Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
TERKAGUM-KAGUM PADANYA



Bagi Revina, siapa yang tidak akan terpesona sekaligus tersanjung mendapat perlakuan begitu manis seperti itu… apalagi dari seorang laki-laki tampan yang kaya raya seperti Richard.


Di awal pertemuan mereka, sosok Richard sudah menarik perhatian Revina, tampan, berpenampilan rapi dengan setelan jas mahalnya, ramah, lembut, dan sekarang, memberinya rangkaian bunga yang indah sebagai bukti bahwa dia seorang laki-laki yang bisa memanjakan wanitanya, dan tahu bagaimana harus memperlakukan wanita dan menyenangkan hatinya.


“Dengan senang hati Revina. Wanita cantik, cocok sekali disandingkan dengan bunga yang cantik. Sayangnya, melihat bagaimana cantiknya orang yang sedang memeluknya, pasti bunga-bunga itu akan merasa tidak percaya diri.” Kata-kata mesra dan lembut dari Richard, sukses membuat wajah Revina memerah.


“Apa kamu senang hari ini Revina?” Pertanyaan Richard hanya dijawab dengan sebuah anggukan pelan dari Revina, dengan wajah malu-malunya.


Semua yang dilakukan Richard hari ini, sungguh membuat Revina sulit untuk tidak terpesona dan tertarik padanya.


Sikap hangat dan lembut Richard, ditambah dengan pilihan menu makanan mewah yang dipesannya, dan ditutup dengan pemberian sebuah buket bunga yang cantik, membuat Revina harus mengakui, bahwa malam ini menjadi kencan buta terbaik yang pernah dia jalani, dan membuatnya tidak menyesal sudah datang ke tempat ini dan bertemu Richard.


“Jawabanmu barusan… apa itu bisa aku artikan, ke depannya aku masih memiliki kesempatan untuk bertemu denganmu lagi?” Pertanyaan sopan dari Richard, sungguh membuat jantung Revina berdetak cukup kencang malam ini.


“Aku akan sangat senang, bahkan bahagia kalau masih diberikan kesempatan untuk bertemu denganmu lagi. Dan jika mungkin… berkencan denganmu….” Wajah Revina kembali memerah mendengar perkataan Richard.


“Ah… maaf… mungkin aku terlalu terburu-buru. Itu semua aku lakukan karena aku tidak ingin kehilangan kesempatan untuk kitab isa lebih dekat. Seperti yang kamu tahu, mungkin mamamu sudah menceritakan padamu. Aku sengaja mengikuti keinginan mamaku untuk melakukan kencan buta, karena aku tidak mau terlalu lama dalam urusan mencari jodoh.” Richard berkata sambil memberikan tanda kepada pelayan untuk memberikan bill kepadanya.


(Bill merupakan sebuah nota yang berisikan tagihan dari semua makanan dan minuman yang telah dipesan di café atau restoran tersebut).


“Bagiku, jika kita berdua sudah merasa cocok, kenapa harus ditunda-tunda lagi? Aku orang yang cukup sibuk, sehingga tidak banyak waktu untuk bertemu dengan para wanita dan memilih sendiri calon istriku. Karena itu, aku mempercayakan pilihanku kepada para orangtua, yang aku yakin, mereka sudah lebih berpengalaman dan akan memberikanku pilihan yang terbaik yang mereka bisa.” Richard melanjutkan bicaranya.


“Dari awal, aku sudah mengatakan pada mama… jika aku tertarik dengan teman kencan butaku, aku tidak akan menunda lama untuk berkencan dengannya, meskipun untuk pernikahan, kita bisa bicarakan lebih lanjut. Kita coba menjalin hubungan serius dulu sebelum masuk ke jenjang pernikahan. Mungkin setelah setahun, dua tahun kita bersama, kita bisa memutuskan apa kita akan melanjutkan ke jenjang pernikahan.” Kata-kata Richard yang bagi Revina terdengar sangat bijaksana, membuat Revina terdiam sesaat.


Jika menuruti keinginannya untuk bisa mendapatkan seorang suami yang kaya raya, rasanya Revina ingin sekali langsung menyetujui usul dari Richard.


Tapi begitu Revina ingat tentang sosok Dani yang sudah menjadi kekasihnya, membuat Revina merasa sedikit ragu, karena bagaimanapun, jika itu tentang cinta, Revina tahu dia mencintai Dani.


Dan keraguan di wajah Revina, ternyata bisa terbaca oleh Richard, yang langsung tersenyum, sambil tangannya memberikan sebuah black card di nampan yang disodorkan oleh pelayan, dimana disana terletak bill yang tadi diminta oleh Richard.


