Be My SUPERHERO

Be My SUPERHERO
KUNJUNGAN DANI



“Ma, untuk saat ini, tidak ada cara lain untuk kita bisa mengembaikan semuanya seperti semula.” Revina yang kondisi tubuhnya sudah mulai membaik, berkata sambil duduk berselonjor di atas tempat tidur pasien yang ada di ruang rawat inapnya.


“Tapi idemu sungguh tidak masuk akal. Dan mama tidak akan pernah melakukan apa yang kamu katakan barusan.” Mona berkata dengan wajah terliaht emosi.


Beberapa waktu sebelumnya, Revina meminta Mona untuk menjual beberapa aset yang mereka miliki, termasuk usaha mall mereka.


Revina berpikir untuk bisa menyelamatkan rumah yang mereka tinggali sekarang, salah satu cara mudah, tercepat dan memungkinkan adalah menjual aset yang mereka miliki.


(Dikutip dari Investopedia, aset adalah sumber daya dnegan nilai ekonomi yang dimiliki atau dikendalikan olej individu, perusahaan, atau negara dengan harapan akan memberikan manfaat di masa depan.


Sementara dalam akuntansi, pengertian asset adalah seabgai kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan ketika melakukan prose operainya. Dalam prkatek akuntansi, nilai asset suatu perusahaan akan terus diperbaharui dan harus dilaporkan dalam laporan keuangan.


Aset adalah komponen penting karena menunjang berjalannya aktivitas perusahaan. Tanpa adanya aset, perusahaan tidak akan bisa menjalankan roda bisnisnya sama sekali.


Contoh aset antara lain adalah persediaan, uang tunai, gedung bangunan, mesin, peralatan, hak paten, dan lain sebagainya).


Dengan asset yang mereka punyai sekarang, dimana tanah maupun gedung usaha mall mereka merupakan milik pribadi atas nama Raksa, jika itu benar-benar dijual, Revina berpikir kalau mereka akan memiliki sisa uang untuk bisa memulai usaha yang lain, meskipun akan butuh waktu untuk membuat usaha mereka membesar, yang mungkin tidak akan sebentar.


Akan tetapi bagi Revina, itu akan lebih baik daripada mereka kehilangan tempat tinggal, tidak memiliki uang sepeserpun untuk tetap menjalankan usaha mall mereka.


Belum lagi selain hutang untuk uang muka apartemen itu, Mona dan Raksa sebenarnya juga memiliki hutang untuk menjalankan usaha mereka, sehingga setiap bulannya, mereka harus menyetor ke pihak bank untuk cicilan hutang mereka.


Dan Mona merasa tidak rela begitu Revina menyampaikan idenya itu, karena itu artinya, ke depannya Mona harus membiasakan diri untuk melakukan penghematan besar-besaran terhadap gaya hidupnya, membatasi pengeluarannya.


Padahal sejak uang bulanan Chiara tidak lagi dia trima 2 tahun lalu, sampai sekarang Mona masih saja merasa kesulitan untuk mengendalikan dirinya agar tidak terseret arus, mengikuti teman-teman sosialitanya untuk tidak memerkan kekayaan mereka.


“Kamu jangan berpikir semudah itu Revina! Bagaimana bisa kamu memberikan ide gila seperti itu. Apa kata orang, apalagi teman-teman mama kalau sampai mendengar mama menjula usaha mall kita. Mau ditaruh dimana muka mama?” Mona berkata dengan suara sinis, benar-benar menunjukkan wajah tidak rela jika suatu ketika ada orang-orang yang membicarakan tentang itu dan meremehkannya.


“Kalau begitu Mama pilih saja salah satu, karena kita hanya punya dua pilihan sekarang. Menjual aset perusahaan kita dan memulai usaha yang lebih kecil, atau kita pasrahkan hidup kita pada pihak bank yang pasti akan menyeret kita ke penjara jika kita tidak bisa membayar cicilan hutang kita. Dan ujung-ujungnya, pasti pihak bank akan tetap membekukan semua aset kita, bahkan melalangnya. Dan Mama tahu, jika pihak bank yang melelangnya, bisa jadi harga jual yang kita dapatkan jauh di bawah harga pasaran.” Dengan mencoba untuk bersikap tenang, Revina berkata kepada Mona yang langsung terbeliak.


Mona ingin sekali membantah kata-kata Revina, sayangnya semua perkataan anaknya itu benar adanya.


“Idemu benar-benar tidak masuk akal!” Akhirnya dengan wajah kesal, Mona berteriak dan berjalan meninggalkan Revina yang hanya bisa menarik nafas panjang di tempatnya.


Mendengar bagaimana Mona keluar dari kamar tempatnya dirawat dengan sedikit membanting pintu, membuat Revina menatap kepergian mamanya dengan mata berkaca-kaca.


“Aku hanya berusaha melakukan hal terbaik yang aku bisa, untuk sekedar memperbaiki kesalahan kita di masa lalu ma.” Revina bergumam pelan, sebelum akhirnya memejamkan matanya, dengan pikiran yang mulai memikirkan peristiwa-peristiwa yang berapa lama ini sudah terjadi dalam hidupnya.


Sebuah ketukan pelan di pintu kamarnya membuat Revina langsung tersadar dari lamunannya, dan langsung menoleh ke arah pintu.


Namun begitu Revina melihat muncul pria yang muncul dari balik pintu yang baru saja dibukanya dengan gerakan hati-hati, seolah begitu takut mengganggu pasien yang sedang dirawat di dalam sana, Revina langsung membuang wajahnya ke samping.


Sosok Dani muncul dengan membawa sekeranjang buah-buahan di tangannya, dan berjalan pelan ke arah Revina yang mengalihkan wajahnya, sehingga Dani tidak bisa melihat wajah Revina.


Revina bukannya tidak ingin melihat Dani, tapi dia terlalu malu untuk berhadapan dengan Dani, setelah semua hal yang terjadi diantara mereka berdua.


Semua ingatan itu, termasuk bagaimana rasa cintanya pada Dani yang dengan sengaja dia buang dan sia-siakan, membuat tanpa bisa dicegah oleh Revina, airmata mulai turun membasahi pipinya karena penyesalan yang begitu dalam atas semua yang sudah diperbuatnya pada Dani, yang sampai detik ini, sebenarnya masih dicintainya.


Dan itu membuat Revina semakin ingin menyembunyikan wajahnya dari jangkauan mata Dani.


Rasanya Revina tidak sanggup jika harus membiarkan Dani melihat wajahnya yang berantakan karena beban dari semua masalah yang sedang terjadi, tidak ingin Dani melihat kondisinya yang sedang terpuruk, di titik paling rendah di kehidupannya.