Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
MEMINTA BANTUAN AARON



“Aku haus. Baru saja mengambil ini dari kulkas. Kamu mau?” Chiara buru-buru menggeleng-gelengkan kepalanya dengan cepat begitu mendengar penawaran dari Aaron yang membuatnya semakin meringis menahan keinginan untuk buang air kecil.


“Kalau begitu, aku minum sendiri.” Aaron berkata sambil meneguk minuman dari botol yang dipegangnya, menimbulkan bunyi yang menunjukkan betapa segarnya minuman yang baru saja dinikmati oleh Aaron itu, tanpa menyadari kalau Chiara harus menahan nafasnya melihat cara Aaron menikmati minuman dinginnya itu tepat di depan matanya.


Dan celakanya, membayangkan kesegaran minuman itu membuat keinginan Chiara untuk buang air kecil semakin menjadi, apalagi sekarang perutnya yang kurang teratur makan sepanjang hari ini ikut membuat masalah sekarang ini.


“Om… bisakah aku minta tolong?” Akhirnya, mau tidak mau karena kondisi yang mendesak, Chiara berencana meminta bantuan Aaron.


Aaron yang baru saja menghabiskan minuman dingin dari botol itu langsung menganggukkan kepalanya sambil mengusap bibirnya yang sedikit basah oleh minuman dingin itu dengan punggung tangannya, membuat Chiara melenguh pendek dalam hati.


Tindakan Aaron barusan, selain semakin memamerkan kesegaran minuman yang baru diteguknya, membuat sosok Aaron tampil keren maksimal bagi Chiara.


“Om… bisa minta tolong panggilkan bu Idan atau Tia?” Dengan suara terdengar ragu, Chiara berkata kepada Aaron.


Rasanya bagi Chiara masih canggung meminta sesuatu pada Aaron, tapi kondisinya saat ini memaksanya untuk meminta tolong pada Aaron.


“Oo… Bu Ida dan Tia? Mereka barusan ijin untuk membeli beberapa barang untuk keperluan rumah tangga dan bumbu dapur di swalayan….”


“Aduh…” Chiara langsung mengucapkan kata-kata yang membuat dahi Aaron lagnsung mengernyit.


“Memang kenapa kamu butuh mereka? Apa ada masalah?” Aaron bertanya sambil menatap ke arah Chiara yang hanya terlihat kepalanya saja, karena tubuhnya dia sembunyikan di balik pintu.


“Eh… anu Om, aku tidak bisa membuka gaun pengantinku, terlalu banyak kancing dan berukuran kecil di bagian punggung. Susah sekali untuk dibuka.” Chiara berkata dengan wajah sedikit memerah, apalagi melihat bagaimana Aaron yang berusaha menahan senyumnya mendengar penjelasan Chiara tentang masalahnya.


Bukan masalah besar sebenarnya, dia bisa menunggu bu Ida dan Tia kembali ek apartemen, tapi sesuatu di bawah sana yang harus segera dituntaskan di kamar mandi, dan tidak mungkin dilakukannya dengan mengenakan gaun pengantinnya membuat Chiara mulai berkeringat dingin.


“Kalau begitu, biar aku menghubungi mereka.” Aaron berkata sambil merogoh handphone di saku celananya.


Beberapa kali Aaron berusaha melakukan panggilan telepon dengan bu Ida maupun Tia, tapi tidak ada jawaban, sampai dia menggunakan kemampuan telinganya yang langsung menyadari kalau handphone mereka berdua tertinggal di kamar mereka.


“Sepertinya mereka tidak mengangkat panggilan teleponnya. Biar aku menyusul mereka….”


“Om… terlalu lama….” Dengan gerakan cepat, Chiara langsung membuka pintu kamarnya, dan menarik tangan Aaron yang langsung terbeliak, karena bagian atas gaun Chiara yang terlihat sedikit longgar, meskipun belum terbuka sempurna, karena beberapa kancing dibagian paling atas saja yang berhasil dibuka oleh Chiara tadi.


Dengan cepat, Aaron langsung mengalihkan pandangan matanya dari sosok Chiara yang langsung membuat dadanya berdetak keras, sedang Chiara, yang sadar kenapa Aaron bertingkah seperti itu langsung memegang gaun di bagian dadanya.


Aduh, aku ceroboh sekali sampai lupa kalau gaunku sudah terbuka sebagian. Betapa memalukannya aku di depan om Aaron.


“Om… tidak ada waktu lagi. Tolong aku!” Akhirnya dengan gerakan cepat, Chiara menarik pergelangan tangan Aaron untuk masuk ke kamarnya, dan langsung menutup pintu yang tepat berada di belakang tubuh Aaron yang terlihat begitu kaget dengan tindakan Chiara.


“Chi… Chiara… tung… tunggu… apa maksudnya ini?” Aaron berkata dengan nada terputus-putus.


Apa yang dilakukan Chiara saat ini sungguh membuat Aaron terkejut sekaligus salah tingkah.


Sungguh sebuah sikap yang terlihat begitu kontras dengan Aaron yang biasanya selalu tenang dan bisa mengendalikan suasana apapun dengan baik.


Tapi saat ini, dadanya yang berdetak dengan keras, membuat Aaron tidak bisa lagi bersikap tenang di depan gadis cantik yang sudah sah menjadi istrinya sejak beberapa jam yang lalu.


Jika selama ini Aaron selalu berusaha menenangkan hatinya jika berada di dekat Chiara yang selalu berhasil membuatnya terkesima dan diam-diam membuat pikirannya kemana-mana, mengharapkan sesuatu yang lebih, tapi saat ini, setelah mereka benar-benar sah sebagai suami istri, bagi Aaron sangat sulit untuk tetap bisa berpura-pura tenang dan baik-baik saja seperti yang biasa dia lakukan selama ini dengan baik.


Jika dulu sebelum menikah Aaron tahu bagamaina dia harus bisa menjaga Chiara dengan baik, dan membatasi tindakannya terhadap gadis itu….


Tapi kesadaran dalam pikirannya bahwa sekarang Chiara sudah menjadi istrinya yang sah, membuat dia semakin sulit untuk mengendalikan pikiran maupun tubuhnya untuk tidak selalu berada di dekat Chiara, ingin memeluknya, mencium, dan juga menyentuhnya.


My little girl, apa yang sedang kamu lakukan? Apa kamu tidak sadar, tindakanmu itu sangat berbahaya untuk kita berdua?


Aaron berkata dalam hati tanpa berani menatap ke arah Chiara, meskipun Chiara sudah berusaha menahan bagian gaun di dadanya dengan tangannya yang lain, tapi bayangan tentang saat tadi Chiara ketika membiarkan gaunnya tadi jelas masih terbayang di otak Aaron.


“Om Aaron….” Panggilan dari Chiara akhirnya memaksa Aaron untuk memandang ke arah Chiara, setelah sebelumnya Aaron menarik nafas panjang untuk bisa mengembalikan sikap dan wajah datarnya.


“Ma… maaf Om…. Aku tahu ini sangat tidak sopan. Tapi Om, kalau harus menunggu Om mencari bu Ida dan Tia, aku takut aku tidak bisa menahannya lagi…” Chiara berkata sambil meringis, membuat Aaron sadar ada sesuatu yang tidak beres yang sedang terjadi pada Chiara.


“Eh… kenapa denganmu Chiara?” Tanpa sadar tangan Aaron langsung bergerak ke arah kening Chiara, takut kalau saja gadis kecilnya itu sakit.


Bukannya suhu panas yang dirasakan Aaron ketika menyentuh kening Chiara, tapi keringat dingin yang terasa membasahi kening Chiara yang terasa oleh punggung telapak tangan Aaron.


“Apa yang terjadi denganmu Chiara? Apa perlu aku panggilkan dokter? Atau kita langsung ke rumah sakit? Ke IGD?” Kalau saja sedang tidak dalam situasi mendesak, rasanya Chiara ingin tersenyum bahagia melihat bagaimana khawatirnya wajah Aaron saat ini sambil menatapnya dengan mata ambernya yang indah.


Bagi Chiara, rasanya senang sekali bisa melihat bagaimana Aaron yang begitu disukainya, terlihat khawatir dan perduli padanya.


“Tidak Om Aaron! Bukan itu… Sebenarnya… aku butuh seseorang untuk segera membantuku melepas gaun pengantin ini… karena sedari tadi aku sudah menahan buang air kecil, perutku juga teras amulas… harus segera ke kamar mandi….” Penjelasan Chiara yang diucapkannya dengan wajah memerah, suara terdengar malu-malu, membuat Aaron langsung menarik nafas lega, meskipun di sisi lain, dia juga ingin tersenyum geli karena kepolosan istri kecilnya itu, saat menyampaikan keadaan mendesaknya saat ini.