Mau tidak mau, mata Revina yang melihat adanya black card itu, langsung menahan nafasnya, namun berusaha untuk tidak diketahui oleh Richard bahwa hatinya cukup bergejolak saat melihat bagaimana Richard mengeluarkan black card itu.


(Black Card adalah kartu kredit tanpa limit yang diberikan secara khusus kepada seseorang yang dijamin kekayaannya untuk mendapat beberapa privilege.


American Express Centurion Mastercard dinobatkan menjadi black card paling eksklusif di dunia dengan biaya tahunan mencapai US$5.000/tahun (Rp 71,7 juta). Kartu ini ditujukan untuk nasabah yang berbelanja dengan intensitas tinggi dan menginginkan akses eksklusif dan layanan tingkat atas.


Adapun syarat memiliki black card yakni telah menjadi nasabah American Express dan aktif menggunakan kartu kredit selama minimal satu tahun, memiliki pengeluaran minimal USD250,000 atau setara Rp3,6 miliar per tahun namun semakin banyak pengeluaran maka semakin besar kemungkinan Anda diundang untuk memiliki black card.


Pemilik Black Card dapat menikmati layanan pramutamu perjalanan mewah, akses gratis ke majalan mewah, akses ruang VIP, akses tak ternilai, tidak ada biaya transaksi di luar negeri, dan sebagainya).


“Kamu boleh memikirkannya pelan-pelan. Tapi paling tidak, aku sudah berusaha menyampaikan apa yang aku pikirkan malam ini, agar kamu mengeri perasaanku, yang sejak awal tadi sudah tertarik apdamu, dan ingin menjalin hubungan yang serius denganmu. Aku akan menunggu jawabanmu untuk rencana kita selanjutnya.” Richard berkata sambil tersenyum, tanpa adanya wajah kecewa atau marah karena Revina yang terlihat ragu untuk menjawab, membuat hati Revina berdesir karena sikap Richard itu.


Dia benar-benar laki-laki yang sangat baik, yang sangat sayang untuk dilewatkan. Tapi… bagaimana dengan Dani? Aku tidak bisa serta merta langsung melepaskan Dani yang juga begitu baik dan perhatian padaku, meskipun dengan cara yang berbeda, dan cara yang tidak menghabiskan banyak uang tentunya. Akh… benar-benar membuatku pusing. Lebih baik seperti kata Richard, aku memikirkannya lebih dahulu beberapa waktu ini.


Revina berkata dalam hati sambil memandang ke arah Richard yang tampak dengan sabar menunggunya untuk menaggapi perkataannya.


“Aku senang sekali mendengar apa yang kamu katakan. Aku juga merasa tersanjung karena itu. Tapi, ijinkan aku untuk memikirkannya beberapa waktu ini… Aku…”


“Tidak masalah, tenang saja Revina, jangan merasa tertekan dan bingung. Lagipula, ini bukan jawaban apakah kamu mau menjadi istriku. Kita mau memulainya dengan cara yang tidak terburu-buru. Aku meminta kamu untuk memberiku kesempatan untuk menjadi kekasihmu. Aku akan menunggu jawabanmu. Kebetulan sebulan ini, aku harus pergi ke Eropa untuk mengurus bisnisku di sana. Jadi kamu akan memiliki cukup waktu untuk berpikir.” Perkataan Richard membuat Revina semakin merasa kagum pada laki-laki tampan itu.


“Ooo, terimakasih banyak untuk pengertianmu Richard.” Revina berkata sambil tersenyum.


“Oke, kalau begitu kita bisa pulang sekarang. Tidak bagus untuk seorang gadis pulang terlalu larut malam.” Lagi-lagi… kata-kata Richard yang diucapkannya sambil mengambil kembali black card miliknya aygn disodorkan oleh pelayan, membuat Revina kembali terkagum-kagum pada sosok Richard.


“Revina, kalau boleh, aku ingin mengantarmu pulang ke rumah, agar aku bsia bertemu kedua orangtuamu dan menyapa mereka. Menyerahkan kembali secara pirbadi putrinya yang cantik, yang sudah menemaniku makan malam hari ini.” Richard berkata sambil bangkit dari duduknya, dan bergegas ke arah Revina, dan membantu Revina bangkit berdiri dari duduknya.


“Tapi aku tadi membawa mobil sendiri.” Revina berkata dengan suara terdengar ragu, menunjukkan dengan jelas kalau sebenarnya dia tidak keberatan dengan rencana Richard mengantarnya pulang, hanya saja dia tadi datang ke tempat ini dengan mengendarai mobilnya sendiri.


“Tenang saja, aku akan meminta sopir pribadiku untuk mengantar mobilmu pulang ke rumah.” Richard segera menawarkan solusi yang akhirnya tidak bisa ditolak oleh Revina.