina…. Heh! Revina…. Revina Indarto!”


“Eh… ya Ma? Kenapa? Ada apa?” Revina langsung tersentak kaget, dan dengan sikap gugup menjawab panggilan mamanya yang membuyarkan lamunannya.


“Hah! Sudahlah, kita lanjutkan pembicaraan kita besok pagi. Sekarang kamu masuk saja ke kamarmu. Beristirahatlah. Kamu pasti lelah.” Mona berkata sambil membalikkan tubuhnya, dan masuk ke dalam rumah, membiarkan Revina yang masih di tempatnya sambil menghela nafas panjang.


“Sudah malam! Cepat masuk! Jangan lupa untuk menutup dan mengunci pintunya!” Mona berteriak sambil terus berjalan ke arah kamarnya sendiri, dengan senyum puas tersungging di wajahnya.


# # # # # # # #


Dengan bersemangat, Mona berjalan memasuki kantornya yang ada di mall hari ini.


Kemarin sore, pihak perusahaan Grayson mengatakan bahwa hari ini dari pihak perusahaan ingin mengadakan janji temu dengan Mona untuk membahas proposal kerjasama yang minggu lalu sudah diterima oleh Grayson lewat Chiara.


Revina yang berjalan di belakang Mona, tampak dengan langkah ogah-ogahan mengikuti langkah-langkah Mona berjalan menuju kantornya.


“Ayo Revina, kita sudah terlambat 1 menit. Kita harus meminta maaf pada Grayson karena membiarkannya menunggu kita.” Mona langsung menarik pergelangan tangan Revina dan mengajaknya untuk lebih bergegas menuju kantornya.


“Apa tamuku sudah datang?” Begitu Mona sampai di depan pintu kantornya, dia segera bertanya kepada salah satu pegawainya yang sengaja dia suruh untuk menerima Grayson dan mengajaknya menunggu di kantornya, satu-satunya tempat terbaik yang dia punya di mall ini, yang biasanya tidak semua orang diijinkannya untuk boleh memasuki ruangan kantornya itu.


Tapi seorang Grayson Malverich, rasanya tidak ada alasan bagi Mona untuk tidak membiarkan pengusaha sukses itu untuk duduk di dalam ruangan kantornya yang nyaman itu.


“Sudah Bu Mona.”


“Ehem….” Mendengar jawaban dari pegawainya itu, Mona berdehem pelan, merapikan pakaiannya, bersiap untuk bertemu dengan Grayson.


Dengan gerakan pelan, Mona membuka pintu kantornya, dan beniat untuk langsung menyapa Grayson.


“Selamat siang Grayson, selamat datang di mall….” Mona langsung menghentikan bicaranya begitu melihat sosok laki-laki asing sedang berdiri di tengah-tengah ruangannya, sambil membawa map di tangannya.


Dan yang pasti, laki-laki itu bukan Grayson Malverich, seperti yang diharapkannya.


“Selamat siang Bu Mona, saya perwakilan dari perusahan pak Grayson yang diperintahkan untuk menemui bu Mona siang ini.” Laki-laki itu langsung menyapa dengan sikap hormat, Mona yang masih terlihat kaget sekaligus kecewa karena dalam pengertiannya kemarin, yang datang hari ini adalah Grayson sendiri.


“Selamat siang.” Dengan suara sedikit serak dan ogah-ogahan, Mona menjawab salam dari karyawan Grayson yang menyapanya barusan.


“Maaf Bu Mona, saya juga sedang diburu waktu, untuk menghadiri meeting di perusahaan sebentar lagi. Saya hanya ingin memberikan jawaban dari proposal kerjasama yang minggu lalu sudah diterima oleh pak Grayson, dan sudah dipelajari oleh beliau.” Dengan senyum ramah di wajahnya, orang dari perusahaan Grayson itu menyodorkan map yang sedari tadi dia pegang ke atas meja kerja Mona, yang matanya langsung menatap ke arah map itu.


“Silahkan Bu Mona membaca jawaban resmi dari perusahaan kami dan mempelajarinya. Kalau begitu, saya permisi dulu untuk kembali ke kantor. Selamat siang.” Tanpa memberikan kesempatan pada Mona untuk menanggapi perkataannya, ornag suruhan Grayson itu segera pamit dan melangkah pergi, meninggalkan Mona yang masih menatap ke arah map yang ada di mejanya.


Revina yang melihat itu, segera berjalan mendekat ke arah Mona.


“Bagaimana Ma? Apa kira-kira Grayson bersedia bekerja sama dengan mall kita?” Revina berkata sambil menghempaskan tubuhnya ke kursi yang ada di depan meja kerja Mona.


“Kita lihat saja isi dari jawaban resminya.” Mona berkata sambil menahan nafasnya, karena perasaannya mengatakan bahwa yang tertulisa dalam map itu bukanlah jawaban yang diharapkannya.


Tidak butuh waktu lama untuk Mona membaca surat pemberitahuan resmi dari perusahaan Grayson yang menolak pengajuan kerjasama mereka.


Meskipun disana Grayson menjelaskan beberapa alasan kuat tentang kurangnya fasilitas dan letak mall yang kurang stategis, tetap saja penolakan Grayson itu membuat Mona marah dan kecewa.


Apalagi, yang datang menemuinya adalah pegawai biasa dari Grauson, dimana dia tidak mungkin melakukan negosiasi ulang tentang penolakan itu karena bukan Grayson sendiri yang datang ke tempat ini.


# # # # # # #


Aaron menatap ke layar handphonenya sambil menarik nafas panjang, menghembuskannya, dan melakukan hal seperti itu beberapa kali tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.


Sejak Aaron kembali ke Amerika, setiap hari Chiara akan mengirimkannya pesan atau foto-fotonya.


Awalnya, Chiara mengirimkan beberapa pesan, tapi karena Aaron hanya membacanya tanpa membalasnya, pada akhirnya Chiara memilih untuk mengirimkannya foto tentang kegiatannya setiap hari, meskipun Aaron tidak memberikan responnya.


Dan Aaron tidak bisa mencegah Chiara melakukan itu, karena dari awal, Chiara sudah menuliskan pesan yang membuat Aaron tidak dapat menolak dan berbuat apa-apa tentang hal itu.


Om, selama di Amerika semoga om Aaron tidak kesepian. Setiap hari aku akan mengirimkan pesan dan foto untuk om. Aku tahu om Aaron memang super duper sibuk sekali disana…. Tapi jangan khawatir, aku tidak akan meminta om untuk membalas pesanku. Baca saja saat om senggang, sewaktu-sewaktu, sesempat om Aaron. Aku tidak akan tersinggung meskipun om tidak membalasnya, jadi jangan khawatir tentang itu. Tolong om Aaron jangan mencegahku mengirimkan pesan dan foto pada om Aaron seperti dulu. Setelah membaca dan melihat foto-fotoku, om Aaron boleh mengabaikannya, bahkan boleh menghapusnya jika om tidak suka. Aku hanya ingin om Aaron tahu aku disini baik-baik saja, dan berharap di sana om Aaron juga baik-baik saja.


Itu adalah satu pesan yang dikirimkan oleh Chiara pertama kali kepada Aaron ketika Aaron kembali ke Amerika untuk kedua kalinya, sebelum akhirnya, Chiara terus mengirimkannya pesan dan foto-foto seperti sekarang ini.


Sebuah pesan yang membuat Aaron tidak bisa mengatakan tidak dan tidak bisa mencegah Chiara mengiriminya pesan seperti dulu lagi.


“Kamu benar-benar gadis yang keras kepala Chiara Indarto.” Aaron berkata diiringi dengan sebuah helaan nafas panjang.


“My little girl, apa kamu tahu… yang kamu lakukan sekarang, sungguh berbahaya untuk hubungan kita di masa depan….? Bagaimana aku bisa melepasmu jika kamu membuat hatiku semakin terpikat padamu seperti ini. Apa yang harus aku lakukan padamu my little girl? Aku sungguh benar-benar tidak ingin melihatmu terluka.” Aaron berbisik pelan sambil ibu jari tangannya yang sedang memegang handphonenya, mengelus-elus foto yang baru dikirimkan oleh Chiara padanya.


Foto dengan gambar wajah cantik Chiara yang sedang duduk bersebelahan dengan Sarah di ruang keluarga rumah keluarga Malverich, sedang tersenyum bahagia, dengan kepalanya bersandar pada bahu Sarah, yang juga memamerkan senyum manisnya.


Sikap Chiara maupun Sarah di foto itu seperti gambaran seorang anak gadis yang sedang bermanja dengan ibu kandungnya